
Kawangkoan, BeirtaManado.com — Penemuan hewan endemik Tarsius di sela-sela kegiatan kerja bakti pembersihan tebing gua Jepang Kiawa, Sabtu (15/2/2020) kemarin cukup mengejutkan masyarakat Kawangkoan Utara dan bahkan Minahasa.
Berdasarkan wawancara eksklusif kepada beberapa sumber informasi di kompleks Gereja KGPM Sidang Solagratia Kiawa, Minggu (16/2/2020), kronologi penemuan Tarsius yang selama ini hanya diketahui ada di wilayah objek wisata alam Batu Putih Bitung dan sekitarnya, ternyata ada juga di wilayah Minahasa khususnya Kawangkoan Utara.
Menurut salah satu anggota Jemaat Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Sidang Solagratia Kiawa Elvis Polii yang pertama kali melihat Tarsius dibalik ranting-ranting pohon yang akan dibersihkan bahwa hewan tersebut mungkin terkejut saat parang memotong ranting-ranting di tebing gua.
“Ketika kami memotong ranting-ranting di tebing saya melihat seekor Tarsius melompat ke ranting yang lain sambil mengeluarkan suara khas hewan dilindungi itu. Saat itu saya mengatakan kepada teman-teman lain yang sama-sama berada di tebing bahwa ada Tarsius,” ungkap Elvis Polii.
Selanjutnya anggota jemaat lainnya Fandri Tani yang mengetahui hal tersebut mencoba mengejar Tarsius tersebut ke bagian atas tebing dan ternyata benar bahwa hewan itu ada di balik ranting pohon.
“Saya mengambilnya dan membawa ke bawah dan menyerahkan ke tangan Ketua Kaum Bapak KGPM Solagratia Kiawa dengan maksud untuk diamankan sementara waktu,” kata Fandri Tani.
Sementara itu, Ketua Pria Kaum Bapak KGPM Sidang Solagratia Kiawa Pnt. Jantje Kembau kepada BeritaManado.com mengatakan bahwa saat pertama kali memegangnya, Tarsius tersebut tampak jinak.
“Setelah beberapa menit kemudian terdengar suara Tarsius lainnya di atas tebing dan saat yang bersamaan hewan langka yang saya pegang seperti berupaya untuk melepaskan diri sambil mengeluarkan suara. Bahkan jari telunjuk saya digigitnya sampai berdarah,” tutur Jantje Kembau.
Demikian juga dengan yang dikatakan Pnt. Joudi Polii melengkapi informasi tentang kronologi peristiwa tersebut bahwa hal itu terjadi saat Komisi Pria Kaum Bapak dan Wanita Kaum Ibu menggelar kegiatan partisipatif untuk membersihkan tebing gua Jepang Ranowangko Kiawa sebagai implementasi kepedulian gereja untuk menyelamatkan kondisi jalan yang sudah cukup mengkhawatirkan keselamatan pengguna jalan.
“Benar yang disampaikan sebelumnya bahwa Tarsius itu ditemukan dibalik ranting-ranting yang hendak ditebang saat kerja bakti pembersihan tebing gua minggu yang kedua, sebab pekerjaan ini juga sudah dilakukan pada hari yang sama di minggu yang lalu, akan tetapi saat itu tidak terlihat Tarsius. Saat ditemukan, kami mencoba untuk menyelamatkannya, karena itu hewan yang sangat dilindungi. Saat itu kami tidak mengetahui pihak berwenang dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sulut. Maka kami mendokumentasikan Tarsius ini dan mengupload di facebook dengan harapan bisa dilihat oleh instansi yang berwenang. Saat diposting di Grup KGPM langsung ada tanggapan dan mencoba membantu menghubungkan dengan pihak BKSDA Sulut,” kata Joudi Polii.
Ditambahkannya, pihak BKSDA Sulut mengatakan bahwa bisa dipastikan bahwa Tarsius yang ditemukan tidak sendirian melainkan memiliki kawanan kecil dan hal itu memang dibenarkan oleh beberapa anggota PKB KGPM Solagratia yang mengetahui keberadaan Tarsius itu dan di saat yang bersamaan pihak BKSDA kembali menghubungi dan menyarankan sebaiknya hewan tersebut dilepaskan saja agar tidak stress yang memungkinkan bisa menyebabkan mati.
“Saat kami berkomunikasi, pihak BKSDA Sulut bertanya Tarsius yang ditemukan ditempatkan di mana dan kami menyampaikan di dalam sebuah tempat kecil mirip dengan perangkap tikus yang dibeli di Pasar Kawangkoan. Selanjutnya kami melepaskan hewan itu sebagaimana petunjuk BKSDA Sulut. Saat dilepas, pergerakan Tarius itu tampak sangat lincah melompat dari ranting ke ranting
dan tidak menunjukkan tanda-tanda stress. Kami juga berterima kasih secara khusus kepada wartawan BeritaManado.com yang sudah membantu mempublikasikan penemuan Tarsius ini,” jelas Polii.
Tidak ketinggalan pada kesempatan wawancara tersebut, Gbl. Fintra Mamitoho selaku Ketua Pimpinan Majelis Sidang Solagratia Kiawa bahwa sebagai warga gereja dan masyarakat yang baik, pihaknya merasa wajib untuk melindungi alam dan seisinya termasuk hewan Tarius yang ditemukan itu.
“Warga masyarakat Kawangkoan patut bersyukur karena di tengah-tengah kondisi alam yang jika dibandingkan dengan tempat lainnya tidak memungkinkan Tarsius hidup karena sangat ramai dengan kendaraan yang melintas serta sangat dekat dengan kawasan pemukiman penduduk, namun ternyata hewan ini bisa hidup dengan baik. Kesimpulannya atas penemuan ini bahwa sebagai warga gereja yang diajarkan untuk turut menjaga alam, maka diambilah keputusan untuk melepaskan Tarsius yang ditemukan itu sebagaimana saran dari BKSDA Sulut,” ujarnya.
Disampaikan juga bahwa Komisi PKB KGPM Solagratia Kiawa siap mendampingi pihak BKSDA Sulut untuk datang melakukan penelitian di lokasi penemuan Tarsius dan kawasan Perkebunan Paso yang juga menurut beberapa anggota jemaat pernah melihat hewan dilindungi tersebut.

Tarsius tarsier, Tarsius spectrum atau Tangkasi
Pakar keanekaragaman hayati (biodiversitas) dari Fakultas Pertanian UNSRAT Manado Dr. Ir. Johny S. Tasirin, M.Sc. kepada BeritaManado.com mengatakan bahwa hewan yang ditemukan tersebut adalah Tangkasi yang memiliki nama ilmiah Tarsius tarsier.
“Sinonim dengan nama lamanya Tarsius spectrum,” kata Johny Tasirin.
Menurut Johny Tasirin, hewan ini sama jenis dengan yang ada di Tangkoko hingga Bolmong.
