
Manado, BeritaManado.com — Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, secara resmi menyampaikan penjelasan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulut Tahun 2025–2044 dalam rapat paripurna DPRD Sulut.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Gubernur Yulius membeberkan arah pembangunan Sulut selama dua dekade ke depan—yang digadang-gadang akan menjadi era transformasi besar-besaran.
“RTRW bukan sekadar dokumen perencanaan, tapi panduan pembangunan Sulut yang selaras dengan nilai lokal dan arah nasional,” tegasnya dalam rapat yang dihadiri oleh jajaran DPRD, Forkopimda, pejabat daerah, serta insan pers.
Salah satu sorotan utama adalah pengembangan infrastruktur berskala besar. Tak tanggung-tanggung, rencana jalur kereta api sepanjang 315 km akan dibangun, melintasi dua kota dan dua kabupaten.
Bahkan, pengembangan Jembatan Bitung–Lembeh dan Bandara Lembeh masuk dalam agenda, mempertegas komitmen membangun konektivitas wilayah kepulauan.
Fokus pada Ekonomi, Lingkungan, dan Konektivitas
RTRW 2025–2044 ini menyentuh berbagai aspek strategis: dari pariwisata berkelanjutan, pertanian modern, hingga pengelolaan kawasan lindung dan industri ramah lingkungan. Total wilayah perencanaan mencakup ±6,4 juta hektar yang terdiri dari darat dan laut, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, taman nasional, hingga situs budaya seperti Waruga dan Benteng Amurang.
Gubernur Yulius menegaskan bahwa dokumen ini telah melewati proses panjang sejak 2018, melalui diskusi publik dan lintas sektor, demi menyerap masukan dari seluruh pemangku kepentingan.
Sembilan Kebijakan Strategis, Satu Tujuan: Sulut Maju Berkelanjutan
Dalam paparannya, Yulius membeberkan sembilan arah kebijakan strategis yang mencakup:
• Penguatan transportasi, khususnya di wilayah kepulauan.
• Pengembangan sektor pariwisata, kelautan, dan pertanian.
• Pemantapan kawasan perbatasan dan pelestarian kawasan lindung.
• Penguatan kelembagaan tata ruang.
Semua kebijakan ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari Infrastruktur ke Pendidikan dan Kesehatan
RTRW ini juga mencakup pembangunan Universitas Bogani di Bolaang Mongondow dan SMA Taruna Sulut di Minahasa, serta pengembangan Kawasan Perikanan Terpadu di Bolmut. Bahkan sektor pertambangan tak luput dari perhatian, dengan penekanan pada pemurnian mineral di dalam negeri dan pengelolaan lingkungan pascatambang.
Menutup sambutannya dengan gaya khas, Gubernur Yulius melontarkan pantun yang langsung mencairkan suasana:
“Beli cakwe di Pasar Tongkaina,
Dimakan saat masih panas-panas.
RTRW bukan sekedar dokumen rencana,
Melainkan untuk pembangunan yang selaras.”
Dengan harapan besar agar Ranperda RTRW ini dapat disahkan sebelum RPJMD 2025–2029, Gubernur meminta DPRD untuk menseriusi proses pembahasan agar arah pembangunan Sulut semakin jelas dan terukur.
(Redaksi)
