Selain itu, mengikuti perkembangan seni dan budaya yang terus tumbuh, para seniman pun diberi ruang yang lebih luas untuk berinovasi, hanya saja tanpa kehilangan identitas.
“Lima tahun yang lalu kemudian ada ruang bagi penampilan karya karya seni kontemporer. Selain itu, PKB juga memberi kesempatan bagi daerah lain untuk ikut tampil di PKB,” ujar Prof Dibia.

Pesta Kesenian Bali ke-47 tahun 2025 pun menjadi bukti, bagaimana kemudian seni dan budaya Bali tetap jadi tuan rumah, tak mudah digoyahkan oleh gempuran budaya asing yang masuk.
Pesta Kesenian Bali ke-47 tahun 2025 ini pun jadi saksi bagaimana generasi muda hadir bukan hanya sebagai pelengkap tapi justru pilar yang teguh berdiri menjaga warisan leluhur tetap lestari.
Di pawai pembukaan PKB 2025, terlihat jelas bagaimana para seniman muda mandi keringat sambil menahan haus saat jeda pentas, tapi tetap menampakkan raut wajah bangga kala penampilannya diapresiasi.
Bagaimana anak kecil yang awalnya hanya jadi penonton akhirnya mau ikut tampil di PKB.
“Nanti mau ikut sanggar di sekolah, siapa tahu bisa tampil di PKB,” ucap anak Made Kurniawan, penonton pawai pembukaan PKB ke-47 yang dilaksanakan di jalan depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala, Denpasar pada Sabtu (21/6/2025).
Satu lagi anak kecil jatuh cinta pada seni dan budayanya. Terasa hangat saat diucap anak kecil yang baru masuk SD dengan penuh ketulusan, ibarat generasi muda dan seni budaya dipeluk erat Pulau Dewata, tak boleh hilang.
Hal itu makin terasa saat jurnalis BeritaManado.com terlibat percakapan spontan bersama seniman muda yang ikut tampil di pawai.
“Panas dek?” tanya jurnalis.
“Senang, ka,” jawab seniman remaja itu sambil senyum.
Mereka mengabaikan lelah, panas terik cuaca kala itu, haus dan lainnya demi bisa menampilkan yang terbaik dan bangga menjadi bagian pelestarian seni budaya daerahnya.
Tak mau kalah, percakapan itu kemudian terdengar oleh seorang perempuan asal Manado yang telah 4 tahun tinggal di Bali, Irene namanya.
Irene kemudian bercerita tentang pengalamannya 3 kali menonton Pesta Kesenian Bali.
“Iri, kagum dan menyenangkan. Sebagaimana nama acaranya ya pesta kesenian. Semua ada dan sangat wajib untuk ditonton. Saya akhirnya mulai belajar seni budaya Bali sejak nonton pertama kali dan ternyata seindah itu,” kata Irene.
Dimulai di tahun 1979, membangun dasar yang kokoh, dibangun bersama-sama dengan hati yang selaras antara bumi dan alam, dijaga dengan doa tulus kepada Sang Pencipta, kini kerja keras terbayarkan.
Banyak anak muda kini jatuh cinta pada seni dan budaya Bali, mau belajar dan terus menikmatinya sampai mewariskannya pada generasi selanjutnya.
Selamat, Bali!
(srisurya)
