Berita Utama

Olly Dondokambey dan Manajemen Talenta jadikan Sulut Istimewa di Pasar Asia Pasifik

Shifting dari kapitalisme ke talentisme. Artinya, kunci sukses sebuah kompetisi industri, bisnis, adalah inovasi. Bukan lagi kapitalisme soal modal rendah dan tinggi.

Dengan kata lain, kapitalisme fungsional telah bergeser ke kapitalisme pemangku kepentingan atau kelompok yang memiliki inovasi pada tujuan mensejahterakan rakyat, katanya.

OD, bersama dengan duetnya Wagub Steven Kandouw, pun telah membuktikan itu. Di era normal, sebelum pandemi, inovasi program dan lobi, harus selalu maju selangkah. Tak sekadar kepemilikan besar kecilnya modal usaha.

ADVERTISEMENT

“Atmosphere bisnis akan tercipta jika kita berinovasi. Investasi akan datang,” kata Wagub Steven Kandouw tentang gebrakan OD.

Atmosphere dimaksud bukan semata dukungan kuat pemerintah terhadap pembangunan, tapi juga kekuatan sinerjitas antar stakeholder yang tak menginginkan sukses pariwisata misalnya hancur hanya karena pandemi.

Pun di sisi kemasyarakatan, kerukunan akan terus dijaga oleh para tokoh agama dan masyarakat. Ini semua jadi kekuatan ketika pandemi tiba.

Dan seperti tagline sebuah iklan “Inovasi tiada henti”. Itulah yang dilakukan OD.

Saat pandemi melanda seluruh dunia, dan tiba di Sulut pada medio Maret 2020, ekonomi global melambat bahkan nyaris tak bergerak.

Di Sulut? OD lagi lagi mengeluarkan strategi jitunya. Mengeskplore talent yang dimiliki. Di sektor pariwisata dicetuskanlah program “Karantina Wisatawan di Pulau” (KWP).

Dalam program ini, Sulut tetap optimis melihat market wisatawan mancanegara. Bahkan new tourism behaviour era pandemi yang menginginkan destinasi free oksigen alam terbuka dan paparan matahari sehat, ditangkap cepat oleh OD.

Di sini, wisatawan asing yang mau ke Sulut, tidak akan dikarantina dalam kungkungan kamar hotel selama seminggu, sebagaimana aturan era Covid kala itu. Tapi, turis asing akan dibawa ke Pulau Bangka di Likupang.

Di sana mereka karantina di alam terbuka. Tepi pantai, meski terbatas tapi dapat melakukan atraksi wisata dengan kontrol rutin tim Satgas Covid.

KWP ala OD pun diluncurkan dan dipromosikan dengan kekuatan Virtual Tourism. Ini adalah strategi pemasaran lewat medsos. Tujuannya, meskipun zero kunjungan turis asing dan domestik, promosi pariwisata terus digencarkan Dinas Pariwisata dan berbagai asosiasi via postingan di berbagai platform medsos.

Hasilnya? Tokcer! Dua kebijakan nasional dan dunia menjawab. Secara nasional, di awal 2021, Presiden Jokowi mempercayakan 2 Gate Internasional Bandara dibuka di era Covid, Yaitu Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Sam Ratulangi Manado.

Secara internasional? Maskapai Scoot Tigerair pun tergerak. Manado menjadi satu-satunya destinasi di Indonesia yang diterbangi di 2021. Meski pengawasan ketat tetap OD lakukan melalui seleksi turis masuk via Bandara dalam bentuk covid test double, walau sudah dilakukan di negara asal, namun wisatawan asing terus mengalir.

Dan lagi-lagi simpul ekonomi di Sulut ikut bergerak. Turis tetap datang, aktivitas masyarakat dan kegiatan perekonomian tetap diijinkan, OD berinovasi dengan sebuah program terkesan sederhana.

Tapi program ini mencengangkan. Apa itu? “Gerakan Mari jo Bakobong” (GMJB).

Lahan masyarakat, gereja, masjid dan keagamaan lainnya hingga pemerintah, ramai-ramai diajak untuk digarap. dalam sebuah rapat ILO PBB yang diadakan di Hotel Grand Luley Manado baru-baru ini, GMJB dinilai sebagai program yang mensejahterakan. membuat survive saat pandemi dan menjaga kehijauan Sulut, sustainable development.

Tidak itu saja.

Roda ekonomi di bidang pertanian dan perikanan tetap menjadi kebutuhan market lokal, nasional bahkan dunia khususnya di Asia. OD Paham itu.

Walhasil, saat puncak pandemi, OD berhasil meyakinkan Jokowi. Apa? Sulut diijinkan melakukan ekspor langsung perikanan ke mancenagara melalui Cargo Udara yang diterbangi Garuda Indonesia.
Langkah ini jitu. Petani dan nelayan di Sulut hingga di hinterland terbantukan. Ekonomi pun tetap bergeliat.

Dino Gobel dan Gubernur Olly Dondokambey
Dino Gobel dan Gubernur Olly Dondokambey

Health Tourism and MICE, Kebangkitan di Endemi

OD sadar, pemulihan ekonomi harus terus dilakukan. Lompatan jauh harus terjadi. Triger triger percepatan roda ekonomi harus diciptakan. Apa itu?

