Opini

Ini 3 Kunci Utama Kesuksesan Pariwisata

Amenitas berhubungan dengan fasilitas pendukung pariwisata. Hotel, resort, vila sampai home stay adalah bagian dari amenitas.

Tersedianya hotel-hotel berkualitas sampai ke home stay kelas back-packer akan menjamin suatu daerah layak dikunjungi mulai dari wisatawan kelas bawah sampai wisatawan super kaya.

Rumah sakit bertaraf internasional menjadi bagian penting dari amenitas. Contoh kasus, banyak turis Jepang batal berkunjung ke Wakatobi di Sulawesi Tenggara karena ketiadaan fasilitas rumah sakit yang mumpuni.

Pusat perbelanjaan juga masuk dalam kategori amenitas. Wisatawan Asia umumnya sangat tertarik dengan shopping. Apalagi wisatawan China. Dengan jumlah kunjungan wisatawan China yang makin bertambah, lebih dari 1 juta kunjungan ke Indonesia per tahun, penyediaan pusat perbelanjaan di destinasi pariwisata makin diperlukan.

Adanya fasilitas rumah ibadah atau tempat sembahyang menjadi salah satu faktor penentu juga dalam amenitas. Ketersediaan musholah misalnya harus dipastikan ada di objek wisata untuk wisatawan Muslim yang wajib berdoa 5 waktu.

Tak kalah penting dari amenitas adalah kuliner. Ketersediaan rumah makan yang layak, bersih dan enak merupakan keharusan. Makanan yang dapat dinikmati lidah orang barat maupun makanan halal untuk Muslim harus dipastikan tersedia. Bahkan harus dibedakan mana yang halal dan yang tidak.

3. Akses, Aksesibilitas (Accessibility)

Menurut Darcy and Dickson (2009), aksesibilitas dalam pariwisata adalah upaya yang dilakukan terus menerus untuk memastikan baik destinasi, produk ataupun layanan pariwisata dapak diakses oleh semua orang berapapun umurnya atau apapun keterbatasan fisiknya.

Singkatnya, aksesibilitas dalam pariwisata bicara tentang Akses, keterjangkauan. Untuk ke satu destinasi wisata, aksesnya bagaimana, dapat dikunjungi tidak?

Akses berhubungan dengan sarana dan prasarana transportasi. Mulai dari bandara (internasional atau hanya domestik), ketersediaan penerbangan, pelabuhan, ketersediaan kapal, prasarana jalan (jalan tol, jalan lebar untuk bis atau hanya jalan setapak), dll.

Contoh pentingnya akses; pariwisata Toraja yang sempat booming di era 1980-an mulai meredup di akhir 1990-an karena akses terganggu. Jalur darat 8 jam dari Makassar ke Makale terasa makin berat dengan jalan rusak. Untunglah sekarang pariwisata Toraja menggeliat lagi dengan adanya destinasi wisata baru seperti Patung Yesus.

Contoh sebaliknya terjadi di Sulawesi Utara. Sejak Olly Dondokambey menjadi Gubernur Sulut (2016) dan Ronny F. Sompie menjadi Dirjen Imigrasi, bandara Sam Ratulangie di Manado langsung ditetapkan sebagai airport international. Penerbangan langsung dari luar negeri pun terbuka.

Sepanjang bulan Januari hingga Oktober 2017, sebagai contoh, 422 penerbangan internasional telah mendarat di bandara Sam Ratulangie. Umumnya penerbangan itu dari 9 kota berbeda di China.

Tak heran jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulut melonjak hampir 6 kali lipat dalam waktu 3 tahun. Tahun 2015 hanya 20.000 orang Bandingkan dengan tahun 2018 melonjak jadi 120.000 kunjungan wisman ke Sulut.

Jadi, jika ingin pariwisata sukses, 3 hal ini harus diperhatikan: Atraksi, Amenitas dan Akses.

Oleh: Yerry Tawalujan
(Penulis adalah Ketua Umum DPN Gerakan Nasional Sadar Wisata – GERNASTA & Ketua Umum DPP Duta Wisata Sulawesi Utara – DWS)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara