Berita Utama

Di Depan Kepala Inspektorat Minut, Orangtua Murid SD Inpres Klabat Curhat 6 Tahun Kepsek Semena-mena

Di Depan Kepala Inspektorat Minut, Orangtua Murid SD Inpres Klabat Curhat 6 Tahun Kepsek Semena-mena
Pertemuan para orangtua murid dan Kepala Inspektorat Minut, Steven Tuwaidan.

Minut, BeritaManado.com – Demo orangtua murid SD Inpres Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, terus berlanjut.

Jumat (13/10/2023), 30-an orangtua murid kembali mendesak Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara untuk mencopot Femmy Iroth dari jabatannya sebagai kepala sekolah.

Demo ini telah dimulai sejak Rabu (11/10/2023), sejak berhembus kabar oknum kepala sekolah bernama Femmy Iroth sudah kembali bertugas.

Sejak Rabu, sebagian besar para siswa tidak masuk sekolah karena gerakan protes para orangtua.

Pada demo tersebut, para orangtua menunjukkan kondisi fasilitas sekolah yang sangat tidak layak, mulai dari bangku dan meja juga toilet yang rusak.

Menurut pengakuan orangtua, sikap semena-mena ditunjukkan Femmy Iroth yang dipercayakan sebagai Kepala SD Inpres Klabat, selama 6 tahun terakhir.

Akibatnya, selama 6 tahun, pengambilan keputusan dilakukan secara sepihak oleh kepala sekolah.

Belum lagi permintaan uang ijazah senilai Rp250 ribu per siswa dan administrasi Rp50 ribu per siswa per pencairan Program Indonesia Pintar (PIP).

Demo beberapa hari yang dilakukan para orangtua murid, langsung ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara.

Bupati Joune Ganda mengutus Kepala Inspektorat, Steven Tuwaidan untuk turun ke sekolah.

“Selama 6 tahun tidak ada komite sekolah. Dan setiap tahun, sekolah mewajibkan siswa beli seragam olahraga baru. Ini kan aneh, masakan seragam olahraga baru setiap tahun,” keluh orangtua murid di hadapan Kepala Inspektorat, Steven Tuwaidan.

Di Depan Kepala Inspektorat Minut, Orangtua Murid SD Inpres Klabat Curhat 6 Tahun Kepsek Semena-mena
Orangtua SD Inpres Klabat demo menolak Femmy Iroth sebagai kepala sekolah.

Para orangtua menegaskan bahwa permintaan pergantian kepala sekolah bukan atas dasar suka maupun tidak suka, dan tidak ada unsur SARA sama sekali.

“Kami orangtua hanya sangat sedih, anak-anak kami duduk di kursi berlubang dan beberapa kali seragam siswa robek kena paku di kursi. Fasilitas toilet yang sangat penting juga tidak tersedia, dan hanya pinjam toilet di sekolah lain. Jadi kami orangtua sudah sepakat, mau siapapun yang ditugaskan di sekolah ini kami terima, asal bukan Femmy Iroth. Karena sudah 6 tahun sekolah ini tidak ada perbaikan,” ujarnya.

Di sisi lain, diduga oknum kepala sekolah melakukan intimidasi kepada orangtua siswa penerima PIP.

“Ada ancaman dari kepala sekolah, kalau tidak memberi uang partisipasi maka nama nama anak kami diganti orang lain,” keluh orangtua.

Keluhan-keluhan yang disampaikan orangtua didengar Kepala Inspektorat, Steven Tuwaidan.

Ia menyayangkan bila pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Pendidikan (BOSP) juga Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) disusun tanpa melibatkan komite sekolah.

Di sisi lain Steven Tuwaidan memastikan akan memeriksa keuangan sekolah, apabila ada unsur korupsi serta pelanggaran yang dilakukan untuk menentukan sanksi apa yang bisa diberikan kepada oknum kepala sekolah.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara