
Manado – Kegaduhan akan diberlakukannya jalur satu arah (One Way Traffic) yang dirasakan masyarakat dan supir ankutan kota (Angkot) Kota Manado, menimbulkan protes dari berbagai pihak.
Kini, protes tersebut lahir dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Manado.
Melalui Rifaldi Rahalus Ketua Umum, organisasi Hijau Hitam (HMI-red) ini, mengatakan, demo yang mewarnai Manado belakangan ini, bukti kegaduhan masyarakat atas diberlakukannya One Way Traffic.
“Diberlakukannya One Way Traffic membuat kemacetan berkepanjangan menjadi langganan di Kota Manado, khususnya di bagian pusat perbelanjaan (Zero Point) juga penghasilan Supir Angkot terpasung,” tungkasnya, Kamis (25/2/2016).
Rifaldi menjelaskan, aksi mereka lakukan bersama-sama, bentuk protes, pemberlakuan jalur tersebut tidak berhasil, dan tak membuat masyarakat sejahtera.
“Pemerintah harus cepat mengembalikan jalur, jika supir-supir angkot protes akan berdampak pada keresahan masyarkat,” tutur Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (Fispol) Unsrat ini.
Tak hanya itu saja, Rifaldi menghimbau, agar angota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Manado bisa turun kejalan dan melihat penderitaan masyarakat terkhusus Supir angkot atas diberlakukannay One Way Traffic.
“Sebagai Wakil Rakyat, Anggota legislatif Kota Manado harus turun dan melihat sendiri kesusahan para masyarkat atas diberlakukannya jalur satu arah tersebut,” kata Aldi sapaan akrabnya.
Dirinya menambahkan, ini bentuk peringatan yang dilanyangkan HMI Cabang Manado. Jika imbauan ini tak di indahkan, maka pihaknya siap menggelar aksi.
“Kami sebagai agen of change siap turun aksi jika permintaan ini tidak di indahkan oleh pemerintah daerah (Pemda),” imbaunya. (*/redaksi)

Tugu/objek zero point itu harus dihancurkan karena karena memakan badan jalan cukup besar. Lagian “zero point” tidak mempunyai nilai historis atau makna yang jelas. Tenda2 jasa raharja juga dibongkar juga. Sangat mengganggu aktifitas kendaraan bermotor. Hanya ada di tenda itu polisi2, anggota2 ddlaj duduk2 makan dan istirahat tepat di tengah jalan. “Jalur cepat” dan jalur “kendaraan pribadi” harus dibuat di tengah jalan, bukan disamping kiri/kanan karena justru disitulah banyak kendaraan pelat kuning nongkrong/antrian/berhenti dan masyarakat Manado sendiri tau bagaimana supir2 angkot tersebut sangat “dengar-dengaran” dengan peraturan2 di jalan raya.
Angkot Malalayang – Pasar 45 supaya tidak macet diperpendek jalur menjadi Angkot Malalayang – Lion Hotel Plasa dan baputar di jalan belokan pertama sebelum Mantos menuju Sario . Kemudian beking jurusan baru Angkot Lion Hotel Plasa – Pasar 45 yang nanti baputar di Zero Point