Bolmong Raya

Kami Ragu Maka Kami Berdiam

Bahkan ada konten-konten di media sosial yang berisi kecurigaan wabah ini sengaja disebar oleh sebuah negara dengan tujuan agar dunia membeli peralatan tes, pencegahan, bahkan obat-obatan dari negara tersebut.

Saya juga sempat menonton sebuah akun YouTube (sudah dihapus) yang menyimpulkan bahwa vaksin Anti COVID-19 tidak akan pernah bisa ditemukan jika virusnya tidak dimurnikan, sebab hasil penelitian dari pakar-pakar dunia pasti akan meleset jika objek yang diteliti selalu berubah-ubah.

Bahwa tindakan medis terhadap pasien positif COVID-19 akan selalu keliru karena bukan menyembuhkan, tetapi justru membunuh Exosome yang ada di dalam tubuh pasien.

Tentu saya menyimak dengan sepenuh pemahaman, bahwa argumen yang mendasari konten-konten kritis tersebut juga bernas dan tidak mudah dibantah.

Kemudian saya mengkomparasi dengan apa yang menjadi pegangan saya dan sebagian besar kita, sesuai pesan dan anjuran pemerintahan dunia (PBB) dan Pemerintahan Nasional Indonesia.

Bahwa pandemi ini mengancam seluruh negara, melanda hingga ke sudut dunia. Dan sudah dirumuskan cara sederhana untuk mencegahnya; diam di rumah, keluar rumah untuk hal yang sangat penting, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, mengkonsumsi vitamin, serta selalu memelihara perilaku bersih dan pola hidup sehat.

Namun sekali lagi kami tetap memilih di rumah sebagai gerakan ikhtiar mencegah pandemi, memutus rantai penyebaran COVID-19 yang entah kapan akan berakhir. Dalam keraguan kami untuk keluar rumah, ada sebuah keyakinan, bahwa jika mahluk kecil nan menakutkan ini takkan pernah musnah, dan vaksinnya tak kunjung ditemukan hingga kiamat tiba, maka kehidupan dan peradaban manusia pasti akan menjumpai wujudnya yang baru.

Perilaku kita secara sukarela atau terpaksa, akhirnya akan menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Akan lahir kesepakatan global dalam bentuk regulasi atau konvensi yang harus ditaati bersama.

Opini ini tidak ditujukan untuk siapa pun. Hanya sebuah hasil renungan pribadi.

Dan tidak untuk menahan mereka yang harus bekerja di jalanan, di kebun, atau di luar rumah.

Kondisi serba sulit ini memang harus di hadapi dengan bijak.

Wallahu alam.

Tentu secara moril saya mendukung sahabat saudara yang memang harus bekerja di luar rumah. Terutama Tenaga medis, Polisi, TINI, Aparat Negara yang tergabung dalam Gugus Tugas pencegahan pandemi.

Saya juga masih harus keluar rumah untuk beli bahan makanan, meninjau tempat kerja, dan mengerjakan yang harus dikerjakan.

Namun tentu dengan semangat solidaritas; mencegah dan menjaga agar tidak tertular dan menularkan, adalah bagian dari tanggungjawab kita yang memang harus berada di luar rumah.

(***/Penulis merupakan seniman, kini bertugas sebagai Ketua KPU Bolaang Mongondouw Timur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara