Pengamat Politik Sulawesi Utara, Josef Kairupan menilai yang terjadi di Sulawesi Utara (Sulut), ada kecenderungan kader dan caleg PDIP tidak maksimal mengkampanyekan Ganjar.
“Ini dibuktikan suara-suara caleg PDIP tidak linear dengan suara Ganjar, sehingga terjadi anomali,” jelasnya.
Rendahnya elektabilitas Ganjar di Sulut, menurut dia, juga tidak lepas dari pemberitaan di media sosial.
“Pemberitaan yang diviralkan tentang karakter Ganjar itu sendiri yang sombong, angkuh, sok berkuasa, dan suka merendahkan orang lain selama masa kampanye maupun masa sebelum dan sesudah kampanye, mendatangkan efek negatif,” ungkap Josef.
Lanjut dia, karena merasa jumawa didukung oleh Partai besar dan berkuasa yakin bakal menang, sehingga masih tetap ‘ngeyel’ saat suaranya justru di posisi ketiga masih mengatakan “kalian percaya suara saya segitu”.
“Di faktor lain rekam jejaknya, prestasinya, kinerjanya selama menjabat Gubernur Jawa Tengah tidak signifikan menunjukkan nilai positif,” ungkap dia.
Lanjut dia, diksi-diksi negatif yang sifatnya merendahkan dan mendiskriminasi paslon nomor dua yang dilontarkan oleh Ganjar dan para elit PDIP itu sendiri semakin menambah simpati rakyat kepada paslon nomor dua.
“Ditambah dengan isu bahwa Prabowo putra kawanua menjadi bagian dari politik identitas yang dimainkan bagi warga Sulut, justru mampu meningkatkan elektabilitas Prabowo,” pungkasnya.
TamuraWatung