Memasuki era endemi, kebutuhan orang terhadap heathcare menjadi sangat tinggi. Investasi rumah sakit yang hadir di Sulut sejak era normal sebelum pandemi kemudian lebih digenjot. Tak kurang dari 15 rumah sakit, milik pemerintah dan swasta, dipadu dalam program Health Tourism.

Ini mengindikasikan bahwa Sulut siap melayani pasien dan keluarganya yang berasal dari seluruh Indonesia. Paduan medical pengobatan dan wisata pun ditawarkan. Gebrakan ini berhasil.

Sejak diluncurkan di 2021 dalam even Expio Medical Tourism, masyarakat dari Indonesia Timur pun berduyun-duyun datang memanfaatkan fasilitas pengobatan dan wisata. Seiring itu, keluarga pasien memanfaatkan tumbuhnya penginapan berupa kos-kosan maupun hotel bujet di sekitar rumah sakit. Spending money penginapan hingga makan minum dan belanja lainnya pun terjadi.

Di sektor tenaga kerja, OD bersinerji dengan mitranya DPRD, menciptakan rasa aman dan nyaman bagi tenaga kerja tidak tetap, melalui diluncurkannya sebuah produk perda inisiatif yang menjamin layanan kesehatan ketenagakerjaan bersama BPJS Ketenagakerjaan yang menjamin para buruh kerja harian sekalipun mendapatkan layanan kesehatan.

Secara rutin melalui pos APBD, dibayarkan ke BPJS Ketenagakerjaan.

Tujuannya? “Tenaga kerja harian menjadi tenang. Enjoy bekerja, roda perekonomian terus bergerak maju. Luarbiasa Pak OD. Kemitraan dengan kami di dewan bisa memnghasilkan perda yang mensejahterakan ini,” puji Melky Pangemanan Anggota DPRD Sulut yang ikut menukangi lahirnya perda ini.

Trigger lainnya? Asosiasi profesi didorong melakukan berbagai kegiatan MICE tourism.

Yaitu, pariwisata berbasis giat Meeting Insentive Conference Expo. Dan itu terjadi. Berbagai grup perusahan, pemerintahan dan organisasi profesi gencar melaksanakan miting nasional dan dunia di Sulut.

Teranyar, Asosiasi Dokter Bedah Plastik. Beberapa waktu lalu, hampir seribu dokter bedah plastik dan keluarganya melaksanakan miting khusus di Manado. Begitu juga 2 ribu lebih pendeta bernaung dalam Pria Kaum Bapa Persatuan Gereja Indonesia (PKB PGI) melaksanakan konferensinya di Minahasa.

Dari dua kongres tersebut, bisa dibayangkan spending money untuk hotel dan makan minum serta belanja souvernir dan lainnya yang diciptakan di Sulut? Luarbiasa. Masih banyak lagi event MICE yang terjadwal akan terus bergulir ke Sulut.

Efek Pasar Global, Ekonomi Cepat

Dari berbagai terobosan OD ini, dan masih banyak lagi yang belum sempat terekam di tulisan ini, tidak saja mendudukkan Sulut dalam kancah perekonomian global, khususnya konteks Asia Pasifik, namun juga ini menciptakan sebuah Dinamika Ekonomi, terkait sistem ekonomi yang mengarah pada perilaku pasar. Salah satunya adalah serapan produk umkm hingga pertanian dan perikanan yang tinggi, harga murah dan kebutuhan dana cepat. Fresh money. Fast money.

Dalam konteks bisnis retail, khususnya yang berkaitan dengan produk barang segar, prinsip take and give, menjadi harga mati. Sebab seiring dengan membanjirnya bisnis retail di Sulut mulai klas lokal seperti Freshmart, nasional hadirnya Indomart Alfamart Alfamidi, Transmart hingga Gelael, membutuhkan kepekaan manajemen pengelolaan terkait presenting price atau harga murah terjangkau customer.

Belum lagi fresh presenting atau produk sajian segar untuk sayur, ikan dan buah.

Tentu, ini membutuhkan strategi diferensiasi memenangkan hati petani atau nelayan.

Tak heran, persaingan retail di seluruh dunia, khususnya di Sulut, ikut antara lain memicu persoalan. Sebab petani atau nelayan membutuhkan produknya dibeli dan dibayarkan dengan tenggat waktu cepat alias umur piutang tak bisa lama.

Prinsip siapa cepat dia dapat terjadi perolehan fresh product. Dinamika bisnis retail dipengaruhui pola dinamika ini. Di sini, memunculkan salah persepsi segelintir orang, ketika kemudian adanya bisnis retail perusahan A atau B yang mendadak tutup di Sulut.

Lalu itu dikaitkan dengan lemahnya ekonomi di Sulut?

Meminjam istilah Dosen Ilmu Logika saya di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) Almarhum Pastor Prof DR Jan van Passen mengatakan “Itu Logika bengkok!”.

Istilah ini merujuk pada kesimpulan yang ditempuh seseorang hanya berdasarkan sebuah analisa sepihak.