
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung, Ny. Ellen Honandar Sondakh, SE, menegaskan pentingnya peran keluarga dalam menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah rumah tangga.
Penulis: Syarif Umar l Bitung
Tim Penggerak PKK Kota Bitung bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bitung terus memperkuat gerakan peduli lingkungan melalui pelatihan pembuatan kompos dari sampah rumah tangga yang digelar di Kelurahan Girian Atas, Kecamatan Girian, Senin (18/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pelatihan pengelolaan sampah organik yang dilaksanakan serentak di 69 kelurahan se-Kota Bitung. Para peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bernilai guna dan ramah lingkungan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung, Ny. Ellen Honandar Sondakh, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung Merianti Dumbela, Camat Girian Rukman Rasyid, Ketua TP PKK Kecamatan Girian Siti Zubaidah Rasyid Yahya, Kabid Pengelolaan Sampah Leberty Rimbing, Lurah Girian Atas Steven Mamesah, Ketua Pokja III TP PKK Kota Bitung Ny. Tenti Suak Sakul, Ketua Bidang III TP PKK Jeanne Pingkan Rumambi Sondakh, Anggota Pokja III TP PKK Rine Wongkar Sigarlaki, serta masyarakat dan tamu undangan lainnya.
Ketua TP PKK Kecamatan Girian, Siti Zubaidah Rasyid Yahya, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Ketua TP PKK Kota Bitung bersama jajaran. Ia juga mengaku bangga melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti pelatihan pengolahan sampah rumah tangga tersebut.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Bitung, Ellen Honandar Sondakh, SE, menegaskan bahwa persoalan sampah rumah tangga harus menjadi perhatian bersama dan dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
“Melalui pelatihan ini, saya berharap para kader PKK dan masyarakat dapat memahami cara mengelola sampah rumah tangga menjadi kompos yang bermanfaat. Selain membantu mengurangi volume sampah, kompos juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman dan penghijauan di lingkungan sekitar,” ujar Ellen.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan pelatihan kelima yang dilaksanakan TP PKK Kota Bitung di tingkat kelurahan sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan.
Menurut Ellen, kader PKK harus menjadi motor penggerak perubahan di tengah masyarakat, khususnya dalam mengedukasi warga tentang pentingnya pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan.
“Pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos bukan hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi serta menjaga kebersihan lingkungan. PKK harus menjadi pelopor dalam membangun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Bitung bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dan DLH Kota Bitung telah menjalin kerja sama terkait pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Langkah tersebut dilakukan karena kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Aertembaga semakin penuh.
“Karena itu saya meminta masyarakat, khususnya di Girian Atas, agar mulai mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA,” tambah Ellen.
Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bitung, Merianti Dumbela, juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dan perhatian dari Ketua TP PKK Kota Bitung terhadap program pengelolaan sampah di daerah.
“Kami juga mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang telah diberikan oleh Ibu Ketua TP-PKK. Perlu saya sampaikan bahwa PKK bukan hanya untuk ibu-ibu saja. Kalau dulu banyak yang menganggap PKK itu hanya identik dengan mama-mama, sekarang tidak lagi. Bapak-bapak juga bagian dari PKK. Karena itu, jangan lagi berpikir bahwa PKK hanya milik kaum ibu,” ujar Merianty Dumbela.
Merianti juga menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait adanya keterlambatan pengangkutan sampah di beberapa wilayah di Kota Bitung dalam beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, DLH menerima sejumlah keluhan masyarakat terkait kendaraan pengangkut sampah yang belum masuk ke beberapa lokasi, termasuk di sekitar kompleks gereja dan sejumlah kawasan lainnya.
Hal tersebut, kata dia, terjadi akibat adanya kerusakan pada sejumlah armada pengangkut sampah sehingga petugas harus mencari kendaraan pengganti untuk tetap menjalankan pelayanan.
