
Saat Selat Hormuz milik Iran mengguncang pasar minyak dunia di tengah konflik AS-Israel vs Iran, Indonesia punya aset maritim yang tak kalah strategis, Selat Malaka. Jalur sepanjang 800–930 kilometer ini bukan sekadar perairan biasa bagi Indonesia.
Selat Malaka menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, menjadikannya pintu gerbang utama perdagangan global. Setiap tahun, sekitar 100.000 kapal melintas di sini, membawa 25–33 persen perdagangan dunia termasuk lebih dari 11 juta barel minyak mentah per hari untuk Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Bagi Indonesia, selat ini adalah aset nasional yang menyentuh hampir setiap sendi kehidupan: ekonomi, pertahanan, sejarah, hingga kedaulatan bangsa.
Warisan Sriwijaya hingga Poros Maritim Dunia
Selat Malaka bukan baru kemarin strategis. Sejak abad ke-7 hingga ke-13, Kerajaan Sriwijaya menguasai selat ini untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah, emas, dan sutra antara India, Cina, serta Timur Tengah.
Selat ini juga menjadi jalur masuknya agama Buddha dan Islam ke Nusantara dibawa para pedagang Arab, India, dan Cina yang melintas. Kejayaan Sriwijaya bahkan sering dikaitkan langsung dengan kemampuannya menguasai selat tersebut.
Di era modern, warisan itu berlanjut lewat visi Poros Maritim Dunia yang digagas Presiden Joko Widodo menempatkan Selat Malaka kembali sebagai urat nadi strategi maritim Indonesia.
Indonesia Masih Jadi Penonton di Rumah Sendiri
Secara ekonomi, potensi Selat Malaka bagi Indonesia sangat besar. Pelabuhan-pelabuhan seperti Belawan, Dumai, dan Batam bergantung pada lalu lintas selat ini. Selat Malaka juga mendukung sektor perikanan menjadi sumber ikan terbesar kedua setelah Laut Jawa serta logistik dan jasa maritim.
Namun, potensi itu belum dimanfaatkan maksimal.
Singapura dan Malaysia lebih banyak menikmati keuntungan lewat pelabuhan transshipment dan jasa bunkering, sementara Indonesia sering disebut penonton di rumah sendiri. Jika infrastruktur ditingkatkan, selat ini berpotensi menyumbang multiplier effect ekonomi hingga Rp48–64 triliun per tahun.
Di sisi keamanan, Indonesia bersama Malaysia dan Singapura membentuk patroli trilateral MALSINDO dan Eyes-in-the-Sky untuk menekan ancaman pembajakan, terorisme maritim, dan penyelundupan dan hasilnya nyata: angka insiden turun signifikan.
Selat Malaka adalah harta karun maritim Indonesia. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi seberapa strategis selat ini melainkan seberapa serius Indonesia mau memanfaatkannya.
