Agama dan Pendidikan

Otto Cornelis Kaligis Sebut Bhineka Tunggal Ika Diambang Kehancuran

Tentu ini merupakan kampanye terang terangan untuk tidak memilih AHOK yang oleh mereka dicap kafir. Di era Presiden Soeharto kelompok kelompok ektremis pasti dilarang bahkan menjadi target penghukuman dibawah undang undang subversif.

Dalam buku saya berjudul “Terorisme Tragedi Umat Manusia” dihalaman 6 saya sempat mengutip kata kata pernyataan perang Osama bin Laden yang berbunyi sebagai berikut: “ We – with God Help — call on every moslems who believes in God and wishes to be rewarded to comply with God’s order to kill the Americans and plunder their money wherever and whenever they find it”.

Bayangkan apa benar Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Adil membenarkan Agar Pengikut Osama bin Laden membunuh dan menjarah kekayaan orang Amerika? Bahkan dibawah bendera kebebasan berpendapat golongan extremist Amerika membuat provokasi untuk “ Kill the Infidel” Bunuh si KafIr. Setelah peristiwa hancurnya Twin Tower yang dikenal sebagai peristiwa Black September 2001, Amerika mulai membatasi kebebasan berpendapat yang sifatnya provokatif dan indoktrinatif.

Di era Pemerintahan Presiden Soeharto, saya pernah membela Pendiri gerakan Negara Islam Indonesia saudara Adah Djaelani. Setiap usaha separatisme oleh golongan yang mempunyai ideologie berbeda dengan Pancasila, tidak dibiarkan bertumbuih kembang oleh Presdien Soeharo melalui Undang undang Subversif.

Adalah Presiden Gus Dur (Abdul Rahman Wahid) yang mempraktekkan sikap toleransi beragama. Persahabatan antar iman yang dilakukan oleh Gus Dur dengan Romo Mangun, Para Pastor, Pendeta, Pemuka kepercayaan Confusius bukti nyata praktek toleransi Presiden Gus Dur.

Bahkan di era Pemerintahan Presiden Soekarno keakraban pendiri Masyumi, Bapak Mohammad Natsir dengan Tokoh Partai Katolik Ignatius Jonathan Kasimo adalah contoh praktek toleransi. QMohammad Natsir di hari Natal selalu berkunjung ke rumah Kasimo mengucapkan selamat hari Natal.

Saya heran mengapa sekarang orang orang tertentu yang menamakan dirinya tokoh agama melarang Islam mengucapkan selamat hari Natal, satu hal yang pasti tidak akan terjadi di Sulawesi Utara?

Ketika saya harus membuat makalah mengenai toleransi, saya mengutip toleransi beragama di Singapura. Pemerintahan Singapura mengawasi secara ketat hidup kerukunan beragama .

Kotbah kotbah provokatif yang menyerang agama lain pasti dapat dijaring melalui hukum Security act nya Singapura.

Saya hidup disatu keluarga berlainan agama, nenek, ibu dari ibu saya beragama Islam, menikah dengan opa saya jaksa Mangindaan di zaman kolonial, seorang pemeluk agama Protestan.

Ibu Bapak saya dan saya beragama Katolik. Semuanya taat melaksanakan kewajiban agamanya masing masing.

Bahkan saya yang beragama Katolik, sebagai cucu kesayangan nenek saya, ketika harus ke gereja di hari Minggu, saya mendapatkan uang kolekte dari nenek saya, untuk diberikan kepada gereja.

Agar saya sebagai cucu kesayangannya taat menjalankan agama saya, nenek saya yang rajin membaca Quran memberi dua ayat kepada saya, yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan.

Dua ayat Quran itu adalah surat ke 43 ayat 61 dan 63. Bunyi ayat tersebut.: Ayat 61. “Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi kiamat, maka janganlah kamu ragu ragu tentang kiamat itu, dan ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus.” Selanjutnya ayat 63 “:…Maka taqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku (Isa),” kata nenek.

Pasti di hari kiamat, Isa datang dari surga, bukan dari neraka. Nenek berkata melalui ayat-ayat itu nenek mengerti, mengapa orang kristen tidak mendoakan Yesus agar masuk surga, karena memang benar Yesus sekarang berada di Surga.

Walaupun nenek saya tetap taat beragama Islam, diapun mengharapkan supaya saya masuk surga melalui jalan yang lurus itu.

Nenek saya hebat. Mengerti arti toleransi walaupun pendidikannya hanya tamat sekolah SD, kampung. 90 persen assisten Pengacara saya dikantor beragama Islam. Semuanya saya sekolahkan untuk tingkat magister hukum, LLM dan Doktor Hukum, baik didalam maupun diluar negeri seperti misalnya di Havard, Berkeley, New York University, di Inggris, Belanda, Australia, atas biaya saya sendiri tanpa memperhatikan agama yang mereka anut.

Sikap toleransi seharusnya bermula dari kita sendiri. Mau tidak kita menghormati dan menghargai keyakinan beragama orang lain. Hilangkan slogan slogan Kafir atau Murtadin.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara