
Tondano – Bupati Minahasa Jantje Wowiling Sajow nampaknya mulai digoyang dengan sejumlah pemberitaan bernada miring. Kamis (26/6/2014) kemarin memberikan klarifikasi terhadap sejumlah pemberitaan tentang dirinya dari sebuah media. Kepada BeritaManado, Bupati Sajow memberikan penjelasan tentang hal-hal yang disangkakan. Menurutnya, pemberitaan tersebut sangat kental ada mitif politik dibaliknya.
Soal DAK 2007, Sajow menjelaskan bahwa sedang ditangani oleh Polres Minahasa. Hasil audit BPKP sudah ada dan dinyatakan selesai. Saat ini tinggal menunggu proses selanjutnya. Kemudian mengenai galian C yang menggunakan batu-batu di sekitar lokasi proyek dinilai merusak lingkungan yang katanya dilindungi oleh bupati atau pemerintah. Hal itu merupakan berita yang lucu dan tidak masuk akal, karena urusan kontraktor bukan urusan bupati.
Pada kenyataannya, masyarakat Kecamatan Tombulu sangat bersyukur dan terbantukan dengan pembangunan akses jalan baru di Ring Road Koka – Kembes. Bahkan tahun 2015 mendatang direncanakan akan diteruskan hingga Rumengkor – Suluan – Tondano. Akses tersebut bakal menjadi jalan utama dari Tondano ke Manado. Jalan ini nantinya proyek jalan tersebut selesai, maka jarang Tondano – Manado hanya ditempuh dalam 25 menit saja.
Mengenai SKB yang dibangun di atas tanah milik bupati itu benar adanya. Tanah seluas hampir 2000 M2 sudah dihibahkan Keluarga Sajow-Singkoh untuk pembangunan TK Pembina, dan tahu 2013 dibangun SKB Tombulu di lokasi yang sama. Seharusnya hal itu disyukuri, dimana ada orang yang tidak memperhitungkan nilai dan harga tanah, karena statusnya dihibahkan kepada pemerintah dengan tulus untuk membangun pendidikan di Kecamatan tombulu.
Mengenai dampak pembanguna jalan di Ring Road-Koka-Kembers-Rumengkor-Suluan Tondano, hal itu bakal berdampak pada ekonomi yang luar biasa dalam hal kenaikan harga tanah milik masyarakat. Jika lima tahun lalu tanah pekarangan di Desa Koka harga masih 75.000/m2, maka sejak akses tersebut dibuka, harga sudah menyentuh angka Rp 300.000/m2.
Saya melihat ini ada muatan politiknya. Mungkin perlu revolusi mental untuk memberi aspirasi yang baik dan mengkritik jika ada yang salah. Sebagai bupati, saya hanya bisa berdoa, kiranya Tuhan dapat menyatakan kebenaran. 16 bulan non aktif sebagai wakil bupati ternyata kebenaran datang menghampiri. Jika bupati hanya memikirkan uang, harusnya dengan kekuasaan yang ada bisa mengambil dana pembebasan lahan untuk sekolah. Saya bisa saja mengakali APBD untuk membayar ganti rugi lahan, tapi saya tidak mau melakukannya – Jantje W Sajow, Bupati Minahasa
