Berita Utama

Pengrajin Rotan Bertahan 25 Tahun, Kini Hadapi Krisis Bahan Baku

Pengrajin Rotan Bertahan 25 Tahun, Kini Hadapi Krisis Bahan Baku
Kerajinan Aneka Rotan

Penulis: Sri Surya

Kerajinan Aneka Rotan, usaha mikro yang telah berdiri selama 25 tahun, terus bertahan di tengah tantangan industri kerajinan rotan lokal.

Meski dihadapkan pada fluktuasi ekonomi, penurunan daya beli masyarakat, hingga krisis pasokan bahan baku, usaha ini tetap memproduksi berbagai furnitur dan perlengkapan dekorasi berbahan dasar rotan.

Pemilik Kerajinan Aneka Rotan, Giman Ibrahim, mengatakan usaha yang dirintisnya lahir dari kreativitas sendiri, bukan bisnis warisan keluarga.

Selama lebih dari dua dekade, ia berhasil mengembangkan berbagai produk unggulan, mulai dari kursi rotan, aneka keranjang, hingga bingkai bunga (kranz).

Menurut Giman, strategi pemasaran kini harus mengikuti perkembangan teknologi agar mampu menjangkau lebih banyak pelanggan.

“Kalau untuk kranz bunga, pelanggan kami memang sudah tetap. Tetapi untuk kursi rotan, kami harus mencari pasar baru. Sekarang penjualan juga dilakukan secara online, selain pelanggan yang datang langsung ke tempat kami,” ujarnya.

Produk Kerajinan Aneka Rotan tidak hanya dipasarkan di wilayah setempat, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah.

Manado menjadi tujuan pengiriman terbesar, disusul Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kota Ternate.

Di balik pencapaian tersebut, Giman mengakui usahanya menghadapi tantangan besar sejak pandemi Covid-19.

Pasokan rotan terus berkurang, bahkan jalur distribusi dari Gorontalo telah terhenti selama sekitar enam bulan terakhir.

“Sekarang bahan baku dari Gorontalo sudah tidak ada lagi. Semua kebutuhan kami ambil dari Palu,” kata Giman.

Kelangkaan bahan baku, ditambah menurunnya jumlah pembeli setelah pandemi, membuat usaha ini harus melakukan berbagai penyesuaian.

Salah satunya dengan mengurangi jumlah tenaga kerja dan memproduksi barang sesuai pesanan.

Saat ini, proses pembuatan mebel hanya dikerjakan oleh dua pekerja inti, masing-masing bertugas membuat rangka dan menganyam rotan.

“Karena bahan baku juga terbatas, kami menyesuaikan produksi dengan jumlah pesanan. Kalau ada permintaan, baru pekerjaan kami percepat,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan berat, mulai dari terganggunya rantai pasok hingga melemahnya daya beli masyarakat, Giman bersyukur Kerajinan Aneka Rotan masih mampu bertahan setelah 25 tahun beroperasi.

Baginya, mempertahankan usaha dan terus menghasilkan produk berkualitas menjadi komitmen untuk menjaga eksistensi kerajinan rotan lokal di tengah perubahan kondisi ekonomi.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara