
Laporan: Syarifudin D Umar | Bitung
Cap Go Meh Bitung 2026 langsung menjadi sorotan ketika Wali Kota Bitung Hengky Honandar dan Wakil Wali Kota Randito Maringka turun langsung melepas pawai budaya di Klenteng Seng Bo Kiong, Selasa (3/3/2026). Ribuan warga memadati kawasan Kadoodan, Kecamatan Madidir, dalam suasana meriah yang sarat pesan toleransi.
Momentum ini terasa berbeda.

Di tengah dinamika isu keberagaman di berbagai daerah, Bitung justru menampilkan wajah harmoni yang kuat dan terbuka.
Festival Cap Go Meh Bitung merupakan rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Sejak pagi, masyarakat sudah berkumpul di halaman klenteng untuk menyaksikan atraksi budaya yang menjadi ciri khas perayaan tahunan tersebut.

Cap Go Meh Bitung 2026: Harmoni di Kota Pelabuhan
Pelepasan pawai oleh Hengky Honandar dan Randito Maringka bukan sekadar seremoni. Keduanya berdiri di garis depan sebagai simbol komitmen pemerintah kota dalam menjaga kerukunan umat beragama.
Acara dibuka dengan doa lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh keagamaan setempat. Momen ini mempertegas bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Bitung menjadi ruang bersama bagi seluruh warga, tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.

Cap Go Meh Bitung 2026 juga menghadirkan atraksi para Tang Shin yang diarak keliling kota. Dentuman musik tradisional, warna-warni kostum, serta iring-iringan budaya menyedot perhatian masyarakat di sepanjang rute pawai.
Tang Shin dengan ritual khasnya kembali menjadi magnet utama. Warga berjejer di tepi jalan, mengabadikan momen yang hanya hadir setahun sekali.
Hengky Honandar dan Randito Maringka Tegaskan Komitmen
Kehadiran lengkap unsur pimpinan daerah memperkuat pesan persatuan. Selain Hengky Honandar dan Randito Maringka, hadir Sekretaris Daerah Kota Bitung Ir. Ignatius Rudy Theno ST., MT., MAP.
Ketua Tim TP PKK Kota Bitung Ny. Ellen Honandar Sondak SE., Sekretaris TP PKK Ny. Jacinta Maribell Maringka Gumolong, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Bitung Ny. Nurjaya Theno Munarwin SE. juga tampak mendampingi rangkaian kegiatan.

Unsur Forkopimda, kepala OPD Pemkot Bitung, dan FKUB Kota Bitung turut hadir menyaksikan pawai Cap Go Meh Bitung. Kehadiran Forum Kerukunan Umat Beragama menjadi penegas bahwa toleransi di kota ini bukan sekadar wacana.
Bitung dikenal sebagai kota pelabuhan dengan masyarakat multietnis. Karena itu, perayaan Cap Go Meh tidak hanya dimaknai sebagai tradisi komunitas Tionghoa, tetapi sebagai perayaan budaya kota.
Dampak Sosial Cap Go Meh Bitung bagi Warga
Cap Go Meh Bitung setiap tahun konsisten menarik partisipasi luas masyarakat. Selain mempererat kohesi sosial, festival ini juga mendorong pergerakan ekonomi lokal, terutama pelaku UMKM dan sektor jasa.
Antusiasme tahun ini meningkat dengan keterlibatan langsung wali kota dan wakil wali kota dalam melepas pawai. Banyak warga menyebut kehadiran keduanya memberi rasa kebersamaan dan dukungan moral bagi komunitas Tionghoa di Bitung.

Perayaan berlangsung tertib hingga iring-iringan pawai menyelesaikan rute keliling kota. Tepuk tangan dan sorak warga mengiringi setiap rombongan yang melintas.
Di Bitung, Cap Go Meh bukan sekadar tradisi tahunan.
Ia menjadi penegasan bahwa keberagaman tetap menjadi fondasi kuat kota ini—dan pesan itu kembali ditegaskan oleh Hengky Honandar dan Randito Maringka dalam Cap Go Meh Bitung 2026.
