
Bitung, Beritamanado.com – Kualitas beras Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19 yang dibagikan Pemkot Bitung dikeluhkan sejumlah penerima.
Dan keluhan itu diangkat salah satu anggota DPRD Kota Bitung, Nabsar Badoa dalam Rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat I dalam Rangka Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kota Bitung tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Bitung 2019 beberapa waktu lalu.
BACA JUGA: Nabsar Puji Penyaluran Bansos Covid-19, Tapi Cara Memasak Beras Bantuan Lupa Disosialisasikan
Menanggapi keluhan itu, Kepala BPBD Pemkot Bitung, Rudy Wongkar menyatakan beras Bansos yang disalurkan adalah beras dengan klasifikasi medium.
“Soal memasak, itu tergantung selera dari masing-masing, tinggal mengukur banyaknya air, apakah banyak atau kurang,” kata Rudy, Jumat (05/06/2020).
Dihubungi terpisah, Sekretaris BPBD Pemkot Bitung, Alfindo Mongkol menjelaskan, alasan pihaknya memilih beras medium sesuai dengan standar dan aturan pemberian pangan non tunai.
“Mengacu ke aturan itu, jumlah paket bantuan tidak boleh lebih dari Rp200 ribu/kepala keluarga. Makanya kami memilih jenis medium dengan harga Rp8.500/kg,” kata Alfindo.
Dengan memilih beras medium kata dia, maka pihaknya masih bisa memasukkan ikan kaleng dengaan mie instan dalam paket Bansos Covid-19.
“Kalau memilih jenis Premium maka otomatis salah satu item paket bantuan akan dihilangkan karena biaya sudah melebihi ketentuan yakni hanya Rp200 ribu per kepala keluarga,” katanya.
Sementara itu, dari penelusuran, sejumlah Kabupaten/kota di Sulut lebih memilih jenis beras premium untuk Bansos Covid-19 dengan alasan kualitas jauh lebih baik dibandingkan jenis medium.
Soal harga, mengacu ke harga resmi Bulog, beras medium curah Rp420 ribu/50 kg dan beras premium curah A Rp512.500/50 kg.
Lalu apa perbedaan beras premium dan medium?
Adapun perbedaan beras premium dan medium adalah;
Pertama, segi warna. Beras medium memiliki warna yang lebih semu (buram) dibandingkan dengan beras premium.
Kedua, dari sisi butiran yang patah (broken). Beras medium memiliki tingkat kepatahan lebih tinggi yakni di atas 10%. Sedangkan beras premium yang tingkat kepatahannya hanya 0-10%.
Ketiga, kerap kali ditemukan pada beras medium bulir beras yang bercampur dengan kotoran, seperti batu atau gabah. Sebaliknya, kotoran-kotoran semacam itu tidak ditemukan di beras premium.
Keempat, dari kualitas nasi yang dihasilkan, beras premium memiliki tampilan nasi yang lebih pulen dan rasa yang lebih nikmat dari beras medium.
(abinenobm)
