
Jakarta, BeritaManado.com — Dirilisnya data indeks kebahagiaan tahun 2021 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menempatkan Provinsi Sulawesi Utara berada pada urutan kelima setelah Maluku Utara, Kalimantan Utara, Maluku dan Jambi.
Dari data yang dirilis BPS, jika dibandingkan dengan tahun 2017 lalu, indeks kebahagiaan penduduk tahun 2021 meningkat dari 70,69 poin menjadi 71,49 poin pada skala 0-100, dimana 10 peringkat teratas ditempati oleh Provinsi Maluku Utara, Kalimantan Utara, Maluku, Jambi, Sulawesi Utara, Kkepulauan Riau, Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Menariknya, dari sepuluh provinsi teratas indeks kebahagiaan penduduk, terdapat empat provinsi yang merupakan bagian dari Pulau Sulawesi, yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Indeks kebahagiaan penduduk tahun 2021 ini sebagaimana informasi dari BPS, menggunaka metode pengukuran yang baru dengan menjadikan data tahun 2017 sebagai patokan sebagai perbadingan dengan hasil yang diperoleh di tahun 2021 ini.
Dimensi yang digunakan dalam pengukuran indeks kebahagiaan penduduk di tahun 2021 yaitu kepuasan hidup (34,80 persen), perasaan (31,18 persen) dan makna hidup (34,02 persen).
Terkait hal ini, Senator RI Dr Maya Rumantir MA PhD kepada BeritaManado.com mengatakan ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi sebuah keluarga yang dapat dikategorikan sebagai keluarga Bahagia.
“Berdasarkan pengamatan saya, kebahagiaan itu dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya sejauh mana anggota keluarga memiliki sikap saling menghormati, rendah hati, relasi yang akrab, keterbukaan dan lain sebagainya. Selain itu keadaan ekonomi yang sehat juga cukup berpengaruh terhadap kebahagiaan keluarga,” ungkap Senator Maya Rumantir.
Diakuinya, memang secara pasti, kebahagiaan sebuah keluarga tidak akans ama dengan keluarga yang lain, tapi setidaknya jika pengalaman hidup keluarga didasarkan pada nilai-nilai keagamaan, maka hal itu diyakini dapat turut menentukan kebagiaan sebuah keluarga.
Pada bagian lain, kebahagiaan dalam keluarga juga turut ditentukan oleh sejauh mana kondisi serupa terjadi pada level kelompok masyarakat.
“Jika dalam satu kelompok masyarakat terdapat keluarga Bahagia yang mendominasi populasi penduduk, maka itu akan mempengaruhi dalam skala lebih besar. Bagi saya, Keluarga Bahagia itu juga adalah keluarga yang anggota-anggotanya mampu menerima kenyataan hidup, baik suka maupun duka. Ini sesuai dengan nilai-nilai Kristen yang terdapat dalam Firman Tuhan,” tandasnya.
(Frangki Wullur)
