
Oleh : N. Raymond Frans (Akademisi Pemerhati Pariwisata)
Pada beberapa minggu yang lalu, sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) telah melakukan lawatan ke luar negeri, yakni di negeri Belanda untuk menghadiri kegiatan Pasar Malam Indonesia (PMI) yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana. Selain anggota DPRD Sulut, ada juga beberapa Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulut menuju Belanda.
Lawatan tersebut, oleh Ketua Komisi II DPRD Sulut – Drs. Steven Kandouw dikatakan untuk mempromosikan berbagai potensi yang ada di Sulut sehingga lebih dikenal lagi di dunia internasional. Disamping itu, keikutsertaan mereka dalam rangka mengawasi serta memberikan masukan dan penilaian terhadap promosi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulut. Di Belanda ada sekitar 1,5 juta penduduk yang masih mempunyai hubungan dengan Sulut, sehingga memperkenalkan bumi nyiur lebih baik lagi kepada mereka akan sangat bermanfaat. Banyak peluang baru yang kami dapati disana. Jika ada satu persen saja dari para penduduk ini yang mau datang berkunjung ke Sulut, tentunya devisa yang dihasilkan akan sangat besar. Dengan kunjungan ini kita harapkan bersama bukan hanya sebagai sarana pelesir para wakil rakyat, namun juga dapat melakukan berbagai upaya guna memajukan Sulut (beritamanado.com, Jumat 22/04/2011).
Terlepas dari apa yang disampaikan tersebut diatas, sangat perlu pula dipertanyakan karena apa yang dicari dan dilakukan pada lawatan tersebut belum tentu dapat menjawab persoalan-persoalan pariwisata daerah Sulut yang sebenarnya.
Adanya indikasi bahwa lemahnya kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pariwisata dari mereka yang melakukan promosi tersebut telah dengan mudah menjastifikasi bahwa promosilah yang dianggap paling penting dalam memperkenalkan dan menarik minat para calon wisatawan untuk datang dan mengunjungi daerah Sulut.
Opini yang disampaikan oleh anggota DPRD Sulut itu belumlahlah terlalu benar karena masih ada banyak faktor penentu keberhasilan pariwisata daerah Sulut.
Apakah anggota DPRD Sulut telah melakukan pengidentifikasian awal berdasarkan pemahaman pariwisata tentang apa yang harus dipromosikan dan bagaimana cara serta strategi yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil promosi pariwisata yang maksimal ?
Promosi merupakan salah satu bagian dari bauran pemasaran pariwisata sehingga dalam kegiatan pariwisata, promosi tidak bisa berjalan sendiri dan terpisah dari indikator-indikator bauran pemasaran pariwisata yang lainnya.
Secara keseluruhan bauran promosi pariwisata mencakup produk (product), harga (price), promosi (promotion), sistem distribusi (place), kerjasama (partnership), pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), penampilan objek subjek pariwisata (performance), dan sumber daya manusia (people).
Seluruh indikator bauran pemasaran pariwisata tersebut harus bersinergi dalam kegiatan pariwisata agar memperoleh hasil pemasaran pariwisata yang optimal.
Tindakan promosi harus berdasarkan pada analisis terhadap situasi dan permintaan pasar terkini. Ini berarti bahwa promosi yang dilakukan harus berdasarkan hasil analisis data penelitian tentang segmentasi pasar pariwisata, bukan merupakan pendapat dan perasaan dari Pemerintah Provinsi Sulut dan anggota DPRD Sulut yang memandang perlu atau tidaknya diadakan promosi. Apa dasar pelaksanaan kegiatan promosi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulut dan anggota DPRD Sulut tersebut ?
Mengingat promosi sangat penting dalam pemasaran pariwisata, maka penelitian tentang promosi pariwisata harus dilakukan secara berkelanjutan sebelum, selama, dan setelah promosi sehingga dapat dilihat efektivitas promosi yang telah dilakukan.
Hasil penelitian ini dipergunakan untuk menentukan target audensi atau calon wisatawan, mengetahui informasi-informasi pariwisata yang dibutuhkan oleh para wisatawan, dan mengevaluasi keberhasilan promosi yang sedang dilakukan, dan setelah selesai dilakukan.
Sudahkah Sulut memiliki tenaga-tenaga ahli yang handal untuk melakukan penelitian ini ? Sudahkah para ahli tersebut dilibatkan dalam pembangunan pariwisata daerah Sulut ?
Promosi pariwisata yang efektif, yaitu mencakup hal-hal seperti pengidentifikasian target calon wisatawan yang akan dicapai, pengidentifikasian tujuan komunikasi yang akan dicapai, formulasi bentuk pesan dan informasi pariwisata untuk mencapai tujuan, pilihan media untuk menyampaikan pesan dan informasi secara efektif kepada calon wisatawan yang dituju, alokasi anggaran untuk mencapai produksi dan penyampaian pesan, dan evaluasi mekanisme penjualan jasa dan produk-produk pariwisata.
Selama ini, belum terlihat adanya penanganan masalah dan mencari solusi permasalahan pariwisata daerah Sulut yang semata-mata untuk keberlanjutan pariwisata daerah Sulut sendiri.
Usaha-usaha yang dilakukan selama ini hanya terfokus untuk mendatangkan wisatawan dengan cara mengadakan event-event berskala internasional, sedangkan usaha-usaha pelestarian potensi pariwisata utama (keunikan budaya, keindahan alam, dan keramah tamahan masyarakat) yang dimiliki daerah Sulut nyaris tak tersentuh dan terkesan dibiarkan begitu saja.
Disamping itu, pada kenyataannya, belum ada usaha yang signifikan yang dilakukan pada indikator bauran pemasaran lainya yang merupakan idikator terpenting untuk keberlanjutan pariwisata daerah Sulut, seperti : memperbaiki dan melestarikan objek dan daya tarik wisata, penataan kawasan wisata, pendataan secara berkala fasilitas pariwisata (hotel, cottage, restoran, rumah makan, dan hiburan umum) dan pembinaan terhadap sumber daya manusia serta pengelola objek wisata.
Seharusnya DPRD Sulut mendorong agar Pemerintah Provinsi Sulut dapat bekerja dari tingkat bawah, yakni mulai dari penataan objek-objek wisata secara fisik agar keindahan dan kebersihannya terjamin sehingga nyaman untuk dikunjungi, memberikan pelatihan pengelolaan objek wisata agar siap dalam menerima kunjungan wisatawan, dan yang tak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata. Sehingga tidak dikatakan bahwa pariwisata Sulut “Surga Telingaâ€.
Sebagaimanapun promosi pariwisata daerah Sulut ke luar negeri seperti di Belanda “dan Paris†yang dilakukan oleh DPRD Sulut itu, tidak akan mampu mendatangkan wisatawan ke daerah Sulut tanpa dibarengi dengan perubahan-perubahan dan penyelamatan serta penataan sumber daya alam dan budaya yang dijadikan daya tarik wisata, objek wisata dan kawasan wisata agar terlihat lebih menarik dan pengelolaanya lebih profesional sehingga mampu bersaing dengan destinasi-destinasi pariwisata lainnya di dunia,-

akhirnya dunia pun tau kalau WOC 2009 cuma jadi batu loncatan supaya jadi kota besar, tapi tidak untuk benar2 melestarikan lingkungan. buktinya banyak masalah lingkungan di Sulut. WOC dibangga2kan sbg berhasil buat sebagian orang tapi dunia menangis sedih. Manado makin panas krn macet, bukit2 diratakan atas nama pembangunan, akibatnya global warming dan banjir yg datang. Dan Manado cuma sekedar menyelenggarakan WOC tanpa tindakan nyata.
nda maju2, no action talk only, mau maju? jujur pada diri sendiri, kerja keras, belajar dari negara tetangga Malaysia, China, lia dorang pe visi misi action pelayanan. jangan banya alasan, baru 6 taong kwa bagini bagitu, yah so bagitu kalu malas, banya alasan: masih pagi, so siang, ujang kwa, mati lampu kwa, macet dll. masih inga seminar di unsrat deng andrie wongso dulu, apa dia bilang. so bagus orang2 ada kase masukan. trima kase jo kong mulai dari skarang.jang cuma mimpo besok so jadi samua.
Jangankan di mata bule, menurut org2 deplu RI saja para pejabat Sulut cuma omdo, nintau karja, nda profesional, nda ada etos kerja, banyak pancuri tulang,abs, karja nda klar so kase tinggal, nda mau melayani turis, dari staf sampe pimpinan bagaya bos, nimau lala mar mau gaji besar, pamer.
mau protes terserah, tapi kenyataan begitu memang. semakin bela diri dan menyerang bale lebe dapa tau depe busu, lebe tatinggal, nf
Saran saya kalau ingin pariwisata sulut maju, pemerintah harus berani. Waktu Cina membuka diri, mereka banyak mengundang pakar-2 di bidang ekonomi, dll. Mereka bahkan menawarkan posisi menteri bagi Lee Kuan Yu (ditolak). Kalau ingin pariwisata sulut maju, kita harus berani merekrut para pakar luar. Berikanlah pakar-2 ini posisi tertinggi dalam bidang pariwisata, niscaya sulut akan maju meninggalakan daerah wisata lain di Indonesia.
yailahhhhhhhhhhhh doeeeeeeeee…
cuma banya di mulu, jago ba ketik mar nda ada aksi sama sekali…
indonesia (manado) cuma negara/daerah komentator jo…
Terima kasih untuk semua komentar/tanggapannya. Semua itu demi kebaikan dunia pariwisata daerah Sulawesi Utara yang sama-sama Kita banggakan. Mungkin dapat membantu, Anda bisa kunjungi Tabea Manado yang merupakan Weblog Info Pariwisata di http://manadoweblog.wordpress.com Memang sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Tapi diharapkan dapat membantu bagu usaha dan upaya membangun dan mengembangkan kepariwisataan daerah Sulawesi Utara pada umumnya dan Kota Manado pada khususnya. Terima kasih,-
Mimi, iyo butul, tolok ukur-nya musti jelas.
Jadikanlah Sulawesi Utara sebagai tempat kunjungan yang benar-benar nyata. Jangan hanya seperti surga talinga sebagaimana dikatakan penulis diatas.
Mimi, kita cuma ja baca di koran2 tentang informasi jumlah wisatawan asing yang datang ke Manado. Depe jelek, gak jelas jumlah itu apakah turis asli or pengunjung (karena meeting) soalnya (kelihatannya) pemerintah, terutama provinsi, mo ba “paksa” memasukkan ide bahwa pertemuan2 internasional adalah juga meningkatkan jumlah pengunjung. Yah, jelas2 jauh dong. Kita kase contoh jo, beberapa tahun lalu ada seorang saintis datang ke Manado (baru pertama kali datang). Di acara terakhir dia bilang dia mo suka keliling Minahasa, kong dia langsung bilang “kita pe doi rupiah tinggal dua ratus ribu, cukup ndak for ongkos oto?”. Yah, karena ingin memperkenalkan Minahasa, langsung kita minta tolong teman cari akang oto kong antar bajalan. Dari segi ekonomi, apa ada yg dia spend di Manado/Minahasa? Yah nggak ada dong. Dia datang kan cuma karena urusan seminar….. Beda kalo dgn turis asli, jelas2 datang karena mo cari tau Manado/Minahasa.
Oya, ada lagi. Dinas pariwisata musti paham psikologi-nya para turis. Kalu turis Eropa so oma/opa yah gak mungkin dong dipromosikan tentang Bunaken. Dan kalo mo pasiar, tantu dorang lebe suka jalan pake bis, bukang gaya backpacker. Dan orang Eropa terkenal suka jalan ke museum, itulah sebabnya kita salut pa Pak Benny Mamonto yang so beking museum Minahasa di Pinabetengan. Moga2 informasinya bertambah, dan acara tahunannya tidak berhenti dilaksanakan tiap tahun. Ini ajang yg menarik.
Anyway, ini semua pelajaran for para pekerja pariwisata. Banyak yg musti dibenahi dulu sebelum mempromosikan. Banyak yg perlu dirubah: cara berpikir para sopir taksi (jangan dusu2 pa orang di airport, sedangkan kita yg org Manado riki stress sampe musti se kaluar kata2 kasar saking talalu masoso ba tawarkan taksi), jangan mengira semua turis itu orang kaya. Banyak yg musti kerja siang malam berbulan2 dan itulah sebabnya dorang butuh istirahat dan jalan2 ke LN. Kalo sampe sopir taksi minta ongkos lebih dr yang seharusnya, itu akan jadi reputasi yang sangat buruk pada Manado, karena yg jelek2 itu yg cenderung diingat. Belum lagi tu para office boy/girl di hotel. Beramah-tamahlah dgn para turis, maar jangan sampe berlebihan. Ada ‘garis abstrak’ yg tidak boleh dilewati terutama masalah personal.
Dinas Pariwisata mmg perlu belajar dan kerja banyak. Promosi boleh saja, tapi rasanya itu nomor dua untuk sekarang…..
Semoga pariwisata Sulut bisa lebih baik lagi dimasa datang n kali ada semacam kritik harus terima supaya bisa lebih baik dari sekarang…
@Je…memang dr semua promosi pariwisata yg ada selama ini nda pernah jelas ukurannya apa?..mmg butul harus ada yg bisa diukur spya bisa dibilang berhasil atau tidak…
@Tourism…menurut saya (ini masukan) kalo mau majukan pariwisata di Sulut, harusnya punya planning yang detil dan tolok ukur yg jelas apa yg mau dicapai/target…misalnya, target kunjungan wisatawan asing, income dr sektor pariwisata, serapan tenaga kerja dll, dalam jangka waktu…let’s say tiap 5 thn untuk 25 tahun ke depan.
Untuk mencapai itu bagaimana strategi promosi yg akan dilakukan?…kemudian di evaluate tiap tahun apakah target yg sudah tercapai atau belum?…
Selama ini, semua nda jelas…harusnya dari promosi pariwisata yang kemarin2 ada yg di target, apa yg sudah dicapai dari promosi2 sebelumnya..tp nda pernah ada evaluasi, bahkan data/informasi ssh diperoleh..makanya nda jelas krna nda ada reports..
