Berita Utama

Rafael Tumewu Buktikan Cinta Budaya Minahasa, Tradisi Kawasaran Tetap Hadir dalam Prosesi Antar Harta

Rafael Tumewu Buktikan Cinta Budaya Minahasa, Tradisi Kawasaran Tetap Hadir dalam Prosesi Antar Harta

Rafael Tumewu kenakan pakaian adat Minahasa saat prosesi antar harta dan tukar cincin

Penulis: Ftangki Wullur | Sonder

Kecintaan terhadap budaya Minahasa tidak hanya ditunjukkan melalui penampilan atau kegiatan adat. Bagi Rafael Rudolf Tumewu, budaya merupakan bagian dari identitas diri yang terus dijaga dan dihidupkan, termasuk dalam perjalanan membangun kehidupan berkeluarga.

ADVERTISEMENT

Pemuda asal Sonder ini dikenal memiliki kecintaan yang kuat terhadap budaya Minahasa, khususnya tradisi Kawasaran. Kecintaannya itu bahkan tercermin dari suasana rumahnya yang dipenuhi berbagai kostum Kawasaran, perlengkapan, hingga aneka aksesori pendukung. Interior rumahnya pun didominasi nuansa warna merah yang semakin memperlihatkan kedekatannya dengan identitas budaya tersebut.

Rafael juga merupakan anggota Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Kudus Sonder yang aktif. Dalam berbagai kegiatan gereja, ia secara konsisten berupaya menghadirkan budaya Minahasa melalui pendekatan inkulturasi, sehingga tradisi lokal dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan dan pelayanan menggereja.

Kini, ketika merasa telah cukup matang untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, Rafael memantapkan hati membangun bahtera keluarga.

Menariknya, kecintaannya terhadap budaya Minahasa tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ketika melamar kekasihnya di Desa Olah beberapa hari lalu, Rafael memilih menghadirkan identitas budaya Minahasa melalui iringan tarian Kawasaran yang dibawakan rekan-rekannya.

Prosesi itu bukan sekadar menjadi bagian dari rangkaian lamaran, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur tetap mendapat tempat dalam momen-momen penting kehidupan generasi muda.

Perjalanan menuju pernikahan dalam tradisi masyarakat Minahasa sendiri memiliki sejumlah tahapan yang sarat makna. Salah satunya adalah prosesi pertunangan yang dikenal luas dengan sebutan Antar Harta dan Tukar Cincin.

Dalam prosesi ini, kedua keluarga dipertemukan untuk menjalankan tahapan adat sebagai bentuk kesungguhan, penghormatan, serta komitmen menuju kehidupan rumah tangga.

Bagi Rafael, menjalani tahapan tersebut dengan tetap membawa identitas budaya Minahasa menjadi sebuah pilihan yang sejalan dengan kecintaannya selama ini.

Kisah Rafael menjadi gambaran bahwa kecintaan terhadap budaya tidak harus berhenti pada pelestarian kostum, tarian, maupun pertunjukan adat. Budaya justru dapat terus hidup ketika menjadi bagian dari keseharian, kehidupan bergereja, hingga perjalanan pribadi seseorang.

Di tengah perkembangan zaman, generasi muda seperti Rafael menunjukkan bahwa melangkah menuju masa depan tidak berarti harus meninggalkan warisan leluhur. Sebaliknya, nilai-nilai budaya dapat tetap dibawa dan diwariskan dalam setiap babak kehidupan.