
Manado — Duka mendalam kini tengah menyelimuti para atlet paralayang Sulawesi Utara.
Putra-putra terbaik Sulut turut menjadi korban meninggal dunia atas bencana alam gempa bumi dan tsunami yang menimpa Palu, Donggala dan Sigi.
Petra Mandagi, Gleen Mononuntu dan Frangky Kowaas adalah tiga atlet paralayang andalan Sulut yang akan selalu dikenang.
Frangky ‘Kengkang’ Kowaas menjadi korban terakhir yang ditemukan sesudah kedua rekannya.
Meninggalnya Frangky pun menjadi pukulan tersendiri bagi para atlet paralayang dibawah didikannya.
Salah satunya Denny Sangkaen yang juga menjabat Kepala Bidang (Kabid) Perbendaharaan Badan Pengelola Keuangan Dan Aset Daerah Kota Manado.
Kepada BeritaManado.com, Denny menceritakan kesan pertama kali terjun di dunia paralayang, dimana Frangky Kowaas adalah orang yang selalu memberi semangat dan mendorong Denny untuk melakukan yang terbaik.
“Waktu terbang pertama kali, coach, om Frangky dengan penuh semangat bilang yaaa, go! go! Lakukan yang terbaik. Suara itu sungguh masih berasa ada dan tidak akan pernah dilupakan,” kenang Denny.
Dimata Denny, Franky Kowaas merupakan orangtua, senior, guru hingga menjadi orangtua baptis dari anak Denny, Eyo.
Meninggalnya Frangky dan Petra serta Gleen pun, bagi Denny dan rekan-rekan atlet memang luka tapi juga meninggalkan warisan, yaitu meneruskan perjuangan ketiganya di langit dengan rasa bangga.
“Terbanglah lebih tinggi, tak ada lagi colapse, stall, hard landing. Terbaringlah dalam keabadian,” kata Denny.
(srisurya)
