Berita Utama

Kementan RI Duplikasi Pola Bina Petani Kawasan

PT Gunung Mas Agro LestariHasanudin Ibrahim Saat Berada di Tomohon

 

Tompaso – Kementerian Pertanian RI melalui Staf Khusus Hasanudin Ibrahim mengakui bahwa Indonesia membutuhkan pola pembinaan petani yang efektif dan efisien. Keberhasilan menerapkan pola Bina Pertanian Kawasan yang dila Gunung Mas Agro Lestari (GMAL) rupanya dinilai sangat tepat untuk diterapkan di beberapa daerah di Indonesia.

Direktur Utama PT GMAL Pieter Tangka kepada BeritaManado.com, Rabu (26/8/2015) kemarin mengaku sangat bangga bahwa apa yang diterapkan di Minahasa akan berguna bagi petani di Indonesia. Bahkan jiga pola tersebut berhasil juga diterapkan di daerah lain, maka bisa saja pola Bina Petani Kawasan akan menjadi program nasional.

“Pola Bina Petani Kawasan itu sendiri seperti yang sudah pernah saya katakan waktu lalu waktu pencanangan di Desa Lolah Kecamatan Tombariri Timur oleh Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang yaitu dengan menggiring para petani dalam satu kawasan pertanian yang lahannya saling berdekatan. Dalam satu kawasan akan ada satu orang petani yang akan bertindak sebagai koordinator,” kata Tangka.

Disamping adanya koordinator yang dapat mengontrol langsung hasil produksi, pihak perusahan juga dalm hal ini PT GMAL juga akan lebih mudah melakukan pembinaan dan alikasi teknologi pertanian dibandingkan dengan pola kelompok tani yang lahannya saling berjauhan. Untuk komoditi yang akan dibudidayakan adalah Cabe dan Bawang Merah.

Ibrahim yang sendiri yang merupakan mantan Dirjen Hortikultura Kementan RI meninjau langsung kawasan pertanian PT GMAL di dua wilayah yaitu Kota Tomohon dan Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa. Ibrahim juga merupakan penanggung jawab Program Upaya Khusus (Upsus) untuk komoditi Cabe dan Bawang Merah se-Indonesia. (frangkiwullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara