
TOMOHON – Situasi Kota Tomohon pasca dinonaktifkannya Jefferson SM Rumajar SE sebagai walikota terus mengalami perubahan. Bahkan, perubahan tersebut tidak hanya melanda dunia politik, akan tetapi mulai menyentuh ke perilaku para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Sejuk ini, secara khusus soal pemakaian seragam.
Pasalnya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, di lingkup Pemkot Tomohon, jika hari Kamis sangat identik dengan seragam Payus. Sayangnya, setahun belakangan ini seragam yang dipopulerkan oleh Epe, sapaan akrab Jefferson SM Rumajar SE pada tahun 2008 saat digelarnya Tournament Flower Festival (TFF) mulai ditinggalkan bahkan sengaja diabaikan para pemakainya.
Dari pantauan, para pemakai seragam Payus ini tinggal dihitung dengan jari saja dan hanya terlihat di SKPD tertentu. Kebanyakan dari para abdi negara ini lebih memilih menggunakan baju sesuka hati mereka. Mulai dari tampilan seksi dengan rok ketat di bawah dengkul serta celana jeans corak warna gelap. Sontak saja, pemandangan bak perkantoran swasta bukan instansi pemerintah tersaji secara transparan.
Menariknya, para PNS ini saat ditemui memberikan argumentasi dan dalih berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka mengaku bahwa Payus miliknya sudah tidak bisa lagi digunakan. “Yah, kita pe Payus so sempit kong so keas lagi, jadi so nembole pake. Lagian depe kain mahal, sementara kita blum ada doi mo bli kasiang,” ujar seorang PNS wanita yang berkantor di bilangan ex Rindam saat ditemui beritamanado.com.
Lain lagi dengan pengakuan salah seorang PNS wanita yang tiap harinya beraktivitas di Kantor Walikota Baru yang terletak di Kelurahan Kolongan. Menurutnya, seragam Payus miliknya masih layak untuk digunakan. “Kalo kita punya masih bagus, masih layak digunakan. Cuma hari ini kita nda pake karna lupa strika. Lagian juga kan, seiring dengan Epe yang so dinonaktif, terpaksa lei kita pe Payus ikutan non aktif,” ujar wanita cantik ini diiringi dengan senyum penuh arti. Hmmm… (iker)
