Berita Utama

Olly Dondokambey dan Manajemen Talenta jadikan Sulut Istimewa di Pasar Asia Pasifik

Olly Dondokambey
Olly Dondokambey

(Menghantar anugerah Doktor HC Bidang Ekonomi buat Gubernur Olly Dondokambey oleh Universitas Sam Ratulangi Manado)

Sejak dua hari terakhir, ada keinginan kuat untuk menulis khusus ketokohan Gubernur Olly Dondokambey (OD).

Bukan dari sisi reportase profil kariernya, yang dikenal sukses dirintis dari bawah. Tapi, sebuah catatan khusus mereportase apa yang telah OD, sapaan akrab masyarakat terhadap Gubernur Olly Dondokambey, telah lakukan sejak dipercayakan memimpin Sulut di periode pertama 2016-2021 dan ke periode kedua, 2021-2024.

ADVERTISEMENT

Mengapa ada keinginan itu?

Bukankah saya sering menulis beragam kegiatan Bendahara Umum DPP PDIP ini dalam beberapa kali postingan di akun Facebook saya, baik akun bernama “Dino Gobel”, maupun akun yang satunya bernama ‘”Umar Khattab”?

Setidaknya ada tiga hal yang memunculkan keinginan itu.

PERTAMA, pada hampir sebulan lalu saat saya harus berkegiatan di Taipei, Taiwan. Saya bersua sejumlah pejabat luar negeri Taiwan yang bertugas di Jakarta. salah satunya adalah Mr Wiliam Hzu.

Beliau adalah Direktur di Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Jakarta. Bersua dengannya, Wiliam mengeluarkan komen menarik tentang Sulut. Lebih khusus terkait kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey.

“Provinsi Anda berkembang sangat bagus. Saat ini menjadi daya tarik istimewa di market Asia Pasifik. Kami telah mendengar ini dikarena gaya kepemimpinan Gubernur kalian saat ini, Pak Olly Dondokambey. Marketable. luar biasa”

KEDUA, Sabtu 23 September nanti, Provinsi Sulut akan berusia ke 59 tahun.

Sebagai masyarakat dan sekaligus saya, yang dipercayakan sebagai bagian dari tim kerja Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw dalam kapasitas Staf Khusus Gubernur Bidang Pariwisata, saya tergerak ingin menulis terhadap banyaknya capaian dan relevansinya dengan dinamika perekonomian Sulut, yang awalnya bisa eksis dan memenangkan pasar di periode normal sebelum pandemi lalu dihantam dan bisa survive di saat pandemi melanda, atau yang disebut era new normal, dan kemudian bangkit lagi di saat era endemi berlangsung.

Di periode endemi ini, tak sekadar bangkit. Tapi mengembangkan sayap bagaikan burung merak, mempesona. Mencuri perhatian dunia.

Dan KETIGA adalah, penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (HC) oleh Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, berdasarkan usulan dari ISEI (Ikatan Sarjana Eonomi Indonesia) Sulut.
“Penganugerahan Doktor HC di bidang ekonomi ini berdasarkan kajian atas capaian keberhasilan Sulut yang dipimpin Pak Gubernur,” kata Rektor Unsrat.

Strategi Talentisasi

Pada 2018 lalu, saya menulis buku kecil yang diterbitkan Kompas Gramedia dengan judul “Membuka Gerbang Pasifik”.

Lalu atas desakan sejumlah relasi di Jakarta yang meminati buku itu, kemudian diterbitkan versi Inggrisnya, berjudul “Gate Opener”. Buku itu bertuliskan tentang strategi Gubernur Olly Dondokambey, yang membuka akses konektivitas penerbangan dari pasar Tiongkok dan Singapura. Langkah ini sukses.

Tak kurang dari 12 kota besar di Tiongkok terbang langsung menggunakan tiga maskapai ketika itu, Lion Air, Citilink dan Sriwijaya. Arus pariwisata pun terjadi. Boming turis Tiongkok di Sulut!

Sungguh bagi saya itu langkah yang sangat berani. Anti main stream! sebab selama ini, market pariwisata dan investasi Indonesia melulu hanyalah Bali, Jakarta dan sejumlah destinasi lain di Jawa.

Seiring itu, angka indikator perbaikan ekonomi di Sulut, sebagai efek domino, terjadi.

Di balik sukses atas keberanian OD, yang banyak dibantu duetnya Wagub Steven Kandouw, saya menemukan sebuah kata: “Talent”.

Artinya, OD menyodorkan sebuah wind of change dari seorang pemimpin daerah, menurut saya dalam buku yang saya tulis itu.

Apa? Ya, sebuah eksplorasi Talent diri. Dalam terminologi kamus bahasa talent atau talenta dikaitkan dengan kemampuan diri. Atau sesuatu yang dimiliki seseorang sejak lahir.

Dalam konteks strategi OD kala itu, Talent dalam dirinya terungkap dalam semangat inovasi atas cinta daerah yang dipimpinnya. Ditambah enterpreneruship seorang OD.

Ini kemudian memicu keberanian “think out the box”.

“Sulut miliki jarak yang dekat dengan kota kota besar, negara potensial di Asia. Ini harus kita garap. Sulut punya daya tarik sama bahkan lebih dari Bali, Jakarta atau kota lainnya di Jawa,” kata OD kala itu.

Semangat OD yang melahirkan inovasi itu, dipadu dengan kemampuannya melakukan lobi jitu di pemangku negeri ini di pusat, seiring posisi pentingnya sebagai Bendahara Umum DPP PDIP. Partai berkuasa.

Oleh Menteri Pariwisata kala itu, Arief Yahya, menjuluki inovasi OD menjadikan Sulut sebagai destinasi ciamik di market Asia Pasifik, sebagai “CEO Commitment” yang membawa Sulut dalam konteks “Sulut In Corporation”.

Artinya? Inovasi kepempinan OD melahirkan sebuah komitmen bagaikan seorang Chief Executive Officer (CEO) yang tak sekadar memajukan daerahnya tapi bagaikan seorang CEO, ada target.

Goal management yang dilakukan memajukan Sulut. Dan itu terbukti!

“Pertumbuhan pariwisata naik 600 persen dibandingkan tahun tahun sebnelumnya, dan ini memicu pertumbuhan ekonomi, dan di dalamnya termaktub indikator positif perbaikan angka kemiskinan dan pengangguran,” sodor data Badan Pusat Statistik (BPS).

Komitmen kuat OD kala itu pun menaikan “harga diri” sektor pariwisata. Sebab, di banyak dekade sebelumnya, pariwisata hanyalah seremonial semata. Identik dengan festival, acara peresmian, program sesaat, tanpa ada sustainabilitas.

Walhasil, produk amenitas dalam rupa program dan proyek properti resort, perhotelan, restoran hingga produk usaha kecil menengah yang diharapkan sebagai penyanggah. Mati. Jadi sarang walet dengan setumpuk persolan. Manado Beach Hotel adalah bukti pilu fakta ini.

Di sektor SDM? Bukan rahasia lagi, profesi Pegawai Negeri (PNS), sekarang disebut ASN, jauh lebih bergengsi, terhormat dibandingkan kerja seorang pelayan resto or hotel.

Wind of Change leadership berbasis pariwisata pun tercipta. Konektivitas membuka jalur penerbangan luar negeri mencetuskan simpul ekonomi dan efek domino positif. Artinya, “Lego Economy Impact” terjadi: antara produksi dan market menjadi simpul tak terpisahkan.

Fakta kemudian di Sulut terjadilah sinerjitas saling tunjang travel agent pembawa turis dengan pengelola destinasi: perhotelan, resto, hingga souvenir. Begitu juga dengan pertanian, perkebunan dan perikanan. Turis datang, konsumsi aneka sayur buah dan ikan meledak tinggi.

SDM pariwisata pun tak lagi malu-malu. Mereka yang dulu merunduk di balik meja reception, dapur masakan hingga house keeping memasuh kebersihan kamar hingga toilet, kini mendongkak kepala. Saya bangga kerja di pariwisata! Kenapa? Pariwisata kini menguntungkan.

Sebuah hotel di Manado malah pernah menggaji karyawan terendahnya dengan gaji Rp5 juta per bulan. Dan di level high management bisa sampai 30 juta per bulan!

“Pariwisata di Sulut telah berhasil mengubah karakter sifat kebanyakan warga. Karakter apa? Sulit melayani. Hospitality adalah kesulitan tiada dua. Jangankan melayani, senyum pun akan susah kala tiba di restoran di manado. Tapi sekarang? Itu berubah. Pariwisata terus maju,” kata Profesor In Tourism DR Betel Lagarens.

Talentisasi kepemimpinan OD kemudian menginspirasi sektor pengusaha. Sulut bagaikan madu yang diburu semut. Inovasi sektor usaha pun terjadi. Kaum milenial hingga Gen Z terinspirasi melahirkan banyak lokal kreasi yang dengan bangganya memviralkan berbagai destinasi dan atraksi pariwisata di Sulut.

Survive di Pandemi: Karantina Turis di Pulau, Ekspor Ikan ke Narita

Salah seorang Suhu Ekonomi Dunia bernama Klaus Schwab menggambarkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, ASEAN, termasuk di Indonesia dinilai memiliki keistimewaan pengelolaan perekonomiannya dengan tampilnya banyak wirausaha muda.

Ini katanya bukti, ASEAN mampu dan tangguh melalui krisis akibat pandemi berkepanjangan. Fenomena apa sebagai sukses di balik ketangguhan ini?

Saat tampil di forum ASEAN Indo-Pacific Forum di Jakarta baru-baru ini, Klaus Schwab yang dikenal sebagai Funder World Economic Forum (WEF) ini mengatakan, industri dunia sedang bergerak, beralih.