
Catatan Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd,
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado
ADA KISAH HIDUP yang tidak sekadar diceritakan, tetapi direnungkan. Karena di dalamnya terkandung pergulatan manusia melawan batas-batas sosial, ekonomi, dan sejarah. Kisah itu hidup dalam diri Dr Frits Herman Pangemanan MSc PhD—putra Manado yang kini dinilai layak menjadi Duta Besar RI untuk Filipina. Bukan hanya karena gelar dan prestasi, tetapi karena ia adalah potret tentang bagaimana pengetahuan, karakter, dan kemanusiaan bisa mengubah arah hidup seseorang—dan bahkan memberi dampak bagi bangsa.
Perjalanan Frits tidak dimulai dari gedung kampus ternama. Ia dimulai dari emperan toko di kawasan Bendar Manado, tempat ayahnya, Simon Pangemanan, menjual koran. Di situlah benih intelektualitasnya tumbuh. Sang ayah, seorang pemimpin jemaat Katolik (Guru Jumat), piawai berbicara di depan umat karena tiap hari membaca berita. Ia bukan orang kaya, tapi kaya wacana. Dari sinilah muncul refleksi sosiologis: pengetahuan bukan monopoli kelas elite; ia bisa bertumbuh dari ruang-ruang sederhana jika ada budaya membaca dan keinginan memahami dunia.
Frits kecil menyerap itu. Ia belajar bahwa kata-kata dapat menggerakkan, dan bacaan dapat membentuk cara pandang. “Bakat” tidak datang tiba-tiba; ia lahir dari kebiasaan, teladan, dan lingkungan. Secara antropologis, keluarga ini menunjukkan bagaimana tradisi lisan dan literasi berpadu membentuk identitas. Dari ayah dan ibunya ia belajar etika kesederhanaan, dari koran ia belajar melihat realitas, dan dari gereja ia belajar keberanian memaknai hidup.
Setelah meraih S1 Filsafat di Seminari Pineleng, Frits merantau ke Jakarta tahun 1988. Modalnya? Kecerdasan, kemampuan menulis, dan bahasa Inggris. Inilah titik di mana refleksi psikologis muncul: keberanian untuk keluar dari zona nyaman adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan diri sekaligus kerendahan hati—karena ia tahu, jalan menuju masa depan dibangun dari kesediaan belajar.
Tak lama, Frits diterima sebagai staf khusus di United Nations Information Center (UNIC) PBB. Ia ditempa oleh Direktur UNIC PBB, Mr. Hisashi Uno, penulis besar asal Jepang. Dari Uno, Frits belajar kerapian berpikir, kedisiplinan kerja, arsip, riset, dan menulis dengan standar internasional.
Di gedung Dewan Pers, ia bersentuhan dengan nama-nama besar: Goenawan Mohamad, Jakob Oetama, Husein Assegaf, Sutardji Calzoum Bachri. Bayangkan, seorang anak penjual koran kini berdiskusi dengan para raksasa intelektual bangsa. Secara filosofis, ini membuktikan bahwa hidup adalah dialektika: setiap pengalaman saling mengasah, setiap perjumpaan memperluas cakrawala.
Ia lolos seleksi beasiswa Lembaga Pers Dr. Soetomo—dari 1.000 pelamar hanya 15 diterima, dan Frits menjadi lulusan terbaik. Ia kemudian bergabung di The Jakarta Post (1991–1996), meliput Asia dan Eropa. Tahun 1997, ia ikut mendirikan majalah Pasar Modal dan bergerak di Jakarta, Surabaya, dan Singapura. Namun ketika krisis moneter 1999 melanda, ia memilih arah berbeda: kembali ke ilmu.
Keputusan ini mencerminkan refleksi etis dan eksistensial: karier boleh berkilau, tapi panggilan batin sering meminta kita kembali ke akar—ke ilmu, ke makna. Ia mendapat beasiswa S2 di Asian Social Institute Manila dan melanjutkan S3 di Ateneo de Manila University (2002–2008). Untuk membiayai hidup dan kuliah, ia menulis buku ilmiah internasional. Delapan buku tentang sejarah misi Gereja Katolik di Maluku dan kebudayaan Tanimbar lahir dari tangannya. Ini menunjukkan kedalaman antropologis: menulis sejarah bukan sekadar mendokumentasi masa lalu, tetapi menjaga identitas kolektif suatu bangsa.
Selain menulis, ia mengedit lebih dari 10 buku lintas disiplin: teologi, pastoral, filsafat sosial, hingga sejarah keagamaan. Ia juga menjadi interpreter profesional di berbagai forum internasional, berkeliling Asia dan Afrika. Ia mengajar culture, journalism, religion, politics, language, dan history di Ateneo de Manila University, ACAS Research Institute, dan kampus lainnya. Lebih dari 20 bukunya tersebar dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Tahun 2016–2020, ia menempuh doktor kedua. Hasilnya luar biasa: Summa Cum Laude. Sebuah simbol dari ketekunan dan komitmen terhadap kesempurnaan. Secara psikologis, ini adalah contoh nyata dari grit—ketahanan mental jangka panjang yang jarang dimiliki banyak orang.
Lebih dari sekadar akademisi, ia menjadi jembatan budaya. Ia membantu Dubes Filipina untuk Indonesia, Dr. Sinyo Harry Sarundajang (SHS), menulis buku-buku yang diberi pengantar oleh para duta besar dan atase pendidikan. Dalam acara perayaan emas pernikahan keluarga Sarundajang-Laoh, SHS memperkenalkan Frits sebagai “ilmuwan putra Minahasa kelas Asia”.
Para mantan mahasiswanya kini menjadi pejabat penting di Komisi Perguruan Tinggi Filipina dan lingkungan militer (National Education Police Intelligence Group). Mereka adalah jenderal, akademisi, dan pemimpin masa depan—dan mereka mengenal Indonesia melalui kuliah Frits. Secara sosial, ini adalah diplomasi yang paling otentik: diplomasi pengetahuan.
Frits juga menyalurkan mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan beasiswa di Manila. Ia bukan hanya membangun karier, tetapi membangun orang lain. Di sinilah nilai etisnya bersinar: ilmu tidak boleh berhenti di diri sendiri; ia harus dibagikan.
Kini, banyak pihak menilai: Frits layak menjadi Duta Besar RI untuk Filipina. Alasannya jelas. Ia memahami budaya Filipina secara mendalam. Ia memiliki jejaring internasional luas. Ia dihormati di akademia, pers, pemerintahan, dan gereja. Dan yang paling penting: ia lahir dari akar rakyat, tetapi tumbuh menjadi pohon raksasa di medan global tanpa kehilangan identitas.
Dalam dunia diplomasi, kemampuan berbicara bukan cukup. Yang dibutuhkan adalah empati, sensitivitas budaya, ketajaman analisis, dan integritas. Semua itu ada pada diri Frits.
Dari emperan toko Bendar… ke aula akademik Ateneo… dari koran yang dijual di pasar 45… ke buku-buku yang dibaca para duta besar dan jenderal… perjalanan ini bukan sekadar kisah sukses. Ini adalah pelajaran tentang martabat manusia: bahwa asal-usul tidak menentukan nasib akhir; pilihan, kegigihan, dan pengabdianlah yang mengukir takdir.
Jika bangsa ini ingin dihormati dunia, ia membutuhkan duta besar yang tidak hanya mewakili negara, tetapi juga mewakili nilai-nilai kemanusiaan, pengetahuan, dan integritas. Dalam diri Dr. Frits Pangemanan, semua itu bertemu.
