Berita Utama

6 Praktisi dan Pemerhati Pemilu di Sulut Launching Fokus Demokrasi Lentera

6 Praktisi dan Pemerhati Pemilu di Sulut Launching Fokus Demokrasi Lentera
Enam inisiator terbentuknya Fokus Demokrat Lentera.

Manado, BeritaManado.com – Satu lagi lembaga riset dan konsultasi hadir di Sulawesi Utara (Sulut).

Adalah Fokus Demokrasi Lentera (FDL) diinisiasi oleh 6 praktisi dan pemerhati pemilu asal Sulut, masing-masing, Harsen Roy Tampomuri (Direktur Eksekutif), Josef Kairupan (Direktur Riset), Yaya Piri (Direktur Komunikasi dan Keuangan), Pangasihan Santo Amisan (Direktur Media dan Branding), Ferry Daud Liando (Peneliti Utama) dan Johny Peter Lengkong (Peneliti Utama).

FDL Research and Consulting resmi dilaunching di Cafe Warung Kobong, Jl Pumorow, Teling, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (21/6/2023) sore.

ADVERTISEMENT

Launching Fokus Demokrasi Lentera dikemas dalam sebuah diskusi yang menghadirkan Anggota DPRD Sulut Melky Pangemanan, serta sejumlah pemerhati pemilu juga pers.

“FDL pada dasarnya memberikan konsultasi dan pendampingan berupa kebijakan dalam strategi politik, menjadi penghubung sektor pemerintah maupun swasta, serta usai pemilu, FDL tetap konsisten memberikan peran misalnya mendampingi untuk konsultasi politik,” ujar Direktur Eksekutif, Harsen Roy Tampomuri.

6 Praktisi dan Pemerhati Pemilu di Sulut Launching Fokus Demokrasi Lentera
Launching FDL, Rabu (21/6/2023) di Manado.

Tenaga ahli di parlemen yang kini dalam studi S3 di Universitas Indonesia ini menjelaskan, FDL merupakan paket komplit.

“Paket komplit di FDL ini bisa kita sendikan untuk klien yang ingin kerja sama dengan kami, kita datang dari kalangan aktivis, akademisi dan jurnalis,” ujarnya.

Meski berpengalaman di beberapa lembaga survei nasional, Harsen menegaskan FDL memiliki standar khusus untuk calon kepala daerah maupun legislatif yang menjadi klien.

“Kami punya standar sehingga para calon yang kami tampilkan ke publik tentu berkualitas,” tambahnya.

Memperkuat pernyataan itu, Direktur Media dan Branding FDL, Pangasihan Santo Amisan menyebutkan bila FDL mengedepankan tiga poin penting yaitu kata, data dan kerja nyata.

Ini akan menjadi modal kuat bagi FDL sebagai lembaga riset dan konsultasi untuk memberikan beberapa layanan, menjadi rujukan dari politisi, masyarakat, akademisi dan jurnalis untuk menjadi peta politik di Pemilu 2024.

“Demokrasi itu bukan hanya tugas dari aktor pemerintahan tapi peran dari aktor non pemerintahan seperti LSM, perguruan tinggi, calon legislatif dan jurnalis,” jelas Santo.

Di sisi lain, Direktur Riset FDL, Josef Kairupan memastikan hasil riset yang dihasilkan akan akurat, berbekal jaringan luas di seluruh wilayah Sulut.

“Memang masalah di beberapa wilayah belum ada layanan internet, namun kami punya jaringan dimanapun, hingga ke Miangas. Sehingga hasil riset yang akan kita lakukan menghasilkan 95 persen keakuratan, dapat dipercaya karena menggunakan kajian ilmiah,” jelas Kairupan.

Di tempat yang sama, Yaya Piri mengatakan FDL adalah lembaga independen, mampu memberikan kontribusi yang nyata.

“Baik aspek ekonomi dan politik untuk rasa cinta kita terhadap Sulut,” kata pria lulusan Unsrat Manado sekaligus merupakan Kepala Biro SCTV/Indosiar Manado ini.

(Finda Muhtar)