Pilar Demokrasi (Kerjasama dengan Beritamanado dengan KBR68H)
“Artikel ini sebelumnya disiarkan pada program Pilar Demokrasi KBR68H. Simak siarannya setiap Senin, pukul 20.00-21.00 WIB di 89,2 FM Green Radio”
LSI (Lembaga Survei Indonesia) dan Kompas sedang mengadakan survei mencari capres atau calon pemimpin skala nasional yang berkualitas. Responden yang dipilih yang dianggap berpengatahuan cukup (well informed), dengan asumsi mereka mengetahui tokoh-tokoh potensial, walaupun kurang populer.
Kelak tokoh yang banyak dipilih, akan dipublikasikan oleh media, dengan harapan akan “dibeli” (baca: direkrut) oleh parpol. Ini salah satu cara menerobos kebuntuan rekrutmen kader-kader berkualitas oleh parpol. Soal mencari pemimpin yang berkualitas inilah, yang menjadi topik bahasan dalam program Pilar Demokrasi, yang diselenggarakan KBR68H dan Tempo TV. Diskusi kali ini mengundang dua narasumber, yaitu Burhanuddin Muhtadi (Direktur Program LSI), danIkrar Nusa Bakti (peneliti senior bidang politik LIPI)
Menurut Burhan, demokrasi yang baik salah satunya ditandai partai politik yang sehat. Selama ini partai politik sakit karena ada yang macet, terutama soal rekrutmen dan sumber pejabat publik. Burhan masih berharap, partai politiksebagai instrumen penting demokrasi, mengingat partai politik selama ini jadi tumpuan dalam rekrutmen capres, caleg, cagub, dan jabatan yang lain. “Selama tiga pemilu pascareformasi, kita dihadapkan pada kenyataan, partai politik sebagaisumber utama pejabat justru mengalami kemampatan luar biasa, ini yang perlu diterobos,” tambah Burhan.
Ikrar sangat mengapresiasi upaya membantu partai politik untuk menjalankan fungsi rekrutmen, khususnya untuk calon pemimpin. Namun Ikrar mengingatkan, bahwa kita baru 12 tahun berdemokrasi secara riil, karena itu proses politik masih terus bergulir. “Yang harus kita perjuangkan, jangan sampai ada depolitisasi berlangsung kembali pada era OrdeBaru. Karena itu saya tidak sepakat dengan calon independen, partai politik sebagai soko guru demokrasi perlu dibantu untuk menjadi matang,” ujar Ikrar.
Burhan menjelaskan sedikit soal tujuan survei, kalau kita melakukan survei terhadap orang yang melek informasi, pasti hasilnya berbeda dengan survei terhadap masyarakat umum, karena tingkat informasi terhadap calon-calon presiden atau gubernur, relatif terbatas. Sebagian besar mengenal figur-figur baru. Tetapi baik yang elite maupun yang massa,memiliki kesamaan kriteria. “Calon pemimpin harus punya integritas, harus punya kapasitas dan juga aksesibilitas.Karena itu perlu dilakukan pendidikan pemilih, media juga perlu bertanggung jawab, juga civil society dan kampus,” ujar Burhan.
Menurut Ikrar, calon pemimpin harus memiliki visi internasional. Sebaliknya, kalau nasionalismenya sempit maka akan menimbulkan ketakutan dari negara di kawasan Asia Tenggara seperti Brunei, Malaysia dan Singapore yang punya sejarah konfrontasi dengan Indonesia. Gabungan nasionalisme dan internasionalisme itu penting. “Jangan sampai tidak memahami konteks internasional dalam percaturan politik, itu konyol sekali. Sementara di sisi lain, nasionalisme kita sebenarnya sedang di ujung tanduk ” kata Ikrar.
Burhan menghimbau jangan ada sinisme dari kelompok intelektual, kalangan LSM, dan media terhadap parpol. Kita jangan lupa, parpol adalah pilar penting untuk memperbaiki keadaan sekarang. Masih menurut Burhan, kalau ada bakat, masuklah ke parpol. “Hasil survei di kelompok anak muda, sedikit sekali minat kelompok muda kita yang masuk keparpol. Padahal parpol yang menentukan hitam-putihnya bangsa, apakah mungkin demokrasi tanpa parpol, untuk saat ini tidak mungkin,” tegas Burhan. (*)
