
Memasuki bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan, Senator asal Sulawesi Utara, DR. Maya Rumantir, MA., Ph.D., menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh umat Islam.
Beliau menekankan bahwa ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus, melainkan momentum spiritual yang sangat kuat untuk memperdalam kualitas iman setiap individu.
Melalui pengendalian diri yang ketat, seorang Muslim diajak untuk kembali pada fitrah kemanusiaan yang bersih dan penuh kasih sayang dalam menjalankan perintah Tuhan semesta alam.
Kehadiran bulan Ramadan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia dianggap oleh anggota DPD- MPR RI ini sebagai waktu yang tepat untuk mempertebal nilai-nilai toleransi.
Baginya, semangat berpuasa mengajarkan empati terhadap sesama, terutama mereka yang hidup dalam kekurangan, sehingga menumbuhkan rasa kepedulian sosial yang tinggi.
Toleransi yang lahir dari pemahaman spiritual ini akan menjadi fondasi kokoh bagi kerukunan antarumat beragama di Indonesia, di mana rasa hormat menjadi bahasa utama dalam pergaulan sehari-hari yang sangat damai.
Dalam refleksi Ramadan kali ini, Maya Rumantir mengenang kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh ayah angkatnya, ulama besar, mantan Gubernur sekaligus sastrawan kebanggaan Aceh, Prof.Meneladani Gus Dur dan Prof. Ali Hasjmy, Maya Rumantir Ajak Umat Pererat Tenun Kebangsaan” Dr. H. Teuku Muhammad Ali Hasjmy.
Hubungan emosional yang melampaui batas keyakinan ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Almarhum Prof. Ali Hasjmy senantiasa menanamkan pentingnya menjaga harmoni dan persaudaraan kemanusiaan di atas tanah air Indonesia, nilai yang terus dipegang teguh olehnya dalam menjalankan tugasnya sebagai senator, wakil rakyat.
Selain pengaruh dari Aceh, semangat pluralisme dalam diri Maya Rumantir juga diperkuat oleh kedekatan historisnya dengan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), Sang Bapak Pluralisme Indonesia.
Baginya, Gus Dur bukan sekadar tokoh bangsa, melainkan guru bangsa yang mengajarkan bahwa memanusiakan manusia adalah bentuk tertinggi dari pengabdian kepada Tuhan.
Semangat Gus Dur yang inklusif inilah yang menginspirasinya untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai jembatan silaturahmi tanpa sekat, merangkul semua perbedaan demi keutuhan bangsa.
Keteladanan dari kedua tokoh besar, Prof. Ali Hasjmy dan Gus Dur, sangat memengaruhi pandangan hidup ibu dari Kiara Hutasoit ini dalam melihat Indonesia sebagai rumah besar yang beragam.
Kedekatan dengan tokoh-tokoh Islam terkemuka ini membuktikan bahwa moderasi beragama adalah kunci utama kedamaian nasional.
Pesan inilah yang ingin beliau bagikan kepada masyarakat, bahwa bulan puasa adalah kesempatan emas untuk mempraktikkan kasih sayang secara nyata, sebagaimana yang dicontohkan oleh para pendahulu bangsa kita dalam menjaga kerukunan umat.
Senator Maya Rumantir, anak dari Salvatore Rumantir dan Els Brigitta ini menegaskan bahwa cinta bangsa harus tercermin dalam perilaku nyata selama bulan puasa melalui sikap saling menghormati dan menjaga persatuan.
Ibadah ini merupakan manifestasi dari rasa syukur atas kemerdekaan dan keharmonisan yang telah terjaga selama ini di tanah air tercinta.
Dengan menjaga lisan dan perbuatan, umat Islam turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas serta ketenangan nasional, yang merupakan wujud nyata dari pengabdian terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat mulia.
Dalam pandangan akademisnya, penyandang gelar Ph.D. dalam studi Human Resource ini, melihat puasa sebagai sarana detoksifikasi jiwa dari egoisme yang sering memicu perpecahan bangsa.
