
Tomohon, BeritaManado.com – Proyek penyediaan air baku Makalisung di Kota Tomohon, dengan anggaran jumbo Rp11,9 miliar, kini jadi bahan gunjingan publik.
Bukannya menghadirkan solusi air bersih bagi masyarakat, proyek yang dikerjakan CV Dua Putra di bawah pengawasan PPK Balai Sungai, Deysi Rares, justru memamerkan potret amburadulnya pengelolaan dana rakyat.
Fakta di lapangan bikin geleng kepala, ratusan meter pipa air berserakan di atas tanah, sebagian hanya ditanam sekadar kulit tanah, jauh dari ketentuan teknis yang mengharuskan kedalaman 70–80 cm plus lapisan pasir.
Beberapa pipa bahkan menggantung tanpa tiang penyangga.

Tidak menutup kemungkinan, akibat beban air pipa tersebut sewaktu-waktu langsung patah.
Perencanaan pun tidak memikirkan dampak kerusakan pipa ketika petani membuka lahan.
Pada bagian pipa besi, tiang penyangga yang ada dari beton sudah roboh, membuat proyek bernilai miliaran ini terlihat seperti pekerjaan amatir.
Tak hanya itu, bangunan intake jantung penyedia air baku terlihat menggantung di tanah tanpa pondasi layak.
Kondisi ini makin memperkuat dugaan adanya persekongkolan jahat antara pelaksana proyek dan PPK yang seolah tutup mata terhadap bobroknya mutu pekerjaan.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Sungai, Deysi Rares berdalih bahwa semua masih dalam “tahap pemeliharaan” terdengar seperti pembenaran klasik yang mengabaikan fakta di lapangan.
“Benar ada beberapa titik galian yang terlihat tidak pada jalur semestinya. Hal ini terjadi karena pada tahap awal pemasangan pipa terdapat penyesuaian lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, pemindahan pipa, agar air dapat jalan baik.
“Nanti akan dicek, karena masih tahap pemeliharaan,” sambungnya.
Sementara juga terkait kondisi pipa yang tidak ditanam dalam-dalam, ia menyebut hal tersebut dipengaruhi faktor alam, seperti banyaknya pohon cengkeh di lokasi tersebut.
Anehnya, daerah tersebut sebagian besar hanya pohon enau yang menjadi tempat petani gula.
Ini juga mengindikasikan bahwa PPK tidak sepenuhnya turun lapangan melihat kondisi yang ada.
“Selain itu, karena musim hujan, sering dilalui air makanya pipa langsung kelihatan,” kilahnya sembari menambahkan terkait kedalam galian pipa, bervariasi.
(Jhonli Kaletuang)
