Berita Utama

Menyatukan Sulawesi: Interkonektivitas Kawasan Sulawesi dengan Pendekatan Kebijakan Administratif

Menyatukan Sulawesi: Interkonektivitas Kawasan Sulawesi dengan Pendekatan Kebijakan Administratif

oleh: Fiko Onga-Staf khusus  Gubernur Bid Politik dan Kebijakan

Manado, BeritaManado.com – Pagi itu, Wings Air ATR72-400 mendarat perlahan di Bandara Pongtiku, Toraja. 

Langkah kecil ini bukan sekadar membuka rute baru dari Manado ke Toraja, tetapi menjadi nafas segar bagi impian besar: menyatukan Sulawesi dengan simpul udara yang mampu memperkuat pembangunan wilayah sulawesi terlebih khusus pariwisata dan ketahanan pangan secara nyata. 

Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, tidak hanya melepas penerbangan, tetapi juga menanamkan pesan penting bahwa jalur udara adalah jalan sunyi pembangunan, yang sering luput dari narasi pembangunan nasional yang terlalu Jawa-sentris.

Ketika penumpang turun dengan membawa ransel penuh cerita, mereka juga membawa harapan baru bagi Toraja dan Manado. Pasar-pasar rakyat akan ramai kembali dengan wisatawan yang ingin mencicip kopi Toraja atau ikan segar dari Manado. 

Jalur distribusi hasil bumi akan lebih pendek, harga lebih stabil, dan petani memiliki pegangan harga jual yang layak. Pariwisata dan pangan ternyata bertemu di satu simpul: akses yang cepat dan terjangkau.

Langkah ini juga menjadi simbol pemerintahan daerah yang tidak hanya menunggu alokasi pusat, tetapi berani bergerak dengan kebijakan kolaboratif antar provinsi. 

Saat pesawat terbang, kebijakan publik bergerak bersama, menjahit pulau Sulawesi agar tidak lagi terpisah oleh jarak, tetapi terhubung oleh kesempatan yang adil bagi semua, Sulawesi membutuhkan pembangunan terintegrasi bukan pembangunan yang sifatnya spasial dan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, SE sebagai penggagas dalam merajut kesinambungan wilayah sulawesi yang perlu diapresiasi.

Jalur Udara, Jalur Kehidupan* Rozaki (2021) menegaskan bahwa ketahanan pangan di Indonesia masih rapuh akibat distribusi yang belum merata, harga pangan yang berfluktuasi, serta ketergantungan impor pada bahan pangan tertentu. 

Di Sulawesi, isu ini bukan hanya soal produksi, tetapi lebih pada bagaimana hasil tani Toraja, jagung Gorontalo, dan ikan dari Bitung dapat mencapai pasar dalam keadaan segar dengan harga kompetitif. Penerbangan langsung Manado–Toraja yang hanya memakan waktu dua jam, dibandingkan perjalanan darat belasan jam, menjadi pembeda signifikan dalam efisiensi distribusi pangan. 

Penumpang bukan hanya manusia, tetapi juga muatan pangan lokal yang kini bisa tiba lebih cepat ke pasar-pasar di Manado dan sekitarnya. Harga lebih stabil, petani lebih berdaya, konsumen lebih terjamin. 

Yusriadi (2025) menemukan dalam studinya di Bulukumba, Sulawesi Selatan, bahwa pariwisata dapat menjadi pendorong ketahanan pangan melalui peningkatan permintaan pangan lokal oleh wisatawan, diversifikasi pendapatan masyarakat, dan investasi pada hortikultura. Konektivitas transportasi menjadi pangkal, bukan sekadar jalur logistik, tetapi jalur kehidupan masyarakat yang lebih luas.  

Kebijakan Administratif yang bergerak yang menarik, penerbangan ini tidak berdiri sendiri. Bersamaan dengan penerbangan perdana, para gubernur se-Sulawesi menandatangani nota kesepahaman berisi tujuh poin penting, mulai dari peningkatan akses transportasi, promosi pariwisata, hingga pengembangan desa wisata dan sport tourism. 

Kebijakan administratif ini bukan sekadar dokumen rapat, melainkan komitmen bersama agar Sulawesi menjadi pulau yang terkoneksi dengan baik. Mananeke dan Machmud (2021) menunjukkan bahwa promosi dan akses adalah faktor dominan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sulawesi Utara. 

Dengan penerbangan langsung, promosi bukan lagi hanya brosur dan poster, tetapi pengalaman nyata wisatawan yang dapat merasakan Toraja dalam satu pagi setelah sarapan di Manado. Muh. Nur dkk. (2024) menjelaskan bahwa pembangunan pariwisata terintegrasi membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri. Infrastruktur fisik dan kelembagaan harus sejalan agar penerbangan ini tidak menjadi rute sepi setelah seremoni, melainkan jalur padat yang menggerakkan ekonomi rakyat. 

Pariwisata dan Ketahanan Pangan Saling Menguatkan

?Di balik cerita wisatawan yang mengunggah foto keindahan Toraja, terdapat petani yang merasakan harga jagung yang lebih stabil karena jalur distribusi lebih singkat. Wisatawan yang menginap di homestay akan membeli sayur dan lauk dari pasar rakyat, menggerakkan ekonomi lokal secara nyata. Hunggul Yudono dkk. (2022) dalam kajiannya tentang WEF Nexus menekankan pentingnya sinkronisasi air, energi, dan pangan dalam pembangunan kawasan terpencil. 

Penerbangan saja tidak cukup jika tidak didukung oleh akses air bersih, listrik stabil, dan transportasi darat yang lancar. Artinya, kebijakan administratif perlu lintas sektor untuk memastikan manfaat konektivitas udara dapat menjalar ke desa-desa. Sementara itu, Badrudin et al. (2018) menunjukkan bahwa pembangunan yang bersifat inklusif akan memperkecil ketimpangan antar wilayah. 

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara