Saat akan diselenggarakan pemakaman, dikirim barang-barang untuk sajian (di kuburan).
Setelah dimakamkan disajikan makanan (untuk upacara penyemayaman itu) sebagai wujud rasa hormat dan laku bakti.
Selanjutnya Nabi Kong Zi bersabda “Orang yang mati itu tidak ikut makan, tapi dari zaman yang paling kuno sampai sekarang hal itu tidak pernah dialpakan.
Maka kecaman terhadap Kesusilaan sajian itu, sesungguhnya adalah kajian yang tidak susila.
Nabi Kong Zi bersabda, “Terhadap orang yang telah mati, apabila memperlakukannya seperti sudah mati, hal itu itu tidak berperi cinta-kasih, oleh karena itu, jangan dilakukan.
Terhadap orang yang sudah mati, apabila memperlakukannya seperti benar-benar masih hidup, hal itu tidak bijaksana, oleh karena itu, janganlah dikerjakan.
Hal yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa orang yang telah meninggal dunia itu tidak makan.
Makna Sajian yang diberikan lebih kepada menunjukkan rasa hormat dan Laku Bakti yang berkaitan dengan kesusilaan.
Sebagaimana tersurat dalam Kitab Lun Yu (Sabda Suci) Jilid II : 5 ; “Pada saat orangtua masih hidup layanilah sesuai dengan kesusilaan, pada saat meninggal dunia makamkanlah sesuai dengan kesusilaan, dan sembahyangilah sesuai dengan kesusilaan”
Ayat suci ini juga tegas menyatakan bahwa seorang umat Khonghucu saat meninggal dunia maka wajib dimakamkan, tapi karena sesuatu dan lain hal, adapula yang dikremasi.
Sebagian keluarga beralasan bahwa mereka sudah bukan lagi beragama Khonghucu dan / atau tidak lagi mempunyai kemampuan untuk merawat makam.
Disaat akhir persembahyangan maka dibakar kertas emas Jin Zhi (kim coa) maupun kertas perak Yin Zhi (gin coa) serta simbol lainnya.
Hal ini merupakan penghormatan dan jelas landasan ajaran agama Khonghucu sebagaimana tersurat dalam Kitab Li Ji (Kitab Catatan Kesusilaan) IIB.I:1.44-45 yang disebut dengan Ming Qi sebutan untuk benda-benda “tiruan” sebagai simbol untuk peralatan sembahyang Leluhur.
Adapun penggunaan simbol-simbol persembahyangan dengan tradisi Ming Qi menurut ajaran agama Khonghucu harus dilakukan secara Kesusilaan.
“Kini, dengan adanya perkembangan jaman di era media sosial, kita bisa melihat penggunaan simbol Ming Qi, banyak yang tidak lagi berlandaskan Kesusilaan,” tandasnya.
Kalau dulunya hanya membakar kertas emas Jin Zi (Kim Coa) maupun kertas perak Yin Zhi (Gin Coa) serta simbol lainnya, semakin aneh saja simbol yang digunakan misalnya dibakar replika mobil dan motor dari kertas bahkan ada yang membakar replika pesawat tempur dan tank peralatan untuk peperangan.
Jelas hal ini telah lari dari makna luhur persembahyangan Qing Ming / Cheng Beng.
Hakekat persembahyangan Q?ng Ming atau Cheng Beng adalah melakukan ziarah ke pekuburan atau makam orangtua dan Leluhur serta saudara kemudian melaksanakan persembahyangan disajikan makanan dan minuman sebagai perwujudan rasa hormat dan laku bakti Xiào.
