Berita Utama

Fiksiwan Reiner Ointoe tentang Gelar Bangsawan bagi Putra Kawanua Pdm. Victor Rarung

Terkait hal ini, gelar  kebangsawanan Jawa ini beririsan dengan gelar kebangsawanan Cirebon, gelar kebangsawanan Sunda, dan gelar kebangsawanan Madura, sehingga sepintas lalu terlihat sama walaupun terdapat perbedaan penerapan. 

Persamaan  di antara ketiganya adalah pemakaian gelar dasar Raden yang biasanya disingkat menjadi R. di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau disingkat menjadi Rd. di Jawa Barat yang terjadi akibat pengaruh budaya Mataram Islam selama masa pemerintahan Sultan Agung dan Sunan Amangkurat I. 

Pewarisan  gelar kebangsawanan di Kerajaan Mataram Islam umumnya bisa melalui garis keturunan laki-laki dan garis keturunan perempuan atau disebut juga sistem bilateral, sedangkan pewarisan gelar kebangsawanan di Kerajaan Cirebon, Karesidenan Priangan, dan Pulau Madura umumnya hanya melalui garis keturunan laki-laki atau disebut juga sistem patrilineal.

Dalam kerangka gelar kebangsawanan Jawa maka yang dimaksud raja di Pulau Jawa dan Pulau Madura yaitu Raja Mataram Hindu, Raja Majapahit, Raja Demak, Raja Pajang, Raja Mataram Islam, Raja Surakarta, Raja Yogyakarta, Raja Bangkalan, dan Raja Sumenep. 

Untuk gelar pangeran di Pulau Jawa dan Pulau Madura yaitu Pangeran Adipati Mangkunagara, Pangeran Adipati Pakualam, Panembahan Madura Barat (Bangkalan, Sampang dan Pamekasan) dan Panembahan Sumenep.

Seiring perjalanan sejarah, Kerajaan Mataram Islam yang satu terpecah menjadi empat negara yaitu Kerajaan Surakarta, Kerajaan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunagaran, dan Kadipaten Pakualaman. Surakarta dan Yogyakarta disebut kerajaan karena dipimpin oleh seorang raja. 

Ditilik dari sejarah kerajaan (kingdom) dan raja (king), Mangkunagaran dan Pakualaman disebut kadipaten karena dipimpin oleh seorang adipati(duke) atau “duchy” dan kadipaten (dukedom). Kelak dalam perkembangan di dunia moderen sejak abad-19-20, warisan kerajaan Inggris sampai hari masih  dapat memberi gelar bangsawan pada nama depan tokoh-tokoh ilmuwan, filsuf maupun rohaniawan seperti Sir Isaac Newton, Sir Bertrund Russell bahkan Sir Muhammad Iqbal dari Pakistan.

Ada pula gelar lain seperti pangeran (prince) untuk Mangkunagaran dan Pakualaman. Kepangeranan (princedom) atau principality yang lebih familiar disebut prince. Karena Mangkunagara dan Pakualam adalah nama orang, bentukan kata sifatnya ditambahkan akhiran “an”  menjadi Mangkunagaran dan Pakualaman.

Wilayah empat negara pecahan Kerajaan Mataram Islam itu disebut vorstenlanden, dari Bahasa Belanda yang berarti tanah pangeran. Sedangkan wilayah Pulau Jawa di luar vorstenlanden disebut gouvernement (pangreh praja) dan kelak bertransformasi jadi pemerintahan. 

Pada dasarnya ada dua jenis bangsawan dalam tradisi Jawa, yaitu bangsawan keluarga raja dan bangsawan pejabat pemerintah. Secara umum dikenal sebagai elit priyayi atau elit agama disebut sebagai kiyai.

Konsep bangsawan dalam keluarga raja tercermin dari istilah Jawa sebagai priyayi yang berasal dari kata ‘para yayi’ yang berarti ‘para adik’ dan adik yang dimaksud adalah adik raja, sehingga kata priyayi berarti para adik raja. 

Demikian pula kata kyai yang berasal dari kata ‘ki yayi’ yang berarti ‘adik laki-laki’ yaitu adik laki-laki raja dan kata Nyai yang berasal dari kata ‘ni yayi’ yang berarti ‘adik perempuan’ yaitu adik perempuan. 

“Di kemudian hari ada juga orang yang bukan keluarga raja dan bukan pejabat pemerintah tetapi karena dianggap berjasa besar kepada raja atau negara atau masyarakat, maka diberi status bangsawan yang juga disamakan dengan keluarga raja,” jelas Ointoe.

Terkait dengan gelar bangsawan pada satu-satunya putra Minahasa dari marga Rarung (Tombulu) yang berarti “yang diteladani dan dihormati“ ini, menandai inkulturasi dan akulturasi dalam kebudayaan Minahasa dan Jawa masih terus tumbuh sejak 1830 ketika Kiai Modjo dan Pangeran Diponegoro Herucoroko Ngabulkhamid Penotogomo tiba di Tondano dan Manado. 

Sebagai anugerah kebudayaan, gelar bangsawan untuk Priyayi Pdm. Victor Rarung, menurut informasi dari Pengageng Parentah Keraton, Drs. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Adipati Dipokusumo, bahwa “persiapan untuk itu telah dilakukan dengan koordinasi yang matang untuk memastikan acara berjalan lancar.“

“Rerior sumerer cita waya esa kepada Priyayi KRA Pdm. Victor Rarung Hadiningrat SE, MTh, atas gelar bangsawan. Sandiko Dawuh,” pungkas Reiner Ointoe. (***/JerryPalohoon)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara