Koltem – Denny Ronny Wowiling atau dikenal dengan Dewo, mengaku bersyukur akan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49. Ia merasa keberhasilan yang telah diraih selama ini adalah berkat doa dari orang tuanya.
“Kenapa doa, karena doa mereka saya bisa seperti ini, walau pun mereka tak sempat menikmati secara utuh dan sempurna hasil doa mereka dari keberhasilan anaknya. Puji Tuhan,” ungkap Dewo.
Dikatakan dalam kesaksian hidupnya, tadi pagi ia di kunjungi jemaat Advent, selanjutnya pelayan dari GPdI Rehoboot dan dari Gereja GMIM Exodus Watutumou II.
“Kunjungan itu semakin menguatkan, bahwa hidup ini ada panas ada ujang, ada himpitan ada terbuka. Inilah fakta, walau banyak kali hidup ini seakan tak jujur dalam fakta dan perjalanan hidup,” jelas Dewo.
Dikatakannya, Kalau nama Dewo dikenal tokoh politik kontroversial di Minahasa Utara, ia tak mengerti, apapun yang terjadi di Minut, pasti dikaitkan dengan nama Dewo, baik positif atau negatifnya.
Ia juga menceritakan secara historis dan faktual, bahwa dirinya dan teman-temannya memegang peranan penting dalam memekarkan Kabupaten Minahasa Utara dari Minahasa Induk.
“Dalam perjalanan saya sebagai DPRD Minahasa Induk, saya sebagai wakil ketua komisi A. Saya ditugaskan Vreeke Runtu banyak terlibat untuk Minahasa Utara,” kata Dewo.
Diceritakannya, mereka ada 9 orang duduk di Minahasa sebagai perwakilan Minut untuk menentukan pejabat Minut waktu itu. Kebijakan SVR ada figur yang ditujukan. “Saya ditunjuk sebagai motor untuk mendukung satu figur, yaitu bapak Tirayoh,” ujar Dewo.
Kemudian, Dewo bersama-sama pak Tirayoh pada pukul 22.00 Wita, mencari pak Sius dan pak Kodoati untuk pergi ke Jakarta. Kelengkapan administrasi dibawa, dengan dokumen yang cukup tebal meminta agar jadi pejabat.
“Hari berganti hari, banyak fakta terbalik. Apa yang kami buat seakan-akan tak bernilai,” kata Dewo.
Menurut Dewo, ada perbalikan fakta yang luar biasa, dirinya merasakan tak berbanding lurus dengan apa yang ada, malahan dirinya mendapat diskriminasi, namun menurut Dewo itulah arti perjalanan, perjalanan di partai tak mulus.
“Tahun 2000, saya juga pernah mau diganti sebagai sekretaris partai, sudah terjadi pergantian, dan wakil ketua ingin digantikan. Syukur tidak terjadi,” kata Dewo
Masuk tahun 2009, menurut Dewo adalah tahun paling tragis yang dialaminya berkarir di dunia politik bersama partainya.
“Sekretaris partai ada, pernah ragu-ragu. Tapi kalau saya, SVR tumbang saya ikut tumbang. Makanya acara ini saya sebut kebebasan dan kelepasan,” ungkap Dewo. (robin tanauma)
