
Jakarta, BeritaManado.com — Setelah Bianca Lantang dari Tomohon terpilih sebagai Paskibraka pembawa baki, Sulawesi Utara kembali menorehkan prestasi membanggakan di Hari Kemerdekaan.
Kali ini, talenta emas dari Desa Pineleng I, Kabupaten Minahasa, Richy Yohanes Frederik, tampil memukau sebagai solois Gita Bahana Nusantara (GBN) dalam Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, Minggu (17/8/2025).
Richy, yang lahir di Bitung pada 5 Mei 2004, merupakan perwakilan dari Sulawesi Utara (Sulut).
Dengan suaranya yang merdu, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) jurusan seni musik ini membawakan lagu “Indonesia Jaya” di Istana Negara, membuat nama Sulut semakin harum.
Prestasi ini menambah deretan kebanggaan Sulut dalam perayaan HUT ke-80 RI.
Richy adalah putra sulung dari pasangan Ronny Frederik dan Norma Rapar.
Hobi menyanyi dan bermusik yang ditekuni sejak lama membawanya terpilih sebagai perwakilan Sulut untuk jenis suara Tenor.
Selain Richy, tiga talenta Sulut lainnya juga ikut berpartisipasi dalam GBN 2025: Abygail Sharen Aurora Cantabile Poeloe (Sopran), Sweety Gregoriana Angelique Simbala (Alto), dan Ronaldo Tjiabrata (Bass).

Sekilas tentang Gita Bahana Nusantara
Selama lebih dari dua dekade, Sulawesi Utara, yang dikenal sebagai gudangnya penyanyi paduan suara, telah berperan besar dalam pembangunan kebudayaan nasional lewat Gita Bahana Nusantara (GBN).
GBN sendiri adalah kelompok paduan suara dan orkestra Istana Negara yang dibina oleh Pemerintah Provinsi dan Kementerian Kebudayaan.
Anggotanya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam.
Untuk menjadi bagian dari GBN, setiap calon peserta harus melewati audisi ketat di tingkat provinsi.
Audisi ini terbuka untuk semua kalangan, baik dari sekolah, kampus, sanggar, institusi, maupun perorangan.
Serangkaian tes, mulai dari menyanyikan lagu wajib, tes ambitus suara, hingga tes Primavista (kemampuan membaca notasi musik tanpa latihan), harus dilalui.
Hanya mereka dengan kualitas vokal dan musikalitas terbaik yang akhirnya terpilih mewakili Sulut di tingkat nasional.
Peserta yang lolos kemudian menjalani karantina selama 15 hari di Jakarta.
Mereka tidak hanya tampil di Istana Negara, tetapi juga berpartisipasi dalam Sidang Paripurna MPR/DPR-RI dan berbagai konser kemerdekaan.
Bagi para alumninya, GBN selalu memberikan kenangan unik dan tak terlupakan.
