
Langowan – Palang Merah Indonesia Sulawesi Utara (Sulut) memperjualbelikan darah manusia. Itulah anggapan sebagian masyarakat awam hingga saat ini. Pasalnya, meski bergerak di bidang kemanusiaan, tetap saja masyarakat miskin harus mengeluarkan uang jika membutuhkan darah.
“Jika PMI Sulut mendapatkan dukungan dana dari pemerintah ataupun dunia, seharusnya transfusi darah gratis khusus bagi rakyat miskin atau setidaknya tidak seperti saat ini harganya. Kalau Cuma biaya administrasi semua orang pasti memakluminya,” ungkap Rommy, warga Langowan.
Ditambahkannya, sebaiknya PMI bisa memberikan kemudahan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan donasi darah yang dibutuhkan. Kalaupun ada persyaratan, silahkan publikasikan supaya masyarakat mengetahuinya.
Terkait hal tersebut, hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh konfirmasi dari pihak PMI Sulut. (Frangki Wullur)

wartawan cari gampang. semuakan tersedia di internet
jaman canggih begini kok nda cari di internet tapi masih pakai model jaman bahuela sehingga merugikan orang lain. Beginikah profesionalisme wartawan Indonesia? Apakah mereka ada uji kompetensi?
bukannya mau bela wartawan tetapi dari segi aturan media online bisa memuat berita konfirmasi belakangan, karena media online membutuhkan kecepatan muatan berita, tetapi tetap saja harus ada konfimasi kecuali dari mereka yg tidak mau memberikan konfirmasi,,,,,
wartawan ga pernah belajar…
tahu ada jamkesmas, jamkesda, jamkessos, askes ga ??
ga ada konfirmasi dari PMI sulut atau memang ga mau mencari tahu..
bukankah menyebarkan informasi untuk masyarakat juga menjadi tanggung jawab pers juga ??
Bung Tukang Ronda, tahukah anda saya sudah konfirmasi kepala markas PMI Sulut Tommy Sampelan tapi tidak ada jawaban. Daripada saya ngarang……… beritanya. Itu murni anggapan warga dari dulu sampai sekarang. Rondan saja trus temukan hal yang sama
jaman canggih begini kok nda mau buka internet malah cari gampang+cari sensasi supaya beritanya menarik minat pembaca sehingga merugikan orang lain. Beginikah model wartawan Indonesia? Apakah mereka mempunyai uji kompetensi?
jaman canggih begini kok nda cari di internet tapi masih pakai model jaman bahuela sehingga merugikan orang lain. Beginikah profesionalisme wartawan Indonesia? Apakah mereka ada uji kompetensi?