Nasional

Flashback Peringatan 80 Tahun Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946

Flashback Peringatan 80 Tahun Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946
Mayjen TNI Rano Tilaar

Magelang, BeritaManado.com – Kesibukan sebagai Gubernur Akademi Militer (AKMIL) Mayjen TNI Rano Tilaar bukan berarti tidak bisa ambil bagian dalam kegiatan lain, apalagi di luar wilayah tugas.

Kamis (12/2/2026) lalu, Mayjen Rano Tilaar menjadi salah satu pembicara dalam acara Zoom Meeting yang mengangkat topik “Makna Peringatan 80 Tahun Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado Sulawesi Utara”.

Kepada BeritaManado.com, Jumat (27/2/2026), Mayjen Rano Tilaar mengatakan bahwa Peristiwa Merah Putih tersebut bukan sekedar untuk diingat, namun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat nasionalisme.

Dikatakannya, tujuan dalam mempelajari sejarah perjuangan yaitu untuk mendapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa bersejarah itu.

Beberapa hari sebelum Valentine Day di tahun 1946 tepatnya 9 Februari 1946 diadakan pesta ulang tahun  di sebuah rumah milik dari Servius Dumais Wuisan yang merupakan  seorang kepala keluarga yang dikenal dengan panggilan “Mais” Wuisan.

Hajatan tersebut ternyata hanya merupakan sebuah skenario untuk mengelabui aparat Belanda.

Di Sualwesi Utara sendiri, pesta telah menjadi tradisi umum sehingga acara kumpul-kumpul di rumah Mais Wuisan tidak membuat pihak Belanda dalam hal ini para petinggi NICAdi Manado merasa curiga.

Pertemuan dengan nama sandi “Merdeka” itu dipimpin oleh Charles Taulu, dimana pertemuan tersebut memutuskan untuk melakukan aksi pada pukul 3.00 WITA dinihari di tanggal 14 Februari 1946.

Saat pesta ulang tahun tersebut selesai, peserta rapat telah menyepakati untuk menduduki Tangsi Militer Belanda di Manado (Teling) sebagai simbol perlawanan terhadap pendudukan kembali Indonesia oleh Belanda.

Saat akan melakukan aksi, rencana rahasia itu ternyata sampai juga ke pihak Belanda, sehingga pada 10 Februari 1946, Wuisan dan Taulu serta beberapa orang lainnya tertangkap oleh Polisi Militer Belanda.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan keinginan dari para pejuang, dimana Kopral Mambu Runtukahu dan delapan anggota Kompi VII membawa bedil kosong yang cukup untuk menakuti penjaga gudang senjata dan sel tahanan yang dihuni Taulu dan Wuisan.

Tidak hanya di Manado, pergerakan serupa juga ternyata menyasar wilayah Kota Tomohon saat ini yang dipimpin oleh Freddy Lumanauw dan Sersan Frans Bisman yang membawa Dua Peleton KNIL Revolusioner untuk merebut wilayah Tomohon yang saat ini terkenal dengan pasar Beriman dengan menggunakan kendaraan Jip.

Dari aksi tersebut, sejumlah orang Belanda ditahan oleh Anggota KNIL bersama para pemuda sipil dan momentum ini menjadi simbol kesuksesan dalam perebutan kembali kekuasaan dari pihak Belanda.

“Peristiwa ini ditandai dengan pengibaran kembali Bendera Merah Putih, sekaligus menegaskan bawha orang Sulawesi Utara di awal kemerdekaan sudah mendukung berdirinya Republik Indonesia,” katanya.

Rencana ‘kudeta’ tersebut berhasil mengokohkan eksistensi Kawanua di luar daerah dan menunjukkan kepada etnis lain bawha Minahasa bukan antek Belanda dan membantah bahwa orang Minahasa termasuk yang pro-Belanda.

Setelah peristiwa itu makadibentuklah organisasi Tentara Rakyat Indonesia Sulawesi Utara (TRISU) untuk mengambil alih otoritas kekuasaan, dimana sebagai Panglima saat itu yaitu Kapten KNIL Jan KNIL Jan Kaseger namun ia menolak dan digantikan oleh Taulu sedangkan Wuisan wakilnya yang berpangkat Mayor TRISU.

Pada akhirnya, momentum tersebut saat ini diperingati sebagai Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946.

(Frangki Wullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara