
Changwon, Korea Selatan — Delegasi Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan setelah dinobatkan sebagai juara umum dalam Migrant Arirang Multicultural Festival (MAMF) 2025, ajang multikultural terbesar di Korea Selatan yang digelar pada 24–26 Oktober 2025 di Taman Budaya Yongji dan Seongsan Art Hall, Kota Changwon, Provinsi Gyeongnam.
Festival berskala internasional yang diikuti lebih dari 20 negara ini menampilkan serangkaian pertunjukan budaya, parade internasional, pameran wastra, hingga kompetisi kreatif lintas negara.
Delegasi Indonesia tampil menonjol melalui perpaduan seni tari, musik etnik, desain busana, serta pengenalan wastra Nusantara.
Salah satu sosok yang menjadi perhatian dalam keberhasilan ini ialah Coreta Kapojos, penasehat Wastra Indonesia.
Meskipun sempat terkendala berangkat karena paspor yang tertahan, Coreta tetap memainkan peran penting dalam persiapan tim, termasuk penguatan materi edukasi wastra yang kemudian ditampilkan di Korea.
“Sebenarnya saya terjadwal ikut ke MAMF 2025 ini. Karena kendala paspor saya tertahan, akan tetapi saya sangat bangga atas prestasi kontingen Indonesia, untuk itu patut kita syukuri,” kata Coreta.
Coreta juga menegaskan pentingnya edukasi batik dan wastra yang autentik.
“Banyak hal yang bisa kita lakukan lewat kegiatan wastra, seperti mengenalkan batik Indonesia. Kalau yang namanya batik itu ya dibatik, tapi kalau printing itu bukan batik, tapi baju bercorak batik,” jelas Coreta.
Dedikasinya dalam memperjuangkan nilai budaya Nusantara turut menginspirasi para peserta yang tampil langsung di MAMF 2025.
Usai pengumuman hasil festival, seluruh tim Indonesia menggelar acara syukuran di Restoran Wing Lok, Bintaro, pada Rabu (12/11/2025).
Acara berlangsung hangat, penuh rasa bangga dan kebersamaan.
Coreta Kapojos hadir dan menjadi salah satu sosok yang paling disorot sebagai penggerak edukasi wastra yang konsisten.
Pertemuan ini juga menjadi ruang refleksi bagi para peserta yang telah berjuang dalam persiapan panjang sebelum tampil di Korea Selatan.
Kehadiran tim pendukung, termasuk keluarga dan mitra budaya, semakin melengkapi suasana sukacita.
Kemenangan Indonesia tidak hanya diukur lewat trofi juara umum, tetapi juga dari apresiasi publik internasional atas kekayaan budaya Nusantara.
Bahkan, Indonesia mulai dilirik untuk menjadi tuan rumah MAMF 2026, sebuah peluang besar dalam diplomasi budaya.
Pemimpin delegasi, Meisy Chang, mengungkapkan apresiasinya.
“Saya sangat bangga dan bersyukur atas hasil yang kita raih… kerja keras semua kontingen,” ungkapnya.
