Bolmong Raya

Catatan Dino Gobel: Kejutan Batu Pinagut dan Sebutan Henry: “Bolmut Serambi Pariwisata Sulut”

Dino Gobel saat berada di Batu Pinagut
Dino Gobel saat berada di Batu Pinagut

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) sebagai salah satu destinasi wisata menarik di wilayah Bolmong Raya, begitu cepat berbenah.

Rabu (17/5/2022) lalu, saya kembali tiba di Boroko, ibukota Bolmut. Terakhir saya ke sini. Tahun 2019. sebelum pandemi Covid19 melanda. Hampir tiga tahun lalu.

Siapa sangka? Hampir tiga tahun dilanda pandemi berkepanjangan, Bolmut berubah wajah: jauh lebih cantik. Tampilan kota Boroko dan kota kota kecil sekitarnya seperti Bintauna dan Bolangitang, kian menawan. Segar.

Bolmut merupakan salah satu kabupaten dari 15 kabupaten dan kota di provinsi Sulut. Kabupaten berpenduduk sekitar 96 ribu jiwa ini berada tepat di perbatasan Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Bolmut. Saya terpesona bukan main

Secara geografis berada di punggung Utara Pulau Sulawesi. Wajahnya berhadapan langsung dengan samudera Pasifik.

Tiba di sini. Bolmut. Saya terpesona bukan main.

Polesan infrastruktur berubah. Kian maju. jalan nan bersih serta tertata rapi, ditambah berbagai bangunan fisik fasilitas umum seperti lapangan kembar Boroko, jalan dua jalur yang banyak bertebaran di wilayah ini, hingga destinasi wisata Batu Pinagut, kian kinclong!

Saya merasakan perubahan ini. Sebab, sebelum Sulut ikut dihajar Pandemik Covid19, saya termasuk yang sering traveling ke Boroko. Tak ada lagi kesan “suram” hingga “kusam” karena rusaknya jalan dan minimnya fasilitas penunjang dijumpai khususnya di ibukota Boroko.

“Bolmut banyak berbenah selama pandemi ini. Jangan ada kata menyerah karena covid, itu selalu yang dipesankan Pak Bupati Depri Pontoh kepada masyarakat dan jajaran pemerintah,” kata Kadisparbud Bolmut Noval Djarumia, dalam cakapan dengan saya.

Kejutan dari Boroko tak sampai di situ saja. Sebab saat gelaran acara Festival Batu Pinagut (FBP) Kamis (19/5/2022) kemarin, perubahan jauh lebih menawan terlihat dalam kemasan acara FBP. Ini merupakan gelaran FBP tahun keempat.

Sebab dua tahun berturut turut sejak dilaksanakan di 2016-2019, FBP kemudian dihentikan pelaksanaanya karena Pandemi di 2020. Dan selama gelaran di kurun waktu itu, FBP masih sebuah even seremonial kedaerahan semata. Kemasannya kelas lokal. Ketika itu.

Siapa sangka? Di FBP kemarin, saya yang mengikuti dari tahun awal dilaksanakan, dibikin takjub. Kemasan acara pembukaan hingga stage expo dibikin sedemikian rupa menarik. Areal panggung rigging hingga background tivi raksasa LED ditunjang sound menarik.

Membuat saya geleng kepala. MC ga kaku lagi kayak dulu. Ini lebih menarik. Fleksibel memilih kata. Dirangkai menarik. Pun sajian video yang ditampilkan saat itu berkelas. Tidak buffering. Kabur karena saduran gambar YouTube.

Ini dikemas apik. Gambarnya berkualitas. Tidak pecah. Angle dan spot tampilan tepat. Bagus.

Salut deh. Event organizer lokal bersinerji dengan EO dari provinsi tetangga, Gorontalo, menjadikan kemasan acara serasa anda lagi menonton acara festival mirip pembukaan Tomohon International Flower Festival (TIFF) atau Manado Fiesta.

Salut Bolmut, bisik saya dalam hati. Kagum dan ikut bangga. Ini sebuah gelaran even kelas nasional dari Bolmut!

Lebih istimewa lagi. Di balik menariknya kemasan FBP, jangan pernah berpikir bahwa acara ini dihandel para ASN Dispar atau Pemkab. Tidak. Justru di sinilah suksesnya. Acara tersebut ikut diarrange masyarakatnya.

Para pemuda pemudi dan warga lainnya yang tergabung dalam berbagai komunitas, asosiasi lokal, dilibatkan dalam kepanitiaan ini. “Ini acara dari dan untuk masyarakat juga,” kata Sekda Bolmut Dr Jusnan Mokoginta MARS, Sahabat saya. Kolaborasi Pentahelix pariwisata, betul berlaku.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara