Agama dan Pendidikan

Konklaf 2025 dan Kilas Sejarahnya

Pemungutan suara dilaksanakan secara rahasia dan jumlah suara yang dibutuhkan untuk dinyatakan terpilih sebagai Paus adalah dua pertiga dari jumlah pemilih.

Dalam Konklaf ini diperlukan sekurang-kurangnya 89 suara untuk keterpilihan seorang Paus.

Sesudah setiap pemungutan suara maka surat-surat suara dikumpulkan dan dibakar dan apabila seorang Paus belum terpilih maka surat-surat suara akan dibakar dengan dicampur bahan kimia untuk menciptakan asap hitam.

Sebaliknya, jika seorang Paus sudah terpilih dan ia menerima hasilnya, surat-surat suara akan dibakar dengan dicampur bahan kimia untuk menciptakan asap putih, yang menandakan kepada dunia bahwa seorang Paus baru sudah terpilih.

“Sepanjang sejarah, pemilihan Paus pernah berlangsung dalam beberapa jam atau hari atau bulan atau bahkan tahun,” kata Pastor Johanis Mangkey.

Setelah menyatakan kesediaan untuk menerima hasil pemilihan, maka Paus baru akan berali tempat ke sebuah ruangan ke Ruang Ratapan atau Air Mata (Sala di Pianto).

Ruangan ini terletak di dekat Kapel Sistina dan di tempat ini Paus terpilih akan mengenakan pakaian kepausan yang telah tersedia dalam tiga ukuran yaitu S, L dan XL, sesuai perawakannya.

Di ruang ini, Paus terpilih akan duduk merenungkan akan tugas dan tanggung jawabnya yang baru untuk menggembalakan 1,4 milyar umat Katolik se-dunia.

Terkait takhta kepausan, dalam sejarahnya tercatat tidak selalu berada di Kota Roma, dimana ada dua periode sejarah Gereja yang cukup signifikan saat Paus tinggal dan memerintah dari luar Kota Abadi Roma.

Selama 68 tahun pada abad ke-14 (1309 – 1376), para Paus tinggal di Avignon, Perancis, dikarenakan adanya konflik natara kepausan dan monarki Perancis.

Kemudian ada juga Viterbo yang terletak sekitar 145 km di utara Kota Roma, dimana pernah menjadi tempat kedudukan Paus selama 24 tahun (1257 – 1281), dikarenakan adanya konflik besar antara keluarga Guelps dan Ghibellines yang ikut mempengaruhi para Kardinal.

“Untu Konklaf tahun 2024 ini, ktia tunggu saja hasilnya seperti apa. Semoga Roh Kudus menuntun para Kardinal untuk memilih Paus yang baru sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Marilah kita berdoa “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati kami. Curahkanlah Roh-Mu dan semua akan dijadikan lagi, dan baharuilah muka bumi.

(***/Frangki Wullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara