Berita Utama

Sulut Siap Jadi Destinasi Wisata Medis: Riane Anggreani Jabarkan Potensi Unik Kesehatan Tidur

Sulut Siap Jadi Destinasi Wisata Medis: Riane Anggreani Jabarkan Potensi Unik Kesehatan Tidur
Talkshow tentang “Peran Industri Kesehatan Tidur dalam Meningkatkan Pariwisata Medis” di RS Hermina Manado.

Manado, BeritaManado.com — Pernahkah Anda membayangkan berwisata sambil mendapatkan perawatan kesehatan yang berkualitas?

Itulah konsep wisata medis, sebuah tren yang kini semakin diminati di seluruh dunia.

Konsep ini bukan sekadar berobat ke luar kota atau luar negeri, tetapi juga menggabungkan pengalaman berwisata yang menyenangkan.

ADVERTISEMENT

Di tengah momentum World Tourism Day (Hari Pariwisata Dunia) 2025, topik ini menjadi sorotan utama.

Seorang spesialis di bidang Kesehatan Tidur, dr Riane Anggreani Sp.PN, F-PSG. melihat potensi besar bagi Sulawesi Utara (Sulut) untuk menjadi pusat wisata medis, khususnya di bidang kesehatan tidur.

Wawasan menarik ini disampaikan dalam sebuah talkshow yang diadakan oleh RS Hermina Manado dan Waya Wellness North Sulawesi, pada Selasa (30/9/2025).

Acara yang dimoderatori oleh Merry Karouwan, praktisi pariwisata Sulut ini, dihadiri oleh berbagai perwakilan dari pemerintah, praktisi kesehatan, dan pelaku pariwisata.

Mereka berdiskusi mendalam tentang “Peran Industri Kesehatan Tidur dalam Meningkatkan Pariwisata Medis.”

Tidur Sehat, Fondasi Utama Kesehatan

Kesehatan tidur adalah fondasi kesehatan yang sering kali diremehkan.

Padahal, menurut American Heart Association (AHA), kesehatan tidur termasuk dalam 8 fondasi dasar kesehatan.

Ilmu Kesehatan Tidur pertama kali dikembangkan tahun 1964 di Stanford dan sejak 1980-an, sudah ada ujian spesialisi tersendiri oleh World Association Sleep Medicine (WASM), kekinian berganti nama World Sleep Society (WSC).

“Ilmu kesehatan tidur mempelajari secara mendalam tentang fisiologi tidur dan berbagai gangguan yang mungkin terjadi,” ungkap dr Riane Anggreani Sp.PN, F-PSG.

Sayangnya, kesadaran akan pentingnya tidur di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, masih sangat minim.

Hal ini ironis, mengingat gangguan tidur dapat memicu berbagai masalah serius, seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, dan lainnya.

Sementara bicara industri kesehatan tidur, kata dr Riane, adalah pasar global yang berkembang dan mencakup perangkat, pengobatan, serta layanan untuk mendiagnosis dan mengobati gangguan tidur.

Tentunya ini didukung oleh inovasi dalam teknologi seperti perangkat pintar dan diagnostik bertenaga Al, kemajuan dalam perawatan farmakologis, dan peningkatan kesadaran akan dampak tidur pada kesehatan secara keseluruhan.

Sejauh ini, ada empat bidang utama layanan Kesehatan Tidur:
• Pemeriksaan polisomnography
• Pemeriksaan Actigraphy
• Tata laksana CPAP
• Tata laksana light therapy (Penyakit tidur gangguan irama sirkandian jetlag, dan penyakit Insomnia)

Peluang Emas untuk Sulut

Sulut Siap Jadi Destinasi Wisata Medis: Riane Anggreani Jabarkan Potensi Unik Kesehatan Tidur
Dokter Riane Anggreani jabarkan potensi unik Kesehatan Tidur bagi Wisata Medis Sulut dan peralatan canggih yang ada di RS Hermina (kiri), foto bersama (kanan).

Menurut dr Riane, Indonesia memiliki potensi besar dalam penerapan wisata medis kesehatan tidur.

Pasalnya, bicara kesehatan tidur, antrean pemeriksaan di luar negeri bisa mencapai 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan di Indonesia tanpa daftar tunggu.

“Oleh karena itu, peluang Indonesia, khususnya Sulut, menjadi destinasi wisata medis untuk pemeriksaan kesehatan tidur sangat tinggi,” pungkasnya.

Adapun untuk Sulut, RS Hermina merupakan satu satunya rumah sakit yang memiliki laboratorium dan alat terapi, serta dokter spesialis untuk layanan kesehatan tidur se-Indonesia Timur.

“Sulut punya potensi besar karena memiliki fasilitas laboratorium yang lengkap, SDM bersertifikat internasional yang juga memudahkan klaim asuransi, memiliki alat terapi CPAP hingga light therapy, dan satu-satunya di Indonesia Timur,” katanya.

Selain itu, dia menambahkan bahwa biaya pemeriksaan di Indonesia masih lebih murah dari luar negeri, kecuali China yang mendapat perhatian besar dari pemerintahnya.

Tanggapan Pemerintah Daerah

Staf Khusus Gubernur Sulut, Dr Drevy Malalantang, menyambut baik kegiatan tersebut.

“Dari diskusi tadi, terungkap bahwa Sulut punya potensi besar untuk medical tourism, khususnya kesehatan tidur,” kata dia.

Menurutnya, hal ini akan berdampak sangat positif bagi pariwisata sulut jika bisa dikelola dan dikemas dengan baik dalam suatu paket medical tourism.

Apalagi, kata dia, baik SDM maupun sarana yang ada di Sulut ternyata sudah sangat mendukung dan tidak kalah dengan daerah lain.

“Setelahnya tinggal bagaimana kita mempromosikannya. Ini menjadi tugas kita bersama,” tutupnya.

(jenlywenur)