“Kami tidak memikirkan ingin pulang ke Manado, apalagi panik. Semuanya santai dan berdoa,” cerita Kaunang.
Dikatakan, komunikasi antar Kawanua di New York, tetap berjalan via daring. Mereka saling berbagai cerita apa saja yang dilakukan selama lockdown.
“Semuanya saling menguatkan. Kami tertawa dan bercanda. Pokoknya orang Manado kuat,” bebernya.
Luar biasanya, lanjut Joutje, sampai hari ini ia tidak pernah mendengar ada warga Kawanua yang positif COVID-19.
“Bagi kami ini luar biasa. Apalagi di saat jumlah positif COVID-19 Amerika tertinggi di dunia. Ini membuktikan Kawanua adalah warga yang taat,” tutur Joutje.

Warga Kawanua di Amerika tetap solid di tengah pandemi
Yvone Mewengkang, juga berbagi cerita yang sama. Mantan Wakil I Noni Sulut ini mengatakan jumlah pasien positif yang masuk rumah sakit mulai menurun.
“Sekarang lebih aman. Berbeda dengan beberapa pekan sebelumnya,” katanya. Yvone sendiri bekerja di New York pada kantor Diplomat Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB.
Berdomisili Queens, dirinya juga merasakan kelamnya saat pandemi melanda.
“Sejak 13 Maret sudah bekerja di rumah. Toko-toko yang dianggap tidak penting harus tutup semua. Kami pun lebih waspada dan memilih rumah sebagai tempat paling aman,” kisahnya.

Kata Yvone, kondisi terkini lebih terkendali. Namun, orang-orang yang keluar harus tetap menggunakan masker.
“Kalau ada yang kumpul-kumpul langsung diamankan,” ungkapnya.
Yang pasti tambah Yvone, kondisi warga Kawanua di Amerika tetap solid di tengah pandemi.
“Kami terus berdoa memohon perlindungan Tuhan dan berharap agar cobaan ini segera berlalu,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
Baca juga:
- Jadi yang Terbaik, Erica Kaunang Terpilih Ikuti Seminar Mahasiswa se-Amerika Serikat
- Erica Kaunang, Gadis Jenius di AS Berdarah Sulut Kembali Catat Prestasi
- Erica Kaunang, Salah Satu Gadis Paling Jenius di AS berdarah Sulut
