Agama dan Pendidikan

Keluarga Besar Poluan-Tulangow Serahkan Benda Bersejarah Ini ke GMIM Schwarz Sentrum Langowan

Keluarga Besar Poluan-Tulangow Serahkan Benda Bersejarah Ini ke GMIM Schwarz Sentrum Langowan
Jeffry Pay (kanan) dan lemari Johann Gotlieb Schwarz saat dibawa ke GMIM Schwarz Sentrum Langowan (kiri), Selasa (30/11/2021)

Langowan, BeritaManado.com — Keluarga besar Poluan-Tulangow akhirnya menyerahkan sebuah benda bersejarah yang diyakini merup[akan milik dari Penginjil Johann Gottlieb Schwarz yang pernah hidup dan menetap di Langowan sekitar tahun 1831 – 1859.

Koordinator Tim Aset Peninggalan Keluarga Besar Poluan-Tulangow Jeffry Pay kepada BeritaManado.com, Selasa (30/11/2021) mengatakan bahwa penyerahan lemari yang terbuat dari kayu tersebut merupakan panggilan moral dalam menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah dari keluarga penginjil Johann Gottlieb Schwarz.

“Apa yang dilakukan Keluarga Besar Poluan-Tulangow ini akan semakin lengkap dengan kehadiran patung Johann Gottlieb Schwarz yang baru, sumbangan dari Bapak Prabowo Subianto,” ungkap Jeffry Pay.

Menurut Jeffry Pay, Langowan dipilih Johann Gottlieb Schwarz sebagai ladang pelayanan penginjilan yang pada tahun 1800-an masih cukup banyak orang menganut kepercayaan alifuru atau belum menganut Kristen.

Sebelumnya diberitakan bahwa, peninggalan benda-benda bersejarah seringkali terabaikan karena di kalangan orang Minahasa masih sedikit komunitas yang peduli dengan nilai-nilai sejarah yang menyebabkan generasi yang baru kehilangan jejak untuk mempelajarimasa lampau.

Kehadiran Penginjil Johann Gottlieb Shwarz dan Johan Riedel semenjak keduanya menginjakkan kakinya di Tanah Minahasa pada 12 Juni 1831 merupakan suatu anugerah terindah sebagai masa pencerahan bagi orang Minahasa.

Kedua orang penginjil ini memang sangat besar jasanya bagi perubahan keberadaban orang Minahasa karena telah membaktikan dirinya sampai mati di Tanah Minahasa bersama juga dengan penginjil-penginjil lainnya yang datang dari Eropa di abad ke-19.

Nama Johan Schwarz dan Johan Riedel sangat melekat di hati sanubari orang Minahasa dan sudah tentu apa yang menjadi karya mereka akan selalu dikenang.

Khusus di Kota Langowan, nama Schwarz sudah sangat melegenda, sehingga tidak mengherankan di jantung kota masyarakat Langowan telah membangun sebuah monument yang disebut Monumen Schwarz yang berdiri tegak di depan Gereja GMIM Sentrum Langowan.

Gereja tersebut adalah salahs atu karya dari Schwarz sendiri dan sejak ia menginjakkan kakinya di Langowan, gereja itulah yang menjadi pusat pelayanannya.

Konon ceritanya, di lokasi Gereja Sentrum dulunya merupakan pusat pemujaan (ritual) bagi para penganut agama suku Minahasa yang masih percaya kepada berhala-berhala yang menggunakan kekuatan opo-opo.

Dari sudut pandang lain, Schwarz meninggalkan jejak berupa benda-benda yang dahulu pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari karya pelayanan penginjilannya di Langowan dan Minahasa pada umumnya.

Sebut saja sebuah lemari pakain yang terbuat dari kayu yang kini tersimpan dalam kondisi baik di sebuah rumah di Desa Noongan Kecamatan Langowan Barat, tepatnya di kediaman milik Opa Jan Poluan-Tulangow.

Menurut penuturan Opa Jan Poluan (92 tahun), bahwa lemari tersebut sangat berharga karena pernah dipakai oleh keluarga Schwarz, dimana pada waktu ayah dari Opa Jan yaitu Pontus Poluan masih hidup pernah berpesan agar lemari tersebut dijaga dengan baik.

Opa Jan juga mengatakan bahwa Keluarga Pontus-Tulangow bertalian keluarga dengan seorang Pendeta Manopo yang dulu dikenal dengan sebutan Penlong (Penolong Injil), yang mana ibu dari Pontus Poluan marganya Manopo (Keluarga Manopo-Ticoalu), sementara Pendeta Manopo merupakan sepupuh dari Pontus Poluan.

Waktu Perang Dunia ke-2 (1942-1945) di Minahasa terjadi peperangan antara sekutu (pimpinan Amerika Serikat) dengan Jepang.

Saat terjadi peperangan pada tahun 1944, ada banyak warga Minahasa yang menyingkir ke hutan, termasuk Keluarga Pontus Poluan-Tulangow yang terpaksa mengungsi di perkebunan milik mereka yang ada di Manimporok, termasuk keluarga Pendeta Mnaopo.

Untukberada dalam satu lokasi pengungsian, Pendeta Manopo meminta kepada Pontus Poluan untuk bisa menyelamatkan barang berharga milik Schwarz yang saatitu berada di rumah Pendeta di Kompleks Gereja Sentrum (saat ini berdiri Bank BRI dan Alfamart) di depan Kantor Camat Langowan yang lama.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara