Adapun, kinerja pertanian juga melambat pada triwulan III 2021. Kinerja sub-LU perkebunan yang terindikasi tumbuh menguat sejalan dengan membaiknya kinerja LU industri pengolahan belum mampu mendorong penguatan kinerja pertanian secara umum.
Produksi padi yang terkontraksi 14% (yoy) menjadi salah satu faktor melambatnya kinerja pertanian Sulut.
Pergeseran musim panen ke triwulan II 2021, menyebabkan kinerja sub-Lu tanaman pangan cenderung lebih lambat pada triwulan III 2021.
Sementara itu, sub-LU perikanan belum dapat mendorong kinerja pertanian sebagaimana tercermin dari ekspor luar negeri komoditas perikanan yang masih terkontraksi.
Di sisi lain, LU industri dan perdagangan menjadi dua LU utama yang tumbuh menguat pada triwulan III 2021.
LU industri tumbuh 11,74% (yoy) pada triwulan III 2021 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,96% (yoy).
Menguatnya kinerja LU industri diindikasikan oleh menguatnya nilai ekspor minyak nabati Sulut yang tumbuh 45,83% (yoy).
Hal ini tidak terlepas dari dampak stabilnya harga CNO di level yang relatif tinggi.
Selain itu, menguatnya kinerja industri juga didorong oleh kenaikan produksi semen dan membaiknya kinerja industri mikro dan kecil.
Sementara itu, LU perdagangan tumbuh 5,06% (yoy) pada triwulan III 2021 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,47% (yoy).
“Meski aktivitas sosial ekonomi masyarakat menurun, tingkat aktivitas sosial ekonomi masyarakat pada triwulan berjalan relatif lebih tinggi dibandingkan level aktivitas pada periode yang sama tahun lalu terutama pada komponen grosir dan farmasi serta retail dan rekreasi,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat.
Membaiknya nilai tambah perdagangan juga tercermin dari kenaikan perdagangan antar provinsi di mana volume muat laut Sulut tumbuh 40,17% (yoy) menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 2,96% (yoy).
Dari sisi pengeluaran, tertahannya kinerja perekonomian terjadi hampir di setiap komponen.
Konsumsi rumah tangga dan investasi yang mendominasi struktur perekonomian Sulut dari sisi pengeluaran tercatat melambat pada triwulan III 2021 dan menjadi sumber perlambatan utama kinerja perekonomian Sulut.
Konsumsi rumah tangga (RT) tumbuh 3,51% (yoy) pada triwulan III 2021 melambat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 9,17% (yoy).
Penurunan konsumsi rumah tangga merupakan dampak langsung dari pembatasan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.
Meski aktivitas sosial ekonomi cenderung lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tingkat mobilitas dan konsumsi masyarakat cenderung lebih rendah pada triwulan III 2021 seiring normalisasi pasca tingginya tingkat konsumsi rumah tangga pada triwulan sebelumnya yang berada pada periode perayaan hari raya Idul Fitri.
Hal ini ditengarai menahan kenaikan konsumsi, salah satunya pada komponen transportasi masyarakat sejalan dengan kinerja transportasi yang terkontraksi dan penurunan frekuensi penerbangan pada triwulan III 2021.
