
Manado, BeritaManado.com – Surga Cinta dari Utara rupanya masih menyisakan cerita. Dari 27 destinasi wisata yang tercatat di Kelurahan Tongkaina, Kota Manado, kini ada 1 yang mulai kembali menebar pesona, Pantai Rap Rap.
Beberapa tahun yang lalu, Tongkaina berjuluk Surga Cinta dari Utara karena menyimpan begitu banyak destinasi wisata, tepatnya saat periode pemerintahan lurah kala itu, Glennstiano Kowaas yang kini bertugas sebagai Camat Paal 2.
Setelah bertahun-tahun terdiam, ditambah dengan hantaman Covid-19, wisata Tongkaina akhirnya bangkit lagi.
Dari banyaknya potensi yang ada, kawasan Hutan Mangrove memang yang paling menarik perhatian.
Terbaru, Pantai Rap Rap yang mulai ramai dikunjungi, tidak hanya dari masyarakat yang membutuhkan tumpangan perahu ke Bunaken, tapi juga oleh wisatawan.
Tahun 2021, menjadi awal mula kebangkitan Pantai Rap Rap, di mana anak-anak muda Tongkaina mulai melaksanakan kerja bakti membersihkan sampah dan melakukan pemotongan batang-batang kayu yang menghalangi jalan dan pantai.
Penggeraknya yaitu anak-anak muda Tongkaina yang berkarir di industri pariwisata di luar Sulut namun akhirnya memilih pulang kampung, salah satunya Feldy Wongko yang kini menjadi salah satu pengelola Desa Wisata Tongkaina, juga sebagai Profil Wisata Tongkaina.
Profesinya sebagai free diver membuatnya memiliki banyak relasi khususnya urusan transportasi laut.
Disitulah awal mula Pantai Rap Rap kemudian menjadi ramai karena berfungsi sebagai dermaga bagi perahu-perahu nelayan maupun pengangkut penumpang dan barang.
Maklum, jarak dari Pantai Rap Rap ke Bunaken hanya 10-15 menit, dibangingkan dengan jarak dari pusat kota yang 45 menit, sehingga biaya yang dibutuhkan juga tentu lebih murah.
“Akhirnya kemudian jadi lebih ramai karena informasi yang beredar dari mulut ke mulut, baik dari orang-orang perahu maupun warga yang pakai jasa perahu di sini,” ujar Feldy.
Apalagi, selain ongkos perahu yang lebih murah, yaitu mulai dari Rp25 ribu, penumpang yang membawa banyak barang jadi mudah karena saat air surut, area pasir pantai dapat dilalui kendaraan sehingga barang-barang dari mobil atau motor bisa langsung dipindahkan ke perahu.

Satu lagi yang jadi pembeda dermaga ini dan lainnya, yaitu, meski berapa orangpun penumpang yang ada, perahu akan tetap jalan sehingga penumpang juga hemat waktu karena tidak harus menunggu penumpang lain sampai perahu penuh dulu.
Bagi yang ingin menginap di Bunaken juga tidak perlu pusing harus menitipkan kendaraan di mana karena area ini dijaga 24 jam dan selama ini terbukti sampai saat ini para pengelola mampu menjaga keamanan area tersebut.
Sementara, bagi yang tidak punya kendaraan, jangan khawatir karena area ini sudah ramai dengan transportasi online, baik itu roda 2 maupun 4.
“Anak-anak di sini ada yang terus standby, jadi selalu ada yang jaga, jadi aman,” kata Feldy.
Keuntungan tidak hanya dirasakan oleh para penumpang, tapi juga pemilik perahu khususnya nelayan karena nelayan jadi lebih mudah menurunkan ikan dari perahu.
Menariknya, dengan begitu padatnya aktivitas di area ini, saat air surut, kawasan pasir pantai dan mangrove benar benar bersih dari sampah.
