BeritaManado.com – Berita Terkini dari Manado

Catatan DINO GOBEL: OLLY DONDOKAMBEY Sukses Buka Gerbang Utara Pasifik

July 10
05:21 2018

 

Dino Gobel bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey

 

Catatan dinihari Dino Gobel.

“SULAWESI UTARA
4 Juli 2016”

* Sekilas tentang Pariwisata Sulut Bangkit,
Gubernur Olly Mendobrak
Birokrasi Jakarta dan
Gerbang Utara Indonesia
ke Asia Pasifik Resmi Terbuka

Judul tulisan di atas ini tak bermaksud memuji berlebihan atau malah mengkultuskan sosok Olly Dondokambey selaku Gubernur Sulut saat ini. Sebab sebagai seseorang yang dibentuk dari background jurnalistik yang mengedepankan fakta sebagai sebuah bahan tulisannya, saya mau menegaskan melalui judul dan catatan kecil ini adalah sebuah review peristiwa 4 Juli 2016 lalu atau dua tahun lalu.

Saat Gubernur Olly, bersama pasangan kepemimpinannya di Sulut Wagub Steven Kandouw, berhasil menjadikan Sulawesi Utara sebagai Pintu Gerbang Indonesia di bagian utara, untuk masuknya arus wisatawan dan investasi nan potensial dari pasar ekbis di Asia Pasifik bahkan hingga ke Eropa Timur.

Dan itu sebuah fakta sejarah yg harus dituliskan, minimal bagi sy dengan background jurnalistik yg mengikuti langsung dan menyaksikan jatuh bangun menuju keberhasilan dari peristiwa itu hingga kini.

Keberhasilan yg sy maksudkan itu ditandai dengan resmi dimulainya penerbangan langsung Lion Air dari sejumlah kota di daratan China Selatan. Lion Air saat itu membawakan gak kurang dari 1000 turis China melalui MM Travel selaku perusahan Charter flight.

4 Juli 2016

Saat itu saya tak bisa melupakan nya. Karena kebetulan, Gubernur Olly, melalui Wagub Steven Kandouw dan Kadis Pariwisata Sulut saat itu, Joy Happy Korah, ikut mempercayakan saya berada dalam sebuah tim kerja yang ikut menangani persiapan kedatangan turis China.

Tepat jam 07.15 wita, Lion Air jurusan Guangzhou landing. Kemudian disusul dua penerbangan Lion berikutnya dari Changsa dan Chongchin, suasana meriah berupa atraksi tarian dan musik bambu yang disiapkan Dinas Pariwisata Sulut ramai menyambut. Arus turis China yang tampak antusias meski kelelahan setelah terbang 3.5 jam dari negaranya mengalir keluar dari pintu kedatangan internasional.

Setelah 3 flight Lion air, kemudian menyusul satu flight Sriwijaya Air dan Citilink. Semua adalah Charter flight ketika itu.

Wajah Direktur / Asdep Pasar Tiongkok Kementrian Pariwisata RI Vincent Jemadu yang saat itu ditunjuk mewakili Menteri Pariwisata RI Arief Yahya, tampak tegang. Matanya tak berhenti menatap aplikasi Flight Radar 24 di smartphonenya. Mengontrol penerbangan ketiga flight Lion Air pertama yang tiba perdana dari China.

“Sulut mencatat sejarah. Tak ada yang pernah menyangka, Sulut akan menjadi gerbang masuknya wisatawan dan investasi asing dari utara,. Sebab selama ini yang terjadi hanyalah Bali dan Jakarta sebagai pintu masuk. Tapi kali ini, Sulut telah membuktikan bisa, ini sebuah sejarah,” kata Vincent Jemadu saat itu.

Diapun menambahkan, keberhasilan ini tak lepas dari komitmen Gubernur Olly yang meski baru 5 bulan memimpin Sulut saat itu, bisa melakukan terobosan dalam bentuk lobi kuat di Jakarta.

Apa yang dikatakan Jemadu tepat. Pariwisata nasional bahkan dunia terbuka mata lebar. Pesimisme bahwa pariwisata Indonesia akan stuck karena keterbatasan pintu masuk, yang selama ini hanya andalkan Bali dan Jakarta yang bandara dan obyek wisata nya kian ramai dan tak nature lagi, ternyata menghasilkan spirit baru. “There’s a new Bali on North, Indonesia” tulis seorang blogger China tentang Sulut.

Dan hingga kini, arus wisatawan asing selama 2 tahun lebih sudah mencapai hampir 300 ribu orang. (Juli – Desember 2016, 42 ribu turis.asing. 2017 150 ribu turis. 2018 sampai Juni 60 ribu orang).

70 persen, dari China. Sisanya Eropa dan Amerika serta Australia dan lainnyam Spirit tourism for All People, dikumandangkan Gubernur Olly. Terbukti, kebijakan paket wisata optional, atau ada dua hari dari lima hari masa tinggal turis khususnya China di Sulut, haruslah melibatkan tour operator dan usaha rakyat lokal, terus diterapkan.

Serapan tenaga kerja pun melonjak dari sisi sektor jasa yang identik dengan hotel, dive, restoran hingga transportasi dan lainnya. Lompatan profesi kerja dari pegawai sebuah perusahan kini berpindah dalam bisnis wisata.

Membuka restoran. Bisnis perikanan dan petani sayur meningkat pendapatan karena serapan konsumsi naik. Ibu rumah tangga di Kanonang Kawangkoan dan Rurukan Tomohon beralih ke kerja di obyek wisata. Dan masih banyak contoh fakta positif lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut malah menaksir, spending money turis pun naik selama di Sulut. Dari rata2 Rp10 jt per orang naik menjadi Rp15 juta sampai rp25 juta untuk China dan lebih bagi turis Eropa dan lainnya. Ini karena masyarakat umum kian kecipratan dan menyadari dampak positif kemajuan pariwisata ke daerah ini.

“Sulawesi Utara kini gerbang Utara di Indonesia. Pintu masuk bagi pelintasan bisnis dan dinamika ekonomi antar benua dari Asia dan Eropa timur menuju Australia hingga One Belt One Road, akan melalui Sulawesi Utara,” kata Presiden Joko Widodo.

Yah. 4 Juli 2016, adalah momentum kemajuan pariwisata Sulut bangkit dan ikut menjadi motor kemajuan ekonomi, entaskan kemiskinan dan pengangguran yang terus terjadi hingga kini.

Ekspresi bahagia, meski sempat terlihat tegang, saya saksikan di wajah Gubernur Olly saat flight pertama dari China tiba di Manado saat itu. Berulangkali orang nomor satu di Sulut ini menghela napas dan berkata ke tim Dispar saat itu, Joy Korah, Ferry Sangian (sekarang Kadis Kebudayaan Sulut), Voura Vivera Kumendong dan Edward Sibuea dan saya, apakah penyambutan dan penanganan turis akan baik saja. Juga kepada owner MM Travel selalu Charter flight Lion Air Chandra Bong, dan timnya Brooklyn Leo Tator dkk.
“Torang bisa untuk Sulut,” saya ingat kalimat Gubernur Olly dengan bahagia namun tenang diutarakan kemudian saat turis mulai berjalan.

Tak mudah perjuangan Gubernur Olly mewujudkan keberhasilan ini. Wagub Steven Kandouw pun bercerita, “Untuk membangun pariwisata, Pak Gubernur sudah memikirkan amaalah konektivitas pesawat terbang langsung harus diwujudkan. Lalu kendala bandara tidak 24 jam saat itu, dan bukan Bandara Visa on Arrival hingga perijinan alot penerbangan langsung yg kurang lazim dilakukan di luar Jakarta dan Bali.

Semuanya itu diterobos Pak Gubernur. Tantangan gak sedikit. Kasarnya, Pak Olly sampai ngotot memggebrak meja birokrasi yang menghalangi kemajuan rakyat dan daerah di Sulut melalui Charter flight ke Sulut saat itu.” Kata Wagub Steven Kandouw dengan nada tinggi. “itu semua membutuhkan lobi dan network di pusat dan hanya pak Olly yang mampu begitu, tegas Wagub Kandouw.

Di sisi lain. Saat pariwisata mulai dihidupkan, tantangan berupa sindiran hingga cercaan pesimisme dengan tudingan mengada ada dilontarkan segelintir oknum..mulai dari hujatan pariwisata akan gagal karena turis tak akan betah akibat infrastruktur dan atraksi budaya yang kurang hingga kotornya obyek wisata. Semua itu dihadapi Gubernur Olly dan tim ketika itu sembari menjadikan semua itu sebagai masukan positif. “Tetap maju dan membenahi apa yang kurang.” Pesan gubernur Olly berulangkali.

4 Juli 2016 adalah momentum emas kemajuan pariwisata bahkan perekonomian Sulut.
Memang hingga kini saat turis kian ramai. Berbagai keluhan menyeruak semisal kian kotor Bunaken, dan obyek wisata yang tak terurus hingga hospitality no smile di banyak restoran dan fasilitas akomodasi.

Kenapa ini terjadi?
Yah. harus diakui, Pemerintah punya keterbatasan dari sisi pengelolaan dana hingga SDM nya yang masih gak ngerti tupoksi nya dalam soal kelola pariwisata, seperti promosi, destinasi hingga sinerjitas kelembagaan.

Sisi lain, masyarakat kita pun masih berada dalam mindset lama, bekerja di bidang jasa sebagai pelayan masih “kelas dua” atau batu loncatan. Sebab menjadi pegawai negeri, ASN adalah nomor satu. Inilah pemicu berbagai persoalan di atas.

Apakah terhadap semua kekurangan itu kita akan menyerah? Saling menyalahkan?
Jangan. Ayo Torang semua maju terus. Bersama melengkapi yang kurang. Bersama menguatkan kendala yg ada. Lakukan lah inovasi untuk perbaikan atau doakanlah bagi yang sedang bekerja membangun pariwisata. Pariwisata untuk semua.

4 Juli 2016. Kini sudah 2 tahun lebih.
Puji Tuhan. Alhamdulilah..hingga kini, kemajuan telah terjadi. Kalau di atas tadi saya menyodorkan tentang kemajuan bdk fakta angka sebagai sebuah dampak, maka dari sisi politis pemerintahan, tampak jelas sinerjitas dan kerjasama penuh kekompakan terjadi antara Gubernur. Wagub dan para Bupati Walikota se Sulut. Semua Bersinerji dan menopang kemajuan pariwisata.

Terbukti, ada begitu byk aneka atraksi dan even wisata kian dihidupkan. Beberapa contoh. Manado kini punya Manado Fiesta. Tomohon dengan Toirnament of flower. Minahasa dengan Pesona danau Tondano hingga Bolsel dengan Fest Tomini dan Bolmut Batu Pinagut. Dan banyak Iven lagi.

Di sektor swasta? Kekompakan juga terlihat. ASITA dan asosiasi lainnya seperti HPI, Asppi. Trabsportasi hingga PHRI Saling topang dan bersatu. “Ini kesempatan emas yang harus kami topang karena dampaknya sudah kami rasakan,” kata Ketua ASITA Sulut Merry Karouwan.

Tim ahli tampil sebagai guidence dalam mendampingi pembangunan pariwisata. Peran para guru besar pariwisata seperti Prof In Tourism DR Betel Lagarense dan Prof DR Charles Kepel sangat memotori pendampingan. “Tourism for All. Suluy hebat. Jangan lelah,” berulangkali Prof Bet, profesor pariwisata pertama di Indonesia selalu menyemangati.

Pariwisata maju, pastilah banyak kebaikan akan kita alami bersama. “Pariwisata maju. Dengan sendirinya kemiskinan dan perekonomian akan maju pula, kata Menteri pariwisata Arief Yahya.

Mari terus memajukan pariwisata Sulut dengan kekurangan yg masih ada.
Saya ingat motivasi Gubernur Olly yang pernah disampaikan nya kepada saya dan Hendrik Warokka yang saat itu sebagai Kadispar Manado, saat berdiskusi di kediaman Gubernur Olly di suatu malam tahun 2017 lalu.

“Jangan kita lelah bahkan kemudian menyerah dengan sebuah kerja bagi kebaikan banyak orang. Apalagi di pariwisata ini. Tetaplah bekerja. Apapun kata orang. Tuhan punya cara istimewa untuk kita yang bekerja bagi kemuliaan Nya,” pesan Gubernur Olly malam itu.

So. 4 Juli 2016. Adalah momentum emas. Dan sekarang sudah 9 Juli 2018.
Mestinya tepat pada 4 Juli 2018 lalu, saya harus menuliskan momentum ini, tapi karena keterbatasan waktu dan fasilitas internet di China dimana saya bertugas beberapa hari lalu, membatasi penulisan saya tentang sejarah ini.

Pariwisata Sulut terus lah maju.
Gerbang Utara Indonesia di Sulut sudah dibuka melalui gebrakan Gubernur Olly. Ada begitu banyak peluang tercipta bagi kebaikan khususnya perbaikan perekonomian daerah kita. Mari kita bergegas..penuh semangat. Berinovasi bersama untuk kemajuan daerah tercinta.

Jayalah pariwisata Sulawesi Utara.
Majulah Pariwisata Sulut Hebat.
Mata dunia sedang menuju Sulut.

 

 

 

Baca juga Catatan Dino Gobel lainnya:

 

 

 

 

 

 

 

Ads




0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

fourteen − seven =