Bisnis dan Ekonomi

Perjuangan Sri Wahyuni Sediakan Akses Keuangan Formal di Kampung Nelayan

“Nelayan setiap hari ke laut, cari ikan, cari kepiting, dijual lagi ke pos-pos di sini [darat]. Perlu modal. Untuk beli makanan, solar, perahu. Saat ada dana UMi, mereka terbantu sekali,” kata ibu rumah tangga yang sehari-hari bekerja di tambak udang ini.

Rata-rata nilai pinjaman yang diambil para nelayan tersebut mencapai Rp3-10 juta, untuk masa pinjaman 3 bulan – 6 bulan.

Kini setelah berjalan selama hampir 1,5 tahun, jumlah debitur UMi yang dilayani oleh Sri pun semakin berkembang.

“Syukurlah bisa berkembang. Nasabah sekarang sudah ada sekitar 100 orang. Banyak dari mereka yang usahanya berputar dan pinjamannya bisa [memenuhi syarat] untuk berkembang,” katanya.

Meskipun tidak semua pembayaran selalu berjalan lancar dan sesuai tenggat, akan tetapi Sri justru melihat hal ini sebagai kesempatan untuk membantu sesamanya di lingkungan tempat dirinya tanggal.

“Kadang ada yang kurang lancar. Tapi yang penting waktu jatuh tempo, lunas,” ujar perempuan kelahiran tahun 1966 ini.

Menjadi mitra holding ultra mikro, membawa kepuasan tersendiri bagi Sri.

Sebab, meskipun kerap ada tantangan, namun kesempatan membantu masyarakat menjadi terbuka lebar.

Terlebih, dengan rendahnya bunga pinjaman UMi, bisa membantu masyarakat terlepas dari jeratan bunga yang tinggi dan mencekik.

“Puas, jadi pelayan masyarakat, bisa nolong orang. Memang butuh kesabaran, tetapi manfaatnya banyak. Bisa memutus rentenir,” tambahnya.

Sri pun berharap dirinya bisa terus bermitra dengan BRI untuk menyediakan pinjaman UMi bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menyampaikan, inisiatif Holding Ultra Mikro (UMi) menjadi inovasi BRI untuk menyasar kalangan masyarakat unbankable dan meningkatkan inklusi keuangan.

Dirinya ingin masyarakat yang dahulu harus menanggung beban bunga besar karena meminjam dana ke rentenir beralih menjadi nasabah ultra mikro.

Holding Ultra mikro merupakan sinergi BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk mewujudkan layanan keuangan yang lengkap, terintegrasi, dan memenuhi kebutuhan pelaku usaha.

“Holding UMi menargetkan mereka (masyarakat) yang sekarang menjadi korban rentenir. Betapa tidak efisiennya mereka bayar bunga yang sangat tinggi. Bagaimana jika mereka (pelaku usaha ultra mikro) kita mudahkan aksesnya, masuk ke lembaga keuangan formal, maka mereka dapat menambah margin. Mereka akan lebih kuat modalnya, dan mereka akan punya kapasitas yang lebih besar,” kata Supari.

(***/srisurya)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara