Latar belakangnya karena Theo mahir dalam permainan politik, berteman dengan semua pihak dan kalau ada perbedaan, dia tidak menciptakan permusuhan.
Buktinya, ada tokoh Golkar yang bersaing keras dalam Munas Golkar yang lalu, keduanya hadir dalam acara HUT Theo, bahkan memberikan penilaian yang positif pada pribadi Theo.
Semua tokoh Golkar yang bersaing dalam setiap Munas Golkar sejak 1998, memberikan Testimoni pada buku Autobiografi Theo. Kenyataan ini, membuktikan bahwa Theo adalah Politikus Ulung yang diterima semua pihak.
- POLITIKUS YANG MENDUNIA:
Disamping jabatan-jabatan strategis yang diraih Theo dalam kepengurusan Golkar, Theo juga meraih posisi-posisi yang strategis saat menjadi anggota DPR/MPR-RI dalam beberapa periode, hasil Pemilu 1982, 1987, 1992, 1997,dan 2004. Jabatan yang diraih dan di-embannya mulai dari Wakil Ketua Komisi I DPR-RI (1990-1994), Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) (1994-1997), Ketua Fraksi Karya Pembangunan (FKP)/Golkar DPR-RI), (1997 – 1998), Sekretaris FKP MPR RI (1997-1998), Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR RI (1999-2004), Ketua Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja (BP) dan Ketua Komisi A Sidang Umum MPR RI Tahun 1999, yang melahirkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), 1999-2004 (GBHN versi Reformasi), Anggota PAH I BP MPR RI pada Sidang Tahunan MPR RI, Tahun 2000, 2001, 2002 yang menangani proses Perubahan Undang Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia (NRI) Tahun 1945 dan Wakil Ketua PAH I BP MPR RI (2002-2004), Anggota DPR RI terpilih pada Pemilu 2004 dari Partai Golkar Dapil Sulawesi Utara (2004-2009), Ketua Komisi I DPR RI (2004-2009). Disamping menjadi anggota Kabinet dengan jabatan Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII (1998), Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999).
Saat menjabat Ketua BKSAP dan Wakil Ketua serta Ketua Komisi I DPR-RI, maka panggilan tugas mengharuskan Theo keliling dunia, dengan menghadiri berbagai pertemuan berskala multilateral maupun bilateral yang bersifat rutin (bulan/bulanan atau tahun/tahunan), yang membahas berbagai persoalan baik menyangkut kepentingan internasional, regional/kawasan maupun nasional.
Dengan aktivitas ini maka Theo dikenal luas para politisi berbagai negara, sebagaimana dokumen-dokumen foto yang ada dalam buku autobiografi Theo. Mungkin Theo adalah salah satu atau satu-satunyanya Tou Kawanua yang terbanyak mengunjungi berbagai negara yang tersebar diberbagai benua Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Afrika, dibandingkan dengan Tou Kawanua yang lain.
- PEJUANG-PEMIKIR, PEMIKIR-PEJUANG YANG HANDAL.
Motto GMNI tersebut diatas yaitu Pejuang-Pemikir, Pemikir-Pejuang dihayati dan diterapkan oleh Theo dalam kegiatan berorganisasinya.
Dari autobiografi Theo, yang bermula dari aktivitas non-kurikuler di GSNI, GMNI, Dewan Mahasiswa UI, KNPI, Theo tetap aktif belajar, mulai dari SD, SMA sampai mahasiswa, kemudian meraih gelar Drs di FISIP UI pada tahun 1978, tidak pernah putus apalagi menjadi siswa atau mahasiswa abadi.
Theo berakar ditempat belajarnya. Theo sadar, bahwa untuk berjuang dalam berbagai organisasi termasuk dalam dunia politik, dia harus memiliki ilmu pengetahuan, yang menunjang kiblatnya dalam berorganisasi dan berpolitik, sehingga kiprahnya sebagai pejuang harus berkualitas.
Kesadaran ini juga yang melatar-belakangi saat Theo jadi politisi/anggota DPR-RI. Dia mengambil waktu untuk melanjutkan studi di-School of Advanced International Studies (SAIS), Johns Hopkins University, Washington DC, Amerika Serikat dan tamat tahun 1990 dengan memperoleh gelar Master of International Public Policy (MIPP).
Bahkan tidak berhenti disitu saja. Dia melanjutkan studi di Universitas Pertahanan dan pada Desember 2023, Theo meraih gelar Doctor dalam Ilmu Pertahanan dengan predikat Cum Laude.
Dengan menghayati secara matang motto GMNI tersebut dan menerapkannya secara konsisten dalam proses kehidupannya, maka Theo meraih berbagai sukses yang mengesankan dan meyakinkan yang diakui banyak pihak, baik di politik, bisnis dan lain-lain.
- MINORITAS YANG DIAKUI DAN DIPERHITUNGKAN:
Theo adalah keturunan Minahasa asli. Suku Minahasa adalah “Minoritas” dibandingkan dengan suku-suku lain seperti Jawa, Sunda, dan lain-lain.
Theo juga beragama Kristen ditengah bangsa yang mayoritas Islam.
Dengan karir dan prestasi yang diraih Theo sebagai politisi yang berkualitas, handal dan kawakan yang diakui, dihormati dan diperhitungkan oleh banyak pihak, maka secara langsung atau tidak langsung telah ikut mengangkat harkat dan derajat orang Minahasa sekaligus mempertahankan dan membuktikan bahwa Tou Minahasa bisa hadir dan menonjol dalam segala jaman perjalanan bangsa seperti Sam Ratulangi, A.A. Maramis, L.N. Palar, Walanda Maramis, Alex Kawilarang, Ventje Sumual, Prof. A. Mononutu, dan banyak lagi yang penulis tidak bisa sebut semuanya.
- KEPALA KELUARGA YANG UTUH:
Dari kesaksian istrinya Erna dan anak-anaknya nya Eddy dan Jerry dalam buku autobiografinya, maka Theo adalah kepala keluarga yang menyayangi dan disayangi oleh istri dan anak2nya, menjadi panutan melalui keteladanan, dukungan dan teguran.
Hal ini tergambar dengan tulisan Erna dengan judul “Theo sangat mencintai saya”, dilanjutkan dengan kesaksiannya bahwa Theo adalah suami yang bertanggung-jawab, cermat mengatur rumah, disiplin, penyayang dan suka bercanda alias humoris.
“Satu hal yang awalnya saya sedikit shock yaitu Theo mengajarkan saya tentang hidup berhemat. Belilah barang yang kita butuhkan, bukan barang barang yang sekedar diinginkan. Pola hidup ini saya rasakan faedahnya beberapa tahun kemudian. Pola ini menurun kepada anak-anak kami utamanya kepada saya selaku istrinya. Theo merupakan suami yang pintar mengarahkan saya selaku pasangan hidup. Kendati pada awalnya kami banyak perbedaan, terutama kebiasaan hidup sehari-hari.
