
Penulis: JenlyWenur | Manado
Ada filosofi kepemimpinan yang kerap dipegang teguh oleh sedikit orang terpilih: “Dipuji Tak Terbang, Dihina Tak Tumbang.”
Prinsip inilah yang tampak nyata tercermin dari sosok Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, Prof. Dr. dr. Starry H. Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, MARS, MH.Kes.
Di tengah berbagai dinamika dan tantangan mengelola fasilitas kesehatan sebesar RS Kandou, ia memilih untuk terus membuktikan dedikasinya lewat kerja nyata.
Suasana malam di sebagian besar perkantoran biasanya mulai senyap ketika jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WITA ke atas.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di RSUP Kandou pada Selasa (3/11/2026) malam.
Alih-alih beristirahat di rumah, Prof Starry justru memilih melangkah turun langsung ke lapangan.
Dengan penuh keyakinan ia menyusuri satu per satu unit pelayanan di lingkungan rumah sakit.
Baginya ini bukan sekadar agenda seremonial atau kunjungan formal di atas kertas, sebab peninjauan malam itu merupakan hal penting yang harus dilakoninya.
Tujuannya jelas, yakni memastikan seluruh lini pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal, memantau kesiapan para tenaga medis dan paramedis yang bertugas, sekaligus mendengarkan langsung denyut kebutuhan pasien serta keluarga yang tengah mendampingi proses perawatan.
Bagi dokter spesialis jantung konsultan ini, kursi empuk di balik meja kerja atau ruang rapat ber-AC bukanlah satu-satunya tempat bagi seorang pemimpin mengambil keputusan.
Baginya, nakhoda yang andal harus mau turun langsung ke geladak kapal, merasakan ombak secara langsung, melihat realitas di lapangan, menyerap aspirasi bawahannya, serta memahami setiap kendala yang dihadapi para pejuang kesehatan di garda terdepan.
“Tugas seorang direktur utama bukan hanya di balik meja, tetapi juga harus melihat kondisi sebenarnya di lapangan, mendengarkan masukan, serta mengetahui persoalan yang dihadapi jajaran pelayanan” menjadi nilai yang tergambar dalam rutinitas penting turun lapangan dari sosok Dirut RSUP Kandou.
Kehadirannya di tengah-tengah ruang perawatan malam itu memberikan energi tersendiri.
Kehadiran fisik seorang pemimpin tertinggi menjadi sinyal kuat bahwa mutu dan standar pelayanan rumah sakit adalah harga mati.
Di RSUP Kandou, orientasinya tetap satu, yaitu keselamatan dan kenyamanan pasien adalah hukum tertinggi yang harus dipatuhi.
Konsistensi blusukan hingga larut malam ini sekaligus menegaskan bahwa pengabdian di sektor kesehatan publik tidak mengenal sekat jam kantor pukul delapan hingga empat sore.
Selama masih ada pasien yang membutuhkan perhatian, dan selama ada denyut harapan yang disandarkan masyarakat kepada RS Kandou, maka roda pengawasan dan pelayanan harus terus berputar tanpa henti.
Badai pujian yang membuai maupun kritik tajam yang datang silih berganti tidak sedikit pun menyurutkan langkah kakinya.
Kompas kepemimpinan Prof Starry tetap berputar pada satu titik: pembenahan berkelanjutan, peningkatan mutu layanan, dan menjaga reputasi RSUP Kandou sebagai mercusuar rumah sakit rujukan utama di kawasan Indonesia Timur.