Yang saya tau, bahwa tourists yg ke Manado sebagian besar dive tourists, dan diving2 center punya jadwal promosi sendiri diluar promosi yg dilakukan pemerintah…bahkan kali ada program promosi dari Pemerintah jarang ada diving center yg ikut ambil bagian, krna dorang tau target pasarnya nada jelas..
Saya sempat bikin survey di mengenai daya tarik alam Sulut untuk pariwisata, dan ternyata banyak sekali lokasi wisata alam yg belum digarap, salah satunya air terjun air panas di desa Kiawa..apakah ada yg tau?..karena org lokal yg masuk ke lokasi itu terakhir kira2 20thn lalu karena sdh dianggap keramat, padahal lokasinya bagus sekali..untuk ke lokasi itu harus turun dg tali sedalam kira2 20m, di itu ada air terjun kira2 75m, dan setelah itu ada air terjun yg keluar dari dinding batu, yg airnya air panas, benar2 lokasi yg bagus untuk tourist attraction…belum lagi pantai2 bagian selatan Bolmong kearah Gorontalo yg visa nya cantik2…
Kata org bule, Sulut seperti Paradise…mau wisata pantai, laut, gunung, danau, hutan, sungai semua ada n gampang dicapai, tapi kenapa tidak dimaksimalkan?…semua kembali lagi ke kita, khususnya Pemerintah untuk lebih menggali potensi pariwisata kita serta memanfaatkannya supaya, punya value
Mudah2an Ka-Dinas Pariwisata Manado da ba baca disini. Kita lia baru2 dorang promosi Manado ke Jepang, follow-up nya dengan apa dan keberhasilan promosi itu diukurnya pake apa kang?
Cuma penasaran….
Ini Tourism da ba tulis for sapa kang? Sapa yg da ba kritisi Pak Raymond pe tulisan? Sapa yg da ba tunjung pande? Perasaan disini sebagian besar ada share pengalaman….. hehehe… Maar kalo ini Tourism adalah representasi dinas pariwisata, noh so jelas dia ndak mangarti apa tu konsep. Masak sih ndak bisa mengambil sari-nya diskusi disini untuk dikembangkan sebagai konsep? heheehhheh….
Adano, agree with you. Kita punya koleksi foto Manado dilihat dari laut. Bukan cuma yang bagus2 tapi juga yang kumuh2. Kita perhatikan sebenarnya ada yg bisa dibenahi dari tu kumuh2 itu, dengan tidak harus membangun yang baru. Cara itu sangat murah. Karena kita so beberapa kali lia ada kota yg depan air yang merupakan perpaduan daerah kumuh (daerah residen zaman dulu) dan daerah modern. Cuma yah itu, biarpun bangunannya somo rubuh tapi bersih.
Btw, sebenarnya banyak yg bisa di share disini tapi kayaknya susah juga mo share pengalaman (yg bisa jadi bahan untuk memperbaiki turisme di Manado) ketika banyak orang sirik yang cuma bisa melihat dan menyimpulkan bahwa para komentator cuma pintar berkomentar.
Musti lapang dada katu mengakui eh, para komentator disini paling tidak so berusaha berbagi pengalaman secara mendetail tanpa mengharapkan apa2 (karena cuma pake nama samaran). Beda sekali dengan anggota dewan yg so pake doi negara le alasan jalan2 ke LN mo iko promosi dll tapi pulang2 ke Manado sedangkan laporan aneh2 or ada laporan gak? Setuju sekali Mimi da bilang.
Tuan prihatin.com : Apa dang konsep Anda yang konkrit dalam membangun dan mengembangkan pariwisata sulawesi utara ??? Bukankah Anda juga hanya mengkritisi tanpa ada solusi konsep yang brilian !!! Berbuat dan berkaryalah Anda walau hanya lewat tulisan agar bisa di simak oleh masyarakat yang peduli akan pariwisata sulut. Sorry, cuma menggugah Anda saja.-
Salut untuk rekan Kami Saudara Raymond Frans. Anda sangat peduli dengan Pariwisata Sulawesi Utara (Sulut). Teruslah menulis dan memberikan pendapat sekalipun pedas dan tajam demi kemajuan pariwisata Sulut ke depan. Salut juga untuk para komentator, asal jangan hanya sampai menjadi komentator terbaik seperti di dunia sepak bola Indonesia yang hanya bisa berkomentar tanpa bisa menunjukkan kemampuan bermain sepak bola. Xixixixixixi….!!! Butul atau salah, tergantung Anda yang menilai.-
Menurut Saya, apa yang ditulis oleh Pak Raymond ini adalah pendapatnya karena mungkin setelah melihat kenyataan yang ada. Torang musti menghargai apa yang dipaparkannya. Artinya ada orang seperti Pak Raymond yang prihatin dan mau peduli terhadap pembangunan dan pengembangan pariwisata daerah Sulawesi Utara.
Terlepas dari mengkritisi atau apalah namanya dari tulisan Pak Raymond ini, Kita yang hanya membaca jika ingin menanggapi, sewajarnya memberikan solusi pendapat. Bukan baku lawang pande. Berikanlah konsep-konsep yang dapat dipakai membangun Sulawesi Utara di bidang pariwisata.
Maaf, tidak bermaksud membelah Pak Raymond, hanya sekedar memberikan masukan saja. Demikian….
di Sulut SDM nya msh belum mendukung, ditambah lagi sebagian besar yg bekerja di kantor pariwisata bukan org yg mengerti apa itu ‘tourism’.. Program promosi pariwisata di LN kebanyakan cm buat plesir, yg berangkat biasa puluhan org, tp mana hasilnya?..nda jelas!!!
Coba liat semua pameran promosi di LN, kebanyakan yg ikut mgkn cm 5 menit di stand, abis itu lsg menghilang…
Kalo sya ketemu dgn tourists yg mau ke Indo, pasti tanya dulu interestnya apa?Kalo mrka mau diving baru sy promosi ttg Sulut, krna mmg nda ada yg bisa dipromosikan selain dive spot…
Jadi, mmg banyak yg harus diperbaiki n dikembangkan untuk memajukan pariwisata di Sulut… Semoga!
Banyak skali cara mapalus untuk promosi Sulut tercinta ini
Cuman tong pe pejabat2 kuarang tanggap dan penyelenggara kurang prof…rata2!
Sebaiknya torang benahi dulu kebersihan, sarana dan SDMnya.
Coba lihat macam pelabuhan ke bunaken saja sama deng pelabuhan ikang garang!
Torang nda boleh tanggung bagini…kalau mo modern skalian modern kalau cuma model bagitu lebeh bae tradisional skali jo tre turis lebeh suka…
Pelbuhan turis bagitu musti memadai dan layak trus kalau ada turis datang bafoto di darmaga bagus, perahu2 tersusun rapi…Yang skarang jangankan turis mo bafoto, langsung lari bale dorang..
Kalu samua so tertata coba akang kita pe promosi murah ini:
Print macam poscard dan tourist info, suruh badiri di pintu departure airport tu keke2 parbud jang cuma pagi2 so di wakeke siang2 so di mall..dudu2 di kantor. Bagi 20an lembar kesetiap unke/utu/keke yang mo LN (check dong pe ticket yang ke LN saja) suruh sebar nanti kalau sudah di LN…Murah toh derpada mo bayar pa Garuda sebar2 di pesawat..
Manado kan nd punya konsul parbud di LN.. :) jadi pintas saja promosinya. Kalo bos-kabos yang ja study banding bukan nyebarin poscard malah beli dia,,,ya nggak? Juga klo mo nebeng sama nak buah om Marty susah ..yang di sebarin, borobudur, bali bromo, komodo..
Ini lebih efektif daripada nyewa booth di exebition..udah mahal harus berangkatin bos-kaboss lagi..
Gimana Je…
Kita so cabut tu bunaken pe gambar di dinding kita pe kantor..
Itu dang…waktu TIME magazine britain “Paradise LOST…” http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2091991,00.html
Nanti jo kalo bunaken so bersih kita taru ulang
Tulisan bung Frans baik. Tapi penulis juga nampaknya belum menguasai benar tentang keadaan di lapangan dan bagaimana yang seharusnya dilakukan sesuai dengan kemampuan daerah sekarang ini. Terkesan tulisan terlalu mempersalahkan pemerintah, padahal apa yang dilakukan pemerintah untuk mempromosikan daerah sangat standard dan memang cara itu sebagai salah satu yang harus dilakukan dari pada tidak sama sekali. Bisa kita renungkan dan perhatikan bersama. Kalau saya tanyakan apakah anda-anda sendiri termasuk penulis sudah siap menjadi agent of change?. Sudah mampukah anda untuk merobah kondisi daerah pariwisata untuk menjadi seperti Bali atau tempat lainnya di Indonesia tanpa dukungan banyak pihak dan dana?. Saya kira pemerintah sudah sementara melakukan secara optimal apa yang dibutuhkan dengan mencoba memenuhi segala bentuk permintaan masyarakat, mulai dari penciptaan obyek2 tujuan wisata baru dan pemeliharaannya. Kritikan cenderung ada yang hanya suka pelesir baik, tetapi bagi saya asal ada keseimbangan tidak masalah. Secara jujur pasti kita sendiripun akan berkata, “saya juga mau untuk melakukan apa saja demi kemajuan asal saya juga berangkat”. Tetapi tentu butuh waktu untuk betul betul mencapai apa yang diharapkan, dan tentunya dana yang besar. Apalagi berbicara soal pemeliharaan dan penataan obyek wisata. Dengan kondisi yang ada sekarang tentu baru dapat dilaksanakan secara bertahap dan terjadwal, belum bisa sekaligus karena didalam sistem penganggaran tidak bisa yang namanya sekali disebut langsung dilaksanakan. Belum ada ada istilah sim salabim dalam perealisasian kegiatan untuk saat ini di Prov Sulut. Karena semua diatur dengan aturan dan mekanisme keuangan yang sudah standard dengan harus menunggu penjadwalan, dllsbg. Saya melihat masyarakat saat ini sudah semakin lama semakin terbiasa dan menyadari bahwa SULUT sudah menjadi daerah tujuan wisata yang prospektif. Dan ini suatu potensi besar dan peluang. Tetapi kekurangan2 yang masih dite,ui saat ini seharusnya dipahami sebagai suatu usaha untuk mencari bentuk dan cara terbaik mencapai tujuan, karena sulut pun belum ada 6 tahun berjuang untuk menjadikan daerah ini sebagai tujuan wisata andalan di Indonesia, dibanding Bali yang sudah 30 tahun lebih berusaha menjadikan daerahnya sebagai daerah tujuan wisata internasional yang mumpuni. Hal ini memang disadari bahwa antara lain belum semua mind set dan perilaku masyarakat sulut siap menerima daerah ini menjadi darrah pariwisata. Belum semua bisa benar2 mempraktekan budaya ramah, disiplin, budaya bersih dan tertib. Nah barangkali hal ini yang perlu dibahasakan dan lebih disosialisaikan oleh kalangan yang sudah merasa mumpuni dalam hal pengetahuan pariwisata apalagi sudah mengkategorikan diri ahli. Tetapi sangat ironi bila ternyata kita hanya mampu mengkritisi namun sulit untuk bahkan memulai dari diri sendiri. Bagi saya yang paling penting adalah bagaimana menunjukkan etos kerja. Meskipun kita punya segudang pendapat dan ide, kalau hanya diwacanakan saja untuk apa, apalagi cuma bisa mengkritisi sedangkan balok di depan mata yang tertanam di “mata mungkin” tidak dapat dicabut sendiri. Mudah2an kedepan kita akan lebih di mampukan untuk mengurangi upaya saling mempersalahkan dan mencari kelemahan orang lain, dan justru lebih bisa untuk saling membangun dan saling mencari kelebihan orang lain, sebagai pemberi motivasi untuk berusaha lebih keras dan berkomitmen demi kemajuan bersama dan semakin kondusifnya suasana pembangunan agar akan lebih cepat tujuan pembangunan itu dapat tercapai. Amin.
Saya harap pemerintah Sulut mendengar dan menerapkan semua komentar2 yang mau menbangun Sulut/manado. Mereka sangat prihatin maka rela menulis komentar2 yg baik.
Pengalaman saya waktu holiday ke Indonesia & Manado masih kotor, wc-nya dimana2 banyak mengelikan terutama di Restoran, sampah dilaut. buang sampah sembarangan.
Sudah saatnya pemerintah membuat larangan sanksi dgn uang kalau melanggar peraturan. Ini untuk kebabaikan rakyat juga, ini disiplin. Orang kalau orang didenda dgn uang biasanya mereka akan berfikir lagi.selain itu uang ini jadi masukan utk pemerintah. Jadi keamanan, kebersihan dan event yg menarik utk wisatawan paling penting
God bless Sulut/Manado
ParBud-nya cuma diisi orang2 yg tukang gosip sih……
So dari dulu bagitu, sapapun yg mo jadi kepala dinas pasti stress!!!
Sepertinya Parbud Manado harus memahami akan tulisan Bung Frans ini. Jangan cuma asal bunyi di koran-koran Kadisnya. Lalu tidak tau bikin apa dalam membangun pariwisata Manado. Sudah lebih kurang setahun, pariwisata Manado tidak ada kemajuan. Malah yang ada kemunduran saja. Sangat disesalkan. Karena pengendali Parbud Manado tidak mengerti tentang pariwisata. Mohon Walikota Manado memperhatikan pejabat Parbud deh…
Salut komang pa ngana Adano, masih ja promosi akang pa Sulut biarpun tu promosi ndak sesuai dgn kenyataan. Kalo kita sih, wah malu dong. Tahun lalu seorang kenalan Vietnam ba tanya pa kita “What places do you recommend in your country?”. Kita jawab: “Maybe there are not so many interesting places in my area, but if you like you can visit Bali”. Kong kita jelaskan pa dia beberapa tempat….. hahahaha….. Ke orang bule (waktu sempat ada yg tanya2 di acara bazaar di embassy), kita cuma bilang “If you like to dive, you may like to visit my hometown”, sambil menjelaskan beberapa detail tentang Bunaken.
