Lainnya

Saat Seni dan Budaya Daerah Dipeluk Erat Pulau Dewata

Saat Seni dan Budaya Daerah Dipeluk Erat Pulau Dewata
Pawai Pesta Kesenian Bali 2025

Denpasar, BeritaManado.com — Siapa yang tidak tahu Pulau Bali? Bagi sebagian orang di berbagai belahan dunia, Bali justru lebih dikenal daripada Jakarta, bahkan Indonesia itu sendiri. Buktinya banyak di platform digital.

Bali kini tidak lagi menjadi sekadar destinasi liburan impian warga dunia, tapi sudah ada di level tempat tinggal idaman.

Lihatlah Bali sekarang ini. Tak pernah kehabisan wisatawan mancanegara dan tentu saja lokal. Sudah pernah antri berapa lama di loket Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai? Makanya kata mereka yang sudah biasa bepergian dari dan ke Bali, harus datang jauh lebih awal ke bandara. Ramai luar biasa.

Akhirnya, perpaduan kultur tak bisa dihindari, baik itu Timur maupun Barat. Makanya jangan kaget saat bertemu turis yang berpakaian sangat terbuka di Bali. Tapi, lebih jangan kaget lagi saat melihat warga Bali yang begitu taat menjalankan ajaran agama.

Keduanya seperti punya dunia sendiri, namun inilah yang membuat Bali berbeda. Tak peduli berapa banyak budaya asing yang masuk, budaya Bali selalu jadi tuan rumah. Ibarat kata, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Saat Seni dan Budaya Daerah Dipeluk Erat Pulau Dewata

Bagaimana bisa? Jawabannya ada di sejarah panjang perjalanan Pesta Kesenian Bali.

Sejak dimulai pada 47 tahun lalu, Pesta Kesenian Bali sudah punya 3 tujuan utama, yaitu pertama untuk mendorong ketahanan dari seni budaya Bali, kedua untuk mendorong perkembangan dari seni budaya setempat dan ketiga untuk memperkenalkan seni budaya Bali kepada generasi muda.

Hal itu dilakukan karena dulu, 47 tahun yang lalu sudah mulai dirasakan bahwa generasi muda sudah semakin kehilangan kesempatan dan ruang untuk mengenal lebih jauh seni budaya daerah sendiri.

Darisitulah kemudian generasi muda ini mulai dilibatkan dalam memproduksi seni, baik itu dalam bentuk sanggar maupun organisasi seni di desa-desa.

Dulu pun, Pesta Kesenian Bali belum seperti sekarang, masih terbatas pada ruang dan waktu untuk memperkenalkan warisan seni dan budaya ke seluruh pelosok Bali.

Nantilah pada beberapa dekade terakhir ini mulai dipusatkan di Taman Budaya karena ketercukupan tempat dan jenis kegiatan yang makin beragam.

Seiring berjalannya waktu, Pesta Kesenian Bali pun kian terbuka menerima perbedaan, namun teguh pada pakemnya, tidak boleh meninggalkan identitas diri seni budaya Bali.

Tanpa disangka, hal itu menuai respon positif khususnya dari para seniman muda hingga muncul yang namanya kebanggaan budaya dari generasi muda.

Saat Seni dan Budaya Daerah Dipeluk Erat Pulau Dewata

Kurator utama Pesta Kesenian Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia mengatakan, makanya jangan kaget jika di pawai pembukaan PKB 2025 yang tampil hampir semuanya anak muda bahkan sebagiannya masih anak-anak.

“Keberlanjutan dari tradisi budaya Bali ini tidak akan pernah berhenti dengan kesiapan dari para generasi muda ini,” ujar Prof Dibia.

Wajar demikian. Harusnya begitu. Bagaimana tidak, setiap desa di Bali punya organisasi kesenian. Ada insentif, sewaktu-waktu dibutuhkan mereka siap tampil dan pewarisan serta pelestarian budaya adalah hal yang mutlak.

Tidak peduli siapapun kepala daerah yang terpilih, tidak akan mempengaruhi hal tersebut dan tentu ini sesuatu yang wajib jadi teladan.

“Kalau tidak begitu kita tidak jamin bahwa PKB ini bisa berlangsung,” kata Dibia.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara