
Manado – Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yanya minta Pulau Bunaken sebagai salah satu icon pariwisata Sulawesi Utara harus bersih, terbebas dari sampah.
“Saya minta Gubernur Sulut harus dibantu oleh Wali Kota Manado dalam upaya membersihkan objek wisata Bunaken, agar benar-benar menjadi bersih dan terbebas dari berbagai jenis sampah,” ujar Arief Yahya saat menutup pelaksanaan Festival Pesona Bunaken sekaligus membuka Fsstival Pangan non-Beras Sulut di Manado Town Square (Mantos), Jumat pekan lalu.
Dia menambahkan hal ini salah satu penyebab sehingga Bunaken tidak masuk 10 destinasi daerah tujuan wisata di Indonesia, karena sangat kotor.
Oleh karena itu dia menjelaskan agar siapa saja harus mendukung geliat keberhasilan pariwisata Sulut, yang di motori Gubernur dan Wagub Sulut.
(Baca juga: Save Bunaken, OLLY DONDOKAMBEY Ajak Masyarakat Tidak Buang Sampah/Limbah Plastik)
Diapun mengapresiai kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw meskipun baru beberapa bulan memimpin daerah ini, tapi telah berhasil mendatangkan ribuan wisatawan asing dari Tiongkok (China).
“Kedua pemimpin baru Sulut ini sangat memahami benar membangun daerah lewat sektor pariwisata masih lebih mudah ketimbang lewat sektor-sektor lainnya. Sehingga pemerintah pusat patut memberikan apresiasi positif kepada Pak Olly Dondokambey dan Steven Kandouw,” terangnya. (***/rizath polii)

JOROOOOK…
Susah amat sih nyebutnya
Eh mas…
Setahu saya anak2 dan orang orang kampung asli di sepanjang aliran sungai sangat TAHU sekali bagaimana menjaga lingkunagan terutama sungai…..
Nda benar apa yang kau bilang itu bahwa orang kampung orang desa dan tidak moderen yang memnyebabkan penuhnya sampah2 di aliran sungai di kota Manado.
.
Coba anda telusuri sungai dari Manado ke hulu…ketika anda berada di luar kota memasuki pedesaan anda tidak akan mendapatkan tumpukan sampah atau sungai masih bersih sebelum memasuki area kota Manado. Kalaupun anda menemukan sampah di pinggir sungai sampah itu adalah sampah yang di bawa orang kota ke pedesaan dan di buang di sana… Makanya kalau daerah kota Manado penuh sampah biarkan masyarakat Mando sendiri yang menanggung BANJIR nya…orang desa di hulu akan bilang EGP, sampah sampah dari masyarakat Kota Manado sendiri ya rasain sendiri akibatnya.
AssLekumRtWb,
Saya sdh berulang-uland mengusulkan kebesihan diutamakan di manado sebagai gerbang pariwisata Sulut. Sampah adalah produk penduduk setempat yang berbudaya emosional pedesaan yg tdk moderen. KAlau org moderen sampah dibuang pd tempatnya. org setempat malas, kuno, bermental emosional pedesaan tidak rasional. kalau orang moderen dia akan membuang sampah pd tempatnya. di manado saya observasi ada org bermobil mewah di jln raya tiba2 buka kaca mobil dan buang sampah di jalan raya baik tisu, puntung rokok, bekasan aqua, kaleng minuman, dll. itulah org kampungan bermental pedesaan. soalan lain di manado banyak got/saluran air (mampat) krn pedagang makanan, umum, buang sampah basah dan kering di situ (brengsek!). Saya observasi pedagang di pantai dekat MTC suka buang sampah di bibir pantai berbatu (brengsek!!!!) dan si pembuang sampah katanya nanti lapor ke kok dan ci pedagang org Cina (brengsek). Kalau sungai2 di manado yg dicurigai paling menyumbang sampah ke pantai, ini karena penduduk di hulu dan sepanjang aliran ke manado berbudaya sungai sebagai tempat sampah. Sdr Lumentut harus kerja sama dgn bupati Minahasa utk menghukum tegas para pembuang sampah. Memalukan memang, bilang manado kota pariwisata dunia tapi penduduknya bermental kampung. Saya pernah beberapa kali usul di RRI agar penduduk manado minahasa pd isi kepalanya ada budaya mendukung “kebersihan dan keindahan, akan menjadikan adanya kesehatan yg baik. Inimimpi barangkali, tapi jelas pariwisata sulut manado harus dibangun dengan mental manusia berisi pengetahuan itu. Wass