Oleh karena itu, inisiatif Gubernur YSK untuk kerangka kerja pembangunan sulawesi utara untuk membangun infrastruktur energi bersih patut didukung sepanjang ia juga disertai dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dan skema pemeliharaan jangka panjang.
Daratan Hijau: Keberlanjutan Pangan dan Desa sebagai Pilar Ketahanan?Sektor pertanian dan kehutanan tidak kalah penting.
Dalam metafora daratan hijau, kita melihat upaya konkret untuk memperluas food estate, memperkuat industri hortikultura, dan mengembangkan smart village yang mengintegrasikan layanan publik berbasis teknologi.
Ini sejalan dengan riset Altieri & Nicholls (2020) di Agroecology and Sustainable Food Systems yang menekankan pentingnya sistem pertanian berkelanjutan yang berbasis agroekologi, diversifikasi tanaman, dan perlindungan biodiversitas.
Lebih dari itu, pendekatan daratan hijau juga bermakna pemberdayaan ekonomi desa melalui digitalisasi dan inovasi pelayanan. Studi Zhang et al. (2022) dalam Sustainability menyebut bahwa transformasi desa akan efektif jika disertai integrasi teknologi, kapasitas kelembagaan desa, dan konektivitas antar wilayah.
Dalam hal ini, Sulawesi Utara sudah menunjukkan arah kebijakan yang cerdas dan terstruktur.
Catatan Kritis: Mengelola Transisi, Mengukuhkan Komitmen?Tentu saja, tidak ada desain kebijakan yang sempurna.
Beberapa hal masih menjadi tantangan serius: kapasitas fiskal daerah, koordinasi lintas sektor, dan ketergantungan terhadap arahan pusat. Studi Howlett et al. (2020) di Journal of Comparative Policy Analysis mencatat bahwa seringkali, kebijakan subnasional di sektor lingkungan gagal bukan karena niat buruk, tetapi karena lemahnya kepastian peran, data, dan pengawasan.
Namun saya memberikan optimisme dan percaya melalui gagasan besar ini, Gubernur YSK mampu mengelola tantangan ini.
Dengan kombinasi antara political will, kepemimpinan birokrasi yang visioner, dan partisipasi aktif masyarakat serta mitra pembangunan, Sulut punya peluang menjadi pionir subnational sustainable governance di kawasan timur Indonesia.
Penutup: Dari Simbol ke Aksi Nyata?Laut Biru, Langit Biru, dan Daratan Hijau bukanlah sekadar slogan.
Ia adalah narasi pembangunan yang utuh mengandung keindahan geografis, keunggulan strategis, dan tekad moral. Ketika langit tetap bersih, laut tetap memberi kehidupan, dan hutan tetap rimbun, maka pembangunan tidak hanya mengangkat angka, tapi juga martabat manusia dan alam.
Mari kita kawal bersama gagasan besar ini, bukan dengan sinisme, melainkan dengan dukungan kritis dan cinta pada masa depan Sulawesi Utara.
Referensi:
1. Voyer, M., Quirk, G., McIlgorm, A., & Azmi, K. (2018). The Blue Economy in Asia-Pacific. Marine Policy, 87, 18–26.
2. Andres, J. M., et al. (2023). Fragmented Marine Governance in Indonesia: Reform Challenges. Nature Sustainability, 6, 412–421.
3. Gurung, A. & Oh, S. (2013). Towards Sustainable Mini-Grid Development in Islands. Energy Policy, 59, 467–472.
4. Altieri, M. A. & Nicholls, C. I. (2020). Agroecology and Resilient Food Systems. Agroecology and Sustainable Food Systems, 44(5), 561–578.