Kita so pernah berusaha mempromosikan Bunaken ke orang bule lain, tapi beberapa (terutama middle-aged people) langsung jawab “We don’t dive, what else do you offer?”. Padahal sebenarnya orang2 paruh baya (yg so pensiun) bisa jadi target promosi yang menjanjikan karena sebagian besar dari dorang punya waktu banyak dan biasanya paling kurang dua kali setahun dorang jalan2 ke LN. Beberapa kali kita lagi tunggu pesawat di bandara, kita bacerita dgn orang2 itu dorang pada umumnya berlibur ke Thailand.
Tapi yah itu, managemen lokasi pariwisata dsb musti dibenahi. Suatu kali kita lagi cari informasi di tourist information centre di salah satu kota di Eropa. Keluar dari kantor itu ada yang ba dola pa kita kong minta waktu lima menit mo wawancara. Banyak pertanyaan yg dia ajukan menyangkut pariwisata (kita pe umur, info dari mana berkunjung ke kota itu, dsb). Mungkin ini saatnya dinas pariwisata di Sulut or Manado beking bagitu. Maar musti beking training kwa spy yg kerja orang2 yg profesional, jangan kong sampe deng bahasa inggris kacau balau.
Beberapa saat yang lalu waktu perjalanan pulang saya dari Paris-Manado bertepatan dengan adanya Asean Tourism Conference. Kebetulan saat itu pesawat banyak penuh dengan orang2 yang berkecimpung di tourism. Salah satunya orang arab UAE duduk di sebelah. Dia banyak bercerita/tanya2 mengenai Manado yang di jawab dengan sangat bangga oleh saya: “very good town”, best diving spot, clean (ukuran indonesia kali…) dll2, ini town yang biasa organized world events dst pkoknya promosi…Doi cuman geleng2 terkagum2 sambil kita bercerita bahkan beliau coba membandingkan dengan Sharm El Sheik (daerah resort terkenal di Egypt) yang pernah juga ku datangi…Saya angguk2 saja mikir SES kan nda ngandalin Pharaoh2 kaya Luxor atau kota2 lain Egypt tapi cuma ngandalin laut merah! 11/12 lah kan kita ngandalin Pasific
Singkat cerita sampailah kita di Samrat Airport dan beliau mulai percaya (mungkin mulai membandingkan kotornya Cairo aiport dengan samrat airport yang punya pemandangan bagus…) Kita pisah dan beberapa hari kemudian ketika saya balik Jakarta kebetulan ketemu lagi dengan dia di pesawat yang saat itu di penuhi rata2 orang malaysia dan singapore….
Setelah sejenak dengar gaduhnya orang2 jiran ini dengan seribu complainnya tentang kota Manado mulai dari penyelenggaraan event yang semrawut, makanannya lah, barang2 souvenir yang mahal..”beter I buy in KL’ pokoknya kedengaranya ‘kesa2l” semua sudah jalan jauh2 dan tidak sesuai harapan.
Nah…teman arabku itu masih juga geleng2 kepala jadi saya tanya opinion-nya dan dijawab: Casino..(bahasa Italy yang kira2 artinya amburadul), but he already apologized! siapa aku balik tanya: The boss jawabnya singkat..
Its too far from what you explained…Dirty too.. lanjutnya lagi dengan inggris arabnya..
Malunya aku coy…….
Aku bilang OK 4get it! whats the next to visit saya tanya dia…EU, first Spain jawabnya singkat..
Well, come to the town where I am staying now (Vichy) whn u r in France. Its definitely clean and beauty…give me a call…sambil saya nambahin nomor HP saya +33xxxxxxxx…
Sudah pura2 bobo aku…malas ngomong lagi
Bhayu dan Adano, banyak org yg katanya mengerti pariwisata sebenarnya gak paham apa keinganan wisatawan. Akhirnya seperti katak dibawah tempurung, menganggap yg dimiliki itu sudah cukup untuk menarik perhatian wisatawan tanpa menata dan menjadikannya lebih baik……
Tahun lalu kita sempat hadir di Pasar Malam Indonesia di Den Haag. Acara yang meriah, tapi mau tau apa yg disajikan di stand Provinsi Sulut? Di stand Sulut dipamerkan bermacam2 tuna kaleng dengan logo2 yang tidak saya kenal. Harga yang dipatok-pun sangat jauh di atas produk serupa yang biasa saya jumpai di beberapa kota di Eropa. Padahal beberapa tahun terakhir ini di supermarket2 Manado telah beredar ikan tuna kaleng dengan nama yang menunjukkan Manado (bahkan saya dua kali membawanya dari Manado). Saya bilang ke saudara (yg juga ada di sana), tuna2 kaleng berbungkus label Filipina dan Thailand sudah lama mendominasi Eropa, kalo memasukkan produk baru dgn harga yg tidak bersaing dan kualitas biasa2 saja mana mungkin laku.
Yang paling membuat saya ‘tertawa’ adalah ikut sertanya wortel dan ‘anggur perjamuan’ dalam pameran itu. Wortel gendut yang katanya produk dari Minahasa Selatan turut berada di pameran. Sekali lagi saya berbisik ke saudara saya, “Waduh, wortel adalah makanan harian disini, gak mungkinlah mereka mengimpor jauh2 dari Asia”. Nah apalagi anggur perjamuan, bisakah ’anggur’ yg bukan berasal dari grape menyaingi Chateau Margaux misalnya?
Bulan lalu saya mengikuti bazaar Indonesia di kedutaan negara dimana saya tinggal. Salah satu acaranya adalah pameran kecil tentang Indonesia di salah satu ruang kedutaan. Saya tidak banyak mendapatkan informasi mengenai Sulut dan itu bikin saya penasaran. ”Kami sudah mengirimkan permintaan informasi kepada Dinas XXX di Provinsi anda tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan sama sekali”, staff ekonominya menjawab pertanyaan saya ketika saya bertanya, dan kemudian melanjutkan ”Tolong yah kalo kamu bisa membantu untuk mengontak mereka, kalo bisa kirimkan informasi2 mengenai produk2 yang bisa diekspor dari Sulut juga tentang lokasi wisatanya spy kami bisa promosikan”, dan kemudian sebuah kartu nama diberikan ke saya.
Saya sangat setuju dengan Pak Frans. Keikutsertaan dalam acara pameran manfaatnya kecil. Oya, bukan rahasia lagi kalo ikut acara pameran cuma tameng untuk menutupi rencana sebenarnya yaitu untuk jalan2 mengunjungi Eropa. Di Pasar Malam Indonesia tahun itu pula saya sempat menyaksikan bagaimana stand ditinggalkan ’hanya’ pada beberapa orang yg sebagian dari mereka tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, karena yang lain sedang melancong ke Paris atau Brussels, atau lagi mengunjungi Amsterdam berfoto2 di kanalnya. Di sebuah malam sehari sebelum pameran akan tutup itu pula saya melihat kedatangan beberapa anggota dewan Sulut, yang kemudian menghabiskan beberapa menit berfoto2 di depan stand Sulut dan langsung meninggalkan tempat itu. Kebetulan kamera saya sedang terpasang lensa 250mm dan saya sempat mengabadikan wajah2 itu.
Dan sekali lagi betul sekali, kalo sekedar promosi tanpa ada kajian lanjutan setelah promosi dilakukan maka gak layak kalo kemudian disimpulkan bahwa promosi ke LN di ajang seperi PMI bisa berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan yg berkunjung. Apalagi kemudian bilang iven internasional juga berkontribusi. Terlalu naif.
Semua bagus sangat bagus,
Mar sayang legeslatif dan eksekutif di republik kita samua sama, yang penting dorang pasiar. Biar ngoni mw bilang apa kase kajian apa…. dorang so nda dengar. Penyakit para legeslatif dan eksekutif 95 sampe seratus persen samua sama……. Semua aspirasi cuma sampe ditampung.
Oh malangnya negeriku. Punya pemeimpin yang budeg budeg
Selain bunaken yang lainya memang bisa di jual tapi daya saingnya sangat2 rendah!
Yang lain itu objek wisatanya kelas domestic saja itu pun sedikit yang mau liat.
Coba bayangin yang ditawarin: Goa, air terjun kecil, pantai(?) waruga saja daya saingnya jauh..
Dengan adanya Bunaken kita sudah tertolong..
Tapi harus inovasi yang banyak contohnya dengan festival2 spektakuler..
Ajakan yang diperlukan..Orang Manado kan paling suka diajak rame2 jadi yang begini yang di manfaatin. coba tahun baruan, thaknsgiving saja bisa bermiliar2an di habisin. Kenapa nda bisa bikin 1 festival spektakuler yang akan menjadi ciri khas torang pe doyan rame2?
Pertama yg perlu dilakukan:
1. Kenali product kita…., identifikasi objek wisata kita apa saja? Selama ini terkesan org datang ke sulut krn bunaken saja, hanya itukah? Kalo hanya itu saya rasa 2 hari saja udah cukup di manado, Bagaimana dgn wisata budaya? 2. PErhatikan kondisi product kita, layak jualkah?? Big question indeed. Tapi sya rasa jawabnya belum, perlu banyak pembenahan di sana sini… Selain banyak objek wisata belum di kenal, kondisinya memprihatinkan… Pengelolaan seadanya…3. We need attraction, makassar punya. Trans studio. Bs menjadi amusement park warga KTI tanpa harus ke Trans studio Bandung atau Dufan ancol di jakarta 4. How do we Get there (manado)? Isu conektivitas, + where to go after we arrive? Perlu ide integrated tourism (connection between tourism object). Nah baru Bicara promosi ….. Klo Promosi duluan ngga tau apa yang mau kita jual… Wah bahaya sepertinya…. Maju Terus SULAWESI UTARA